Karigurashi no Arrietty (2010)

Sutradara: Hiromasa Yonebayashi

Pengisi suara: Mirai Shida (Arrietty), Ryunosuke Kamiki (Sho)

Tempat/waktu nonton: film unduhan/ juli

Karigurashi no Arrietty adalah adaptasi ghibli dari novel berjudul Borrowers Arrietty karangan Mary Norton tahun 1955. Tahun 1997 juga pernah dibuat adaptasinya dengan judul The Borrowers. Jaman dulu saya senang sekali menonton film yang dibintangi John Goodman ini, bahkan sampai sekarang masih hapal ceritanya. Sejak tahun lalu mendengar studio ghibli akan mengadaptasi cerita yang sama, saya pun tak sabaran. Pertama karena saya sudah khatam dengan film adaptasi terdahulunya, dan kedua saya adalah penggemar berat ghibli. Oleh karena itu, sayapun sangat berharap banyak akan filmnya sejak awal.

Film ini bercerita tentang Arrietty dan keluarganya. Mereka adalah manusia sekecil jari telunjuk yang suka meminjam barang dan memiliki peraturan tidak boleh terlihat manusia. Suatu saat Arrietty terlihat oleh Sho, anak pemilik rumah, tapi malah berteman dengannya. Karena Haru si pembantu rumah curiga akan tingkah laku Sho, ia pun bertekad membasmi manusia-manusia kecil itu, memaksa Arrietty sekeluarga pindah.

Ternyata cerita film ini agak berbeda dengan apa yang ada pada ekspektasi saya. Di adaptasi terdahulunya, The Borrowers (1997), John Goodman yang ingin menangkap para borrowers dengan seribu cara membuat film anak-anak berdurasi 89 menit ini mengandung hampir 50% adegan aksi yang seru (bagi anak-anak). Tapi film adaptasi ghibli ini tidak banyak adegan aksi, malah lebih banyak drama.

salah satu adegan di film The Borrowers (1997)

Memiliki ekspektasi berbeda bukan berarti saya jadi tidak menyukai filmnya. Saya tetap suka karena film ini lebih menunjukkan hubungan Arrietty dengan Sho. Seperti film-film terdahulunya, ghibli selalu fokus pada hubungan antar manusia (atau antara manusia dengan makhluk lain). Sebagai penyuka film drama dan per-hubung-hubungan, hal ini merupakan kelemahan saya untuk dapat dengan gampangnya menyukai film ini.

Tapi sayangnya kesukaan saya berhenti sampai disitu. Ada dua hal yang saya tidak suka. Yang pertama, film ini tidak aneh. Tidak seperti sebelumnya, film ghibli biasanya memiliki dunia yang berbeda dan aneh, paling jelas terlihat di film Castle in the Sky dan The Cat Returns. Jika dunianya tidak aneh setidaknya ada karakter yang aneh, seperti di film Ponyo, Porco Rosso dan Pom Poko, atau gabungan keduanya seperti Spirited Away (favorit saya! *info penting 2011*), Howl’s Moving Castle dan Totoro. Film Arrietty ini jelas memiliki karakter yang aneh (manusia kecil), tapi sayangnya tidak ada keanehan kelanjutan, dan bahkan tidak ada sama sekali unsur kejutan.

Yang kedua, bagian endingnya. Sebagai orang yang sudah khatam dengan adaptasi sebelumnya, menurut saya bagian ending film ini sedikit menggantung. Ets, sebelum spoiler lebih lanjut dan membuat kalian jadi males nonton, mendingan saya berhenti sampai disini. Intinya sih film ini cukup menarik untuk ditonton apalagi bagi penyuka ghibli lainnya di luar sana. Film ini lebih sederhana dari pendahulunya, tapi setidaknya ceritanya jauh lebih bagus daripada film Tales from Earthsea, yang menurut saya jelek sekali.

Advertisements

Howl (2010)

Sutradara: Rob Epstein dan Jeffrey Friedman.

