Zodiac (2007); sederhana tapi spesial

zodiac-poster-top

Sutradara: David Fincher

Aktor/aktris: Jack Gyllenhaal (Robert Graysmith), Mark Rufallo (David Toschi), Paul Avery (Robert Downey Jr)

Oke, sebelumnya pasti kalian bingung kenapa saya baru mereview film ini sekarang. Jawabannya adalah, karena saya baru nonton filmnya minggu kemarin!! (Apaaaa?! Kemana aja ini mbak satu..?!) Pertanyaan itu juga saya tanyakan ke diri saya, kemana aja saya selama ini sampai bisa melewatkan film semacam ini?

Film Zodiac, yang diangkat dari novel non-fiksi berjudul sama, bercerita tentang serial killer bernama Zodiac. Ya, film ini diangkat dari kisah nyata mengenai kasus serial pembunuhan yang terjadi di San Fransisco era 60-70an. Kasus zodiac adalah kasus yang cukup sensasional pada jamannya, karena selain merupakan kasus yang unsolved, pelakunya sendiri rajin mengirimkan surat berisikan cerita pembunuhannya serta kode sandi ke media massa. (hmm, agak narsis juga ya? but it’s a way to get famous though.. :p)

Robert Graysmith –sang tokoh utama yang juga adalah pengarang novel aslinya– adalah mantan pramuka yang bekerja sebagai seorang kartunis di harian The Chronicles. Ia terobsesi dengan zodiac mulai saat pertama ia melihat surat berkode yang diberikan zodiac ke kantornya. Bersama dengan Paul Avery, jurnalis yang ditugaskan khusus meliput kasus ini, setiap hari ia berdiskusi mengenai zodiac. Hingga kasusnya sudah termakan oleh waktu pun dia masih penasaran dengan siapa sebenarnya zodiac. Ia pun –dengan pertolongan dari David Toschi, polisi yang pernah mengerjakan kasus zodiac sebelumnya– mengulang segala pencarian dari awal.

There’s more than one way to lose your life to a killer. Begitulah taglinenya (atau setidaknya itu description yang saya baca di imdb :p). Hal itu yang terjadi pada diri Graysmith. Ia ditinggal istrinya, anak-anaknya, ia bahkan sampai keluar dari pekerjaannya saking terobsesi dengan menemukan zodiac. Seakan-akan zodiac telah mengambil hidupnya, walaupun tidak dengan membunuhnya.

Jack Gyllenhaal berhasil menuntun penontonnya untuk setia mengikuti jalan pikiran Robert Graysmith

Jack Gyllenhaal berhasil menuntun penontonnya untuk setia mengikuti jalan pikiran Robert Graysmith

Sedikit trivia sebelum masuk ke menu utama. Ada yang menarik dari proses pembuatan film ini. David Fincher and screenwriternya, Vanderbilt, menghabiskan berbulan-bulan untuk mempelajari kasus ini dan menambahkan beberapa detail ke dalam script nya. Mungkin karena ini merupakan misteri yang unsolved, mereka  tidak mau berspekulasi dan memberikan penonton jawaban apa adanya. Sampai-sampai untuk urusan hal ini, mereka menggunakan jasa ahli forensik tersendiri.

Masuk ke menu utama, menurut saya film ini underrated ya, nasibnya hampir mirip seperti The Prestige. Karena dari satu sisi memang mungkin ini bukan karya terbaik Fincher, jika dilihat dari karya sebelumnya dengan genre serupa namun dengan cerita yang lebih menyesatkan otak dan packaging (visualisasi, efek, dan aktor) yang lebih menarik. Jadi wajar saja orang-orang yang sudah terbiasa dengan Fight Club atau Se7en menganggap film ini tidak menarik (saya pun awalnya menganggap film ini tidak menarik dari segi posternya hehe..). Apalagi rilisnya di tahun 2007 hampir bertepatan dengan rilis 300, yang pada kala itu merajai box office America.

Namun terlepas dari karya-karya sebelumnya, menurut saya film ini sukses sebagai film true story-mistery-crime karena menurut saya disini Fincher berhasil membuat tingkat ketertarikan saya dengan plotnya bertambah seiring waktu. Saya suka bagaimana dia terus membangkitkan rasa curiosity saya dengan penyusunan puzzle-puzzle di dalam plot yang turut membuat saya berpikir. Saya suka bagaimana dia mengusik saya sepanjang film dengan pembangunan suasana tensing, yang kadang membuat saya lupa bernafas. Karena disanalah ciri khas Fincher berada. Hal ini yang membuat zodiac terasa berbeda dari film true story-mistery-crime lain yang pernah saya tonton sebelumnya, yang kadar boringnya kadang tidak terdeskripsikan.

