
Sutradara: Ifa Isfansyah
Aktor/aktris: Prisia Nasution (Srintil), Oka Antara (Rasus), Slamet Rahardjo (Dukun Ronggeng), Lukman Sardi (Bakar), Tio Pakusadewo (Sersan)
Tempat/waktu nonton: Bioskop/ November
**Bukan, ini bukan film tarian sampah seperti arwah goyang karawang atau pocong mandi goyang pinggul. Jangan takut, baca dulu lalu tontonlah.**
Film Sang Penari bekisah tentang kisah cinta Srintil dan Rasus, dua anak muda dari Desa Dukuh Paruk, dengan latar belakang budaya daerah dan rezim komunisme. Srintil, yang sejak kecil ingin menari ronggeng, akhirnya mengetahui kewajiban dan tanggung jawabnya setelah berhasil menjadi penari ronggeng. Rasus, teman Srintil sedari kecil, tidak menyukai Srintil menjadi penari ronggeng dan memilih pergi dari desa untuk menjadi seorang tentara.
Disisi lain, ada seorang pemuda termodernisasi bernama Bakar yang mempunyai tujuan untuk ‘memerahkan’* Dukuh Paruk. Seluruh warga desa yang buta aksara pun tanpa sadar sudah ‘dimerahkan’. Ketika TNI melakukan pembasmian terhadap oknum-oknum PKI, Dukuh Paruk pun terkena imbasnya. Mengetahui hal itu, Rasus pun langsung mencari keberadaan Srintil.
Ada tiga hal yang saya cermati di film ini. Pertama tentu jelas ceritanya, yang terinspirasi dari novel karya Ahmad Tohari yang berjudul Ronggeng Dukuh Paruk. Balutan drama percintaan dengan latar waktu bersejarah memang tidak pernah tidak menarik. Tidak percaya? Lihat saja Casablanca, Atonement, Titanic, atau produksi dalam negeri, Ruma Maida dan Tanda Tanya. Selain itu, cerita ini juga memasukkan unsur budaya, mulai dari tarian ronggeng, bakar sesajen, sampai adat buka kelambu. Paduan dua unsur tersebut dapat menyutikkan steroid pada sebuah kisah cinta sederhana, membuat seluruh jalinan cerita berjalan rumit dan mengharukan. Luar biasa! Salut untuk Salman Aristo, Ifa Isfansyah dan Shanty Harmayn, trio maut penulis skenario.
Hal kedua adalah sinematografi, dan artistik. Berkali-kali saya berdecak kagum mengganggu penonton di sebelah saya hanya karena sudut pengambilan gambar yang dramatis ditambah lokasi menarik yang entah ada dimana. Kalau ditanya adegan mana yang paling dramatis saya tidak bisa menjawab, yang pasti salah duanya adalah adegan terakhir dan ketika Rasus kecil melihat hiruk pikuk warga desa (memperlihatkan banyaknya kaki yang berlarian dan muka Rasus yang sedih pada satu frame). Kalau dari segi lokasi tentu favorit saya adalah bunker dan rel kereta.
Akting adalah hal ketiga, tetapi tidak berarti urutan ketiga. Banyaknya pemain film berkualitas di film ini membat saya tidak perlu menceritakan semuanya, hanya dua pemain utama saja. Menurut saya, Oka Antara sudah berhasil memerankan pria lugu bermata sayu dengan logat jawa yang kental. Wajar saja karena dia sudah lama berlalu-lalang di perfilman Indonesia. Yang membuat saya jungkir balik adalah Prisia Nasution. Awalnya saya ragu karena dia adalah pemain ftv, yang bisa dibilang hanya membutuhkan kemampuan akting yang standar, tapi ternyata dia bisa membuktikan kalau kemampuan aktingnya memang jauh dari kata itu. Jika ditanya apa perannya di film ini maka saya akan menjawab nakhoda kapal. Berperan sebagai penari ronggeng yang tersiksa karena kewajibannya serta seseorang yang menginginkan cinta dan merindukan kekasihnya, ekspresi dan aktingnya berhasil membuat saya ikut tersiksa. Ditambah kehebatannya untuk berakting ketika harus telanjang dada dan beradegan ranjang, sudah seharusnya dia mendapatkan piala FFI.
Poin tambahan untuk musiknya. Walaupun saya tidak terlalu mengerti, tapi padanan musik tradisional dengan biola menambah kesan haru untuk film ini. Poin tambahan lagi untuk Happy Salma. Sebagai pemeran tamu dia sangat berhasil mencuri atensi penonton selama 10 menit awal.
Kekurangan? Hilangnya sebuah cerita sebelum ending. Cerita yang mengaitkan adegan pada rel kereta dengan pertemuan kembali Rasus dan Srintil. Hal ini membuat pertemuan kembali mereka berdua terlihat sebagai suatu ketidaksengajaan. Namun terlepas dari hilangnya sebuah cerita, ending film ini tetaplah merobek-robek perasaan saya.
Beribu-ribu terimakasih untuk Ifa Isfansyah yang telah menyatukan cerita, sinematografi, artistik, akting, dan musik dalam sebuah film yang telah mempermainkan emosi saya. Membuat saya mengeluarkan kata-kata kasar untuk sebuah pujian. Membuat saya betah menahan kencing selama hampir 2 jam. Serta membuat saya malu karena harus menangis di dalam bioskop (terakhir kali saya menangis di bioskop ketika Mufasa meninggal). Dia berhasil membuat saya berfikir ternyata masih banyak harapan untuk film Indonesia.
*merah: julukan untuk partai komunis (pada jaman itu)