Aktor/aktris: James Franco (Allen Ginsberg), Todd Rotondi (Jack Kerouac)

Tempat/waktu nonton: Film unduhan/ Maret

Allen Ginsberg adalah seorang sastrawan Amerika era 50an yang  kontroversional. Disamping puisinya, salah satunya Howl, penuh dengan bahasa vulgar yang sulit diinterpretasikan secara langsung, beliau adalah seorang tokoh generasi Beat dan seorang homoseksual. Puisinya, Howl, bercerita tentang kehidupan homoseksualnya dan menyinggung pemerintahan dan industrialisasi. Saking kontroversionalnya, puisinya sempat disidangkan karena masalah interpretasi dan bahasa yang terlalu aneh dan sedikit vulgar.

Film ini memperlihatkan 3 sisi hidup Ginsberg yang dibalut dengan teknik sinematografi yang berbeda-beda. Mulai dari pertama kalinya Howl dibaca di depan umum, kehidupan personalnya, sampai persidangan bukunya. Pada bagian kehidupan personalnya, dengan bergaya documentary-like, diperlihatkan Allen sedang diwawancara dan menceritakan kehidupan homoseksualnya. Ketika membacakan puisinya di depan umum, keluar beberapa visualisasi dari puisi itu yang digambarkan secara animasi. Tentu saja tidak mungkin digambarkan secara nyata karena bahasanya yang vulgar. Dan bagian persidangannya terasa menegangkan, mengingatkan kita kalau film ini sejatinya adalah film drama pada umumnya.

Salah satu animasi pada film ini: visualisasi dari Moloch

Awalnya saya tidak tertarik dengan puisinya, karena kurang mengerti dengan bahasa yang digunakan dan kaget dengan animasi yang terkesan gelap dan aneh. Tapi lama kelamaan saya semakin terbawa dengan alur kehidupan Ginsberg di film ini. Seperti sebuah film drama-biografi sekelas Oscar, saya semakin mengagumi Ginsberg seperti saya mengagumi Oher di film The Blind Side. Bedanya, film ini memiliki karakter homoseksual dan menggunakan teknik sinematografi yang tentu saja membuat jadi lebih menarik dan tidak monoton. Disini saya memberikan standing ovation untuk Rob Epstein dan Jeffrey Friedman yang selain bisa menimbulkan simpati saya pada Ginsberg, juga bisa menelurkan film dengan teknik sinematografi yang cukup unik. Wajar saja kalau film produksi jerman berjudul asli Howl-Das Geheul ini dinominasikan Golden Bear pada Berlinale kemarin.

Bagi kalian yang tertarik dengan puisi/ literatur, biografi, art film, beat generation, dunia LGBT, atau mungkin Moloch, film ini hukumnya wajib tonton. Film ini tidak saya sarankan untuk ditonton oleh semua kalangan, apalagi anak-anak dibawah umur dan homophobic, karena bahasa dan gambar yang mungkin menjijikkan bagi mereka. Line dibawah adalah penggalan Howl yang cukup menarik karena bahasanya yang aneh.

I saw the best minds of my generation destroyed by madness, starving hysterical naked,

dragging themselves through the negro streets at dawn looking for an angry fix,

Angel-headed hipsters burning for the ancient heavenly connection

to the starry dynamo in the machinery of night,

sisi manis Ginsberg

Conviction (2010)

Sutradara: Tony Goldwin

Aktor/ Aktris: Hillay Swank (Betty Anne Waters), Sam Rockwell (Kenny Waters), Minnie Driver (Abra Rice)

Tempat/waktu nonton: Film unduhan/ Januari

Film ini dibuka dengan hening, dimana terlihat banyak bercak darah di sebuah rumah. Awalnya saya sudah mempersiapkan mental untuk adegan-adegan selanjutnya. Tapi ternyata film ini bukan film horror, ini adalah film drama.

Seorang warga tidak bersalah, Kenny Waters, dihukum seumur hidup atas tuduhan pembunuhan. Betty Anne Waters tidak terima atas hukuman yang dijatuhkan kepada kakaknya, dia pun berusaha mencari cara untuk membebaskan kakaknya. Cara yang ditempuh pun berbeda dari yang lain, Betty rela menjadi yang tertua di sekolah hukum demi menjadi pengacara kakaknya. Hampir dua dekade terlewati, semakin banyak halangan bagi Betty untuk membebaskan Kenny.