Zodiac tidak lepas dari bayang-bayang pendahulunya

Zodiac tidak lepas dari bayang-bayang pendahulunya

Walaupun tidak se-menyesatkan Se7en atau seseru Fight Club yang sampai menjadi cult. Zodiac bisa saya kategorikan sebagai film yang sederhana tapi spesial. Zodiac sederhana karena bisa dibilang film ini berada ditengah-tengah, atau malah bisa menjadi penengah bagi anda yang tidak begitu suka dengan sport jantung berlebihan atau tidak kuat dengan kadar gory yang cukup tinggi. Namun ia tetap spesial karena Fincher sukses menggabungkan beberapa unsur penting seperti di film pendahulunya (seperti yang sudah dijelaskan di paragraph sebelumnya, walau dengan presentase yang berbeda). Makanya menurut saya film ini hampir sama seperti The Prestige yang juga sederhana-spesial jika disandingkan dengan karya Nolan lain (sederhana karena plotnya lebih mudah dibanding pendahulunya memento atau kalah pamor dengan trilogy Batman yang kala itu sedang hangat dibicarakan, namun tetap spesial karena sebenarnya merupakan film dengan banyak twist yang membekas di otak). Menurut saya justru di film-film seperti inilah anda bisa melihat gaya, karakter dan konsistensi dari seorang sutradara. Mungkin karena film true-story sederhana-spesial inilah yang Fincher akhirnya didapuk menyutradarai The Social Network (yang berakhir sangat sukses!).

Life of Pi (2012); menutup tahun dengan sempurna

lop1

Sutradara: Ang Lee

Aktor/aktris: Suraj Sharma (Pi Patel), Irrfan Khan (Adult Pi Patel), Adil Hussain (Satosh Patel), Rafe Spall (writer)

Siapa sih yang nggak menunggu-nunggu bulan desember 2012? Loh, emang kenapa? Karena banyak sekali film bagus yang rilis di bulan ini, salah satu yang saya tunggu adalah Life of Pi. Walaupun bukan pembaca novelnya, saya sudah berekspestasi kalau film ini akan bagus, kenapa? Trailernya penuh warna! Well at least kalau saya nggak suka jalan ceritanya, saya bisa terkesima dengan warna ajaib yang keluar dari filmnya ya nggak? (pembenaran, padahal emang orangnya gampang ditipu..)

Sama dengan judulnya, film Life of Pi berkisah tentang kehidupan Pi Patel (hmm, gak jauh-jauh ya dari judulnya). Layaknya sebuah biopic, film dibuka dengan kedatangan seorang penulis ke rumah Pi Patel dewasa. Penulis tersebut menanyakan cerita kehidupannya yang katanya sangat menakjubkan, kemudian Pi dewasa pun mulai bernarasi.

Pi Patel adalah anak dari seorang pemilik kebun binatang di India. Dibesarkan di keluarga India modern yang tidak berpegang pada sebuah kepercayaan, Pi kecil penasaran dan mencoba hampir semua agama. Suatu hari ayahnya memutuskan untuk pindah ke Kanada bersama dengan keluarga dan hewan-hewan di kebun binatangnya. Namun naas, kapal laut yang mereka tumpangi akhirnya tenggelam dan hanya Pi seorang yang selamat dengan naik sekoci. Ternyata ia tidak seorang diri di sekoci tersebut, ia ditemani oleh seekor zebra, hyena, orangutan, dan macan Bengal bernama Richard Parker.

Perjalanan Pi Patel mengarungi samudra menjadi sebagian besar isi di film ini. Saya memprediksikan flow filmnya akan turun disini, karena cerita dan tempatnya akan monoton, di tengah laut. Biasanya, jika sudah merasakan flow seperti ini saya akan cepat mengantuk. Tapi hal itu tidak terjadi, malahan untuk berkedip pun rasanya mustahil. Mata saya seperti ditelanjangi oleh permainan visual di film ini, disetubuhi oleh warna-warna indah yang bisa membuat jantung berdegup kencang. Ah, peduli setan kalau ini hanyalah grafis komputer, pikir saya. Sensasinya seperti surga. Sepanjang tengah film pun saya berteriak dengan penuh gairah. (heh, ini nulis review apa bikin cerita bokep sih?)

Kembali ke visualisasi. Dulunya cuma ada 1 visual film yang bisa membuat mata saya yang sipit ini melotot dan membuat mulut saya berdecak kagum setiap detiknya, yaitu The Fall. Sekarang The Fall tidak lagi sendirian, film ini menemaninya. Bedanya, The Fall memang sebuah film dengan landscape asli yang nyaris tidak menggunakan efek CGI. Walaupun efek visual The Life of Pi hampir semuanya full CGI (bahkan sampai hewannya juga), tapi grafisnya sangat mulus dan rapi sehingga terlihat begitu nyata. Dan saya pun beruntung memilih menonton film ini dalam format 3D (sayang, pas nonton layar bioskop nya agak kecil, pasti bakal lebih maksimal kalau di imax).

lop2

Ekspektasi saya diawal benar, mata saya sudah terkesima dengan visualisasinya. Lalu bagaimana dengan jalan ceritanya? Ceritanya sendiri tidaklah baru, melainkan adaptasi dari sebuah novel karangan Yann Martel yang berjudul sama. Dan untuk sebuah film adaptasi, menurut saya film ini tergolong sempurna. Pertama, karena tidak ada alur cerita yang bolong. Berbagai konfliknya dibungkus dengan manis, sehingga sepanjang film tidak akan muncul pertanyaan “lah kok jadi begini?” atau “kenapa tiba-tiba begitu?”. Kedua, dari segi penyutradaraan. Ketika menonton, saya merasa seperti sedang dituturkan sebuah dongeng yang dapat mengajak saya ikut bermain didalamnya. Ang Lee, yang pernah mendapat award Best Director di Academy Awards untuk film Brokeback Mountain, memang pilihan tepat untuk menyutradarai film ini (untungnya Fox tidak jadi menggunakan jasa M Night Shyamalan, coba kalau dia, pasti filmnya berantakan dan flop di pasaran *negative thinking*).

Selanjutnya, yang ketiga, adalah bagaimana film ini membuat penontonnya berfikir. Menurut saya banyak analogi pada cerita ini, mulai dari kepercayaan akan adanya Tuhan, agama yang universal, takdir, sampai analogi antara manusia dan binatang. Saya tidak tahu bagaimana penggambaran di novelnya, tapi semuanya terpapar jelas di filmnya. Dan keempat, sentuhan moral yang saya dapat. Jika diamati dengan seksama, film ini mengajarkan kita tentang ‘hidup’, misalnya tentang cinta, perpisahan, keraguan, move on, dan sebagainya. Oiya, di film ini juga banyak quotes yang menarik tentang kehidupan.

In the end, saya keluar bioskop dengan perasaan hangat dan senyuman puas. Juga mata yang masih terkesima dengan keindahan visualnya. Menurut saya film ini adalah salah satu film terbaik di 2012 dan dapat menutup tahun 2012 dengan sempurna. Loh kan 2012 belum habis? Ya benar, film yang rilis di bulan desember masih banyak, tapi saya yakin tidak ada yang memberikan keindahan selengkap ini. Tentu saja saya sangat merekomendasikan film ini untuk kalian tonton. Bukan! saya memaksa kalian untuk menontonnya! Dan jangan lupa untuk nonton yang 3D!

All of life is an act of letting go but what hurts the most is not taking a moment to say goodbye.” – Pi Patel

lop3

This Must Be the Place (2011); hanya untuk penggemar Sean Penn

Sutradara: Paolo Sorrentino

Aktor/aktris: Sean Penn (Cheyenne), Frances McDormand (Jane), Mary (Eve Hewson)

Cheyenne adalah seorang mantan vokalis band rock yang sekarang hidup di Dublin. Kematian ayahnya membuat dia harus pergi ke New York. Disana ia mengetahui bahwa ayahnya mempunyai keinginan untuk menemukan Aloise Lange, seorang Nazi yang pernah mempermalukannya di kamp (ya, ayahnya Jew). Walaupun Cheyenne sudah lama tidak berbicara dengan ayahnya, ia memutuskan untuk mencari Aloise Lange yang berada entah dimana di Amerika.