Tidak ada yang menyangka Betty rela menghabiskan waktu dan kehilangan suaminya demi membebaskan kakaknya. Bahkan saya pun mungkin tidak akan segitunya jika saya menjadi Betty. Tapi cerita di film ini bukan dibuat-buat. Cerita ini diangkat dari kisah nyata. Amazing bukan? Seorang adik yang rela mengorbankan separuh lebih hidupnya untuk sang kakak. Ternyata ada orang seperti itu di dunia ini.

Tidak ada yang perlu diragukan ketika meilhat nama Hillary Swank pada jajaran pengisi perannya. Bahkan dia-lah yang membuat saya menonton film ini. Satu nama lagi yang patut dicermati di film ini adalah Sam Rockwell. Saya pernah menonton filmnya berjudul Moon, dimana ia berperan sebagai astronot yang stress karena kesepian, dan disana ia berhasil membawa saya ikut stress. Selain berhasil berperan sebagai seorang alkoholik dan urakan di film ini, ia juga berhasil menjadi seroang kakak yang penyayang.

Seorang sipil yang melawan arus sistem hukum. Kisah ini mengingatkan kita pada film seperti Changeling, yang juga kisah nyata, dan Law Abiding Citizens. Hal-hal seperti susahnya membela kebenaran hingga parahnya polisi dan pejabat-pejabat hukum adalah suatu klise yang selalu menarik untuk diangkat dan dipaparkan. Namun film berdurasi 107 menit ini tidak hanya memaparkan tentang hal tersebut, melainkan juga mengajarkan kepada penontonnya tentang kasih sayang antara adik dan kakak.

My personal rate: 7/10

Going The Distance (2010)

“sebuah rom-com antiklimaks tentang hubungan jarak-jauh”

Sutradara: Nanette Burstein

Aktor/ Aktris: Drew Barrymore (Erin), Dustin Long (Garrett), Charlie Day (Dan)

Tempat/waktu nonton: Film unduhan/ Januari

Film ini bercerita tentang Long Distance Relationship. Garrett adalah seorang pria yang tidak pernah serius menjalani hubungan, dan Erin adalah seorang wanita yang santai dan easy-going. Suatu saat mereka berdua bertemu, dan menghabiskan waktu bersama-sama sampai Erin kembali ke LA. Sudah nyaman dengan hubungan yang mereka jalani, mereka pun memutuskan untuk LDR.

Film ini bercerita tentang Long Distance Relationship. Saya ulangi kalimat di paragraf diatas, karena ternyata film ini plek-plekan menceritakan tentang kehidupan pria dan wanita yang memiliki hubungan jarak jauh. Film ini tidak lebih hanya memberikan gambaran bagaimana pasangan LDR menjalankan hubungannya dimana rasa rindu, ketidakpercayaan, dan komunikasi adalah santapan sehari-hari. Ceritanya akan membosankan untuk seorang yang tidak punya pacar (sigh). Untungnya ada beberapa bagian yang membuat saya tetap terbangun, seperti adegan phone-sex yang lumayan lucu, yah, setidaknya bisa tertawa.

Satu hal yang saya suka di film ini adalah pemilihan musik dan scoringnya yang menarik. Lagu-lagu asik dari The Cure, The Pretenders, Band of  Skulls, sampai band indie The Boxer Rebellion memberikan sedikit angin segar di film ini, juga memberikan penguatan latar belakang karakter Garrett yang bekerja di dunia musik.

Sayangnya, bagian ending di film ini menurut saya antiklimaks. Saya yang sudah berekspektasi mencapai titik klimaks malah dibuat kecewa ketika menonton 3 menit berlebih dari film ini. Kalau disamakan dengan berhubungan intim, mungkin ini yang namanya hilang mood, semua berantakan jadinya. Apa yang ada di pikiran scriptwriter dan sutradaranya?

Saran saya jangan menonton 3 menit diakhir jika anda ingin mendapatkan titik klimaks. Dan sebagai penutup, film ini ternyata memiliki pesan moral: hanya cocok untuk ditonton pasangan yang akan atau sedang menjalankan hubungan jarak jauh.

My personal rate: 5.5/10

Time Traveler (2010, Live Action) vs. The Girl Who Leapt Through Time (2006, Anime)

Sutradara: Masaka Taniguchi (Live Action), Mamoru Hosoda (Anime)

Aktor (Live Action): Riisa Naka (Akari), Akinobu Nakao (Ryouta), Narumi Yasuda (Kazuko)

Pengisi suara (Anime): Riisa Naka (Makoto), Takuya Ishida (Chiaki), Mitsutaka Itakura (Kousuke)

Tempat/waktu nonton: Film unduhan/ Desember

Berkuliah di jurusan Fisika, saya punya hubungan erat dengan Einstein dan teori relativitasnya (terlalu erat sampai saya mengambil mata kuliahnya 3 kali…). Katanya sih, Time is relative. Kalimat itu membuat saya selalu tertarik dengan cerita perjalanan menembus waktu, sama halnya dengan kedua film ini. Mendengar judulnya saja saya sudah duduk manis di depan layar.

Kedua film ini adalah adaptasi dari novel karangan Yasutaka Tsutsui berjudul asli Toki o Kakeru Shoujo. Film versi live actionnya diputar di INAFFF 2010 kemarin. Tapi kedua film adaptasi ini memiliki jalan cerita yang berbeda, yang sama hanyalah genre (drama, comedy, romance, sci-fi) dan tokoh utama wanita yang bisa melakukan time leap (time travel). Bahkan nama dan tingkah laku tokoh utama wanita nya berbeda.

Time traveler (2010, Live Action) bercerita tentang seorang wanita bernama Akari yang melakukan perjalanan menembus waktu demi menyampaikan pesan ibunya ke seseorang di tahun 1972. Akari melakukan time leap menggunakan obat yang telah diracik oleh ibunya sendiri. Namun karena suatu kesalahan, ia yang seharusnya pergi ke tahun 1972 malah pergi ke tahun 1974. Di tahun 1974, ia bertemu dengan Ryouta dan jatuh cinta kepadanya.

The Girl Who Leapt Through Time (2006, Anime) bercerita tentang seorang anak SMA bernama Makoto. Ia tidak sengaja menemukan sesuatu di laboratorium sekolahnya yang menyebabkan ia dapat melakukan time leap. Makoto yang periang mulai keasyikan mengubah jalan hidupnya dengan cara time leap tanpa peduli akibatnya pada orang lain, apalagi pada Chiaki, sahabatnya yang telah menyatakan cinta kepadanya.

Mari kita mulai membandingkan.

Tokoh: Akari cantik, periang, berambut panjang, baru lulus SMA dan sangat sayang pada ibunya (oleh karena itu ia melakukan time leap). Makoto tomboy, periang, bodoh, berambut pendek, memiliki 2 sahabat pria dan suka bermain-main (oleh karena itu dia bolak-balik melakukan time leap). Kedua tokoh diatas benar-benar berlawanan, namun karakternya berhasil membangun cerita di masing-masing film. Nilainya seri.

Cerita: Saya, yang sudah lebih dulu menonton animenya, kecewa dengan jalan cerita live actionnya. Tadinya saya mengharapkan banyaknya aksi time leap seperti di film animenya, tapi ternyata hanya satu kali. Banyaknya aksi time leap membuat film animenya lebih seru dibandingkan dengan live actionnya. Ditambah tokoh utamanya sering berlaku bodoh, membuat animenya makin seru dan kocak untuk ditonton. Pemenangnya? Anime.

Time Leap: Tidak hanya tokoh dan cerita, cara kedua tokoh melakukan time leap di film ini pun berbeda. Makoto menggunakan suatu barang yang ditemukannya di lab, yang ternyata adalah sebuah barang dari masa depan. Sedangkan Akari meminum obat buatan ibunya. Menurut saya, obat untuk time traveling sama saja dengan obat awet muda, sangat tidak masuk akal. Masih masuk akal kalau saja Akari bertemu dengan Doraemon lalu meminjam mesin waktu. Pemenangnya? Sudah jelas bukan.

Jatuh ke lubang waktu

Efek Visual: Bagian yang (seharusnya) paling asyik dari film bergenre sci-fi adalah efek visualnya. Saya tidak bisa berkata apa-apa untuk versi animenya, karena sudah penuh dengan efek visual (namanya juga film animasi). Sedangkan untuk versi live actionnya mungkin tidak sebaik transformer, tapi efeknya saya hargai untuk sebuah film komedi, hitung-hitung tambahan bahan tertawa. Kali ini nilainya seri, karena tidak mungkin dinilai berdasarkan ini.

Dan pemenangnya adalah…. *drum roll* versi Anime. Oleh karena itu saya menyarankan anda untuk menonton versi animenya terlebih dahulu dibanding live actionnya (atau tidak perlu menonton live actionnya juga tidak apa-apa). Mengutip kata teman saya, yang menarik dari live actionnya adalah versi real dari rok mini. Nah, kalau inisiasi anda untuk menonton film ini adalah rok mini, maka menonton live actionnya adalah hal yang menarik. Jadi, selamat menonton!

Satu-satunya hal yang mirip di film ini (LOL)

My personal rate: 6 vs. 8

Four Lions (2010)

**SARA ALERT! (film ini mengandung unsur SARA)**

Sutradara: Christoper Morris

Aktor/aktris: Kayvan Novak (Waj), Riz Ahmed (Omar), Nigel Lindsay (Barry), Adeel Akhtar (Faisal)

Tempat/waktu nonton: Film unduhan/ desember

“What, man? Just cos I’m Muslim, you thought it was real?” – Hassan, carrying a fake bomb.

Islam dan terrorism adalah dua hal yang entah kenapa susah dipisahkan. Saya sudah menunggu film ini lama sejak saya membaca artikelnya di web. Yang membuat saya tertarik tentu saja dua hal yang susah dipisahkan itu. Kenapa? Tentu saja jawabannya mudah, karena ingin mengetahui pendapat orang luar mengenai agama saya, kepercayaan yang entah kenapa dipercaya sebagai biang aksi terrorism.

Film ini bercerita tentang 4 orang muslim keturunan Arab (atau Pakistan atau Turki atau apapun itu anggap saja Arab) yang tinggal di Inggris. Mereka mempunyai impian untuk menjadi mujahidin (martyr, mati sahid). Mereka hanya sekumpulan orang yang ingin berjihad dan mereka tidak pintar. Mereka melakukan banyak cara untuk menjadi jihad mulai dari menjadi prajurit perang, sampai menjadi teroris dan membuat bom. Tapi tentu saja, karena mereka tidak pintar, banyak kebodohan yang mereka lakukan.

Menurut saya, Four Lions adalah suatu bentuk black comedy yang unik. Film ini bagaikan double-sided sword, kalau anda menontonnya anda mungkin entah akan marah atau tertawa. Hal itu tergantung bagaimana anda mencerna ceritanya. Saya? Saya tertawa. Saya belum pernah tertawa begitu lepas menyaksikan film bergenre serupa. Mungkin saya terlalu serius dengan isu yang diangkat pada film bergenre serupa, maka yang keluar hanya tawa serius. Tapi kali ini sensasinya lebih dari minum teh bersoda itu. Entah karena memang leluconnya kelewat bodoh, atau karena saya mengerti betul isu yang diangkat.

“Look, the way to stop the Federals tracking you is simple. You eat your SIM card.” – Barry.

Leluconnya kelewat bodoh. Bisa dilihat dari sinopsisnya, mereka tidak pintar dan mereka ingin berjihad menggunakan cara-cara seperti itu. Bisa dibayangkan sendiri kan? Pasti banyak adegan dan dialog slapstick nan bodoh yang ada di film ini. Kasihanilah saya, menertawakan saudara sendiri. Tapi mereka kelewat bodoh saya tidak mungkin tidak tertawa. Sesuai yang saya bilang diatas, film ini unik, anda mungkin menganggapnya komedi atau malah terprovokasi. Tapi buat apa susah, ambil positifnya saja.

Mengerti betul isu yang diangkat. Saya bukan seorang yang taat beribadah, tapi saya mengerti betapa sucinya ber-jihad. Tapi tentu saja tidak dengan hal-hal bodoh yang bahkan tidak ada di kitab suci. Saya bukan Aa Gym atau Mama Dedeh yang berhak memberi kultum, tapi ya lihat saja fakta banyaknya aksi terorisme di dunia. Dan fakta yang selalu meresahkan saya ini, membuat saya semakin tertawa lebar menonton film ini.

Black comedy unik, double-sided sword, slapstick, SARA, dan provokasi. Banyak kata untuk mendeskripsikan film ini. Kata-kata diatas pula adalah saran dari saya untuk anda yang ingin menonton film ini. Perlu diingat, film hanyalah media visual untuk menyampaikan pesan, apapun pesan itu, pastikan untuk mengambil sisi positifnya. (perlu diingat pula ini adalah kali pertama saya menulis kalimat bijak..…. :p) Selamat menonton! Oiya, film ini diambil dengan teknik shaky-cam mirip dengan film dokumenter, siap-siap bagi anda yang kurang suka dengan pengambilan gambar dengan cara ini.

My personal rate: 8/10

Easy A (2010)


Sutradara: Will Gluck

Aktor/aktris: Emma Stone (Olive), Amanda Bynes (Marianne), Thomas Haden Church (Mr. Griffith), Stanley Tucci (Olive’s Dad)

Tempat/waktu nonton: Film unduhan/ desember

Saya telah mendownload beberapa film ringan untuk ditonton ketika liburan. Namanya juga liburan, saya ingin bermalas-malasan. Begitu pula dengan otak saya, kasihan dia sudah berputar terlalu keras ketika ujian. Salah satu film yang saya download adalah easy-A, because I think it’s easy enough, sesuai dengan cover filmnya yang bertema high school. Hey, film bertema American high school pasti ringan dan menghibur.

Film ini bercerita tentang Olive, seorang cewek looser di sekolahnya (as always, looser rules!). Suatu hari Olive membohongi temannya, mengaku sudah hilang keperawanan. Rumor pun beredar lebih cepat dari pada angin, satu sekolah tahu Olive sudah tidak perawan. Seketika menjadi populer, Olive tidak mau rahasianya terungkap, ia memilih terus berbohong.

Film ini mungkin tipikal film klise high school lain dimana ada seorang looser yang mendadak populer. Yap, high school adalah tempat dimana anda akan melakukan segalanya untuk menjadi populer. Tapi yang paling menarik di film ini adalah caranya. Berbohong. Dan kebohongan-kebohongan yang terus berlanjut karena Olive harus menutupi kebohongan di awalnya. Brilian bukan? Ceritanya membuat saya mau merental otak scriptwriternya.

Menurut saya, film ini berhasil menjadi film bertema high school terbaik (yang pernah saya tonton). Ceritanya, dialognya, leluconnya, karakternya, sampai aktingnya bisa dibilang sangat high school. Tema virginity dan seorang karakter looser bukan yang pertama diangkat untuk film serupa, tidak jika itu adalah tentang seorang karakter looser pintar yang mencoba ‘bermain’ untuk beradaptasi di lingkungan virginity. Yak, adaptasi, high school kental dengan aura adaptasi. Begitu juga adaptasi Emma Stone pada karakter looser pintar yang dimainkannya.

Ah, masa remaja memang masa yang paling indah *menyeruput teh panas* (look who’s talking, hey you’re still 20). Untuk film dengan cerita yang tidak berbobot, film ini saya beri penghargaan menjadi film ringan favorit saya di tahun 2010. Angka 8 mungkin sedikit berlebihan untuk film bergenre ini,bagaimana kalau 7.5? Hmm, tidak ada salahnya karena film ini berhasil menjadi film high school terbaik pertama yang pernah saya tonton sekaligus bisa membuat otak saya fresh setelah jungkir-balik terpingkal-pingkal. Selamat menonton!

My personal rate: 7.5/10