Pada 30 menit pertama film kita diperkenalkan dengan karakter Cheyenne yang sudah bosan dengan kehidupannya pasca pensiun. Ia mencoba menghabiskan waktu dengan berbelanja, mencoba bermain saham, sampai bermain squash dengan istrinya Jane. Cheyenne, yang masih memakai make-up gothic layaknya mau pentas, pun mencoba menjodohkan Mary, seorang fan girl, dengan Desmond yang sama sekali tidak mengerti musik rock.

Harus saya akui filmnya sendiri secara keseluruhan tidak begitu bagus. Terlalu dipaksakan dan sedikit mengecewakan. Dengan cerita bertokoh seorang mantan rockstar, saya akan lebih senang jika film ini menceritakan kehidupan Cheyenne pasca pensiun saja (seperti 30 menit awal film tapi diperpanjang). Bumbu perjalanan pencarian orang yang sama sekali tidak memerlukan tokoh mantan rockstar saya rasa mubazir. Apalagi jika melihat hubungan Jew-Nazi di film ini, rasanya hubungan tersebut dihilangkan pun tidak apa-apa. Toh, cerita tidak akan berubah banyak, hanya seorang anak yang membalaskan dendam almarhum ayahnya.

Untuk film yang disebut road movie, film ini justru terlalu sedikit konflik di perjalanannya. Chayenne memang bertemu banyak orang di perjalanannya, banyak percakapan yang terjadi, tapi tidak ada konflik yang maksimal, malah seakan perjalanannya lancar-lancar saja. Terlalu banyak ide dalam fikiran Paolo Sorrentino, sepertinya ingin dia masukkan semua ke dalam filmnya ini. Benar-benar dipaksakan, untung saja dia juga memasukkan unsur komedi. Jujur saja, ketika menonton film ini saya tidak peduli apakah Cheyenne akan berhasil menemukan Lange. Yang membuat saya tetap menontonnya sampai akhir tidak lain adalah Sean Penn.

Waktu saya kecil, saya pernah mengira Sean penn retard beneran gara-gara nonton I am Sam. Mungkin jika saya menonton film ini ketika masih kecil, saya juga akan mengira dia mantan rockstar. Dengan rambut gondrong urakan dan make-up gothic, Sean Penn tampil meyakinkan apalagi ditambah cara jalan dan nada bicaranya yang pelan seperti orang yang sudah capek dengan kegilaan masa mudanya. Seperti menonton reality show Ozzy Osbourne dengan tingkah laku dan punch line yang lucu. Menurut saya, film ini memang hanya bagus ditonton kalau kalian adalah penggemar Sean Penn atau kalian yang ingin melihat Sean Penn bermake-up dan berakting gothic.

Young Adult (2011); a dark cynical comedy about someone who trapped in a fantasy world

Sutradara: Jason Reitman

Aktor/aktris: Charlize Theron (Mavis Gary), Patrick Wilson (Buddy Slade), Patton Oswalt (Matt Freehauf)

Jason Reitman dan Diablo Cody. Mereka lah yang membuat saya tertarik untuk menonton film ini. Setelah sukses melawak di film Jennifer’s Body, Cody bersama dengan Reitman berduet membuat film komedy yang imut, Juno. Setelah Juno, Reitman sukses dengan Up in the air, film yang menurut saya sangat pintar dan entertaining (ada poin plus dari George Clooney tentunya). Oleh karenanya, saya berharap banyak dengan duet maut sutradara-penulis ini untuk kembali membuat lawakan pintar dan membuat hari saya menjadi lebih cerah.

Film Young Adult bercerita tentang Mavis Gary, seorang penulis buku bertema Young Adult, yang pulang kembali ke kotanya. Dia berencana untuk kembali mengambil hati mantan pacarnya ketika SMA yang sudah memiliki istri dan anak, Buddy Slade. Di kotanya Mavis kemudian bertemu dan meminta tolong Matt Freehauf, korban bully ketika mereka satu SMA, untuk membantunya merebut Buddy.

Cerita di film ini terang-terangan mengisahkan seorang dewasa yang terjebak di (atau tidak ingin lepas dari) fase kehidupan muda (remaja). Karakternya, Mavis, digambarkan sebagai seorang yang naif dan egois. Mavis yang dulunya populer di SMA masih ingin meraih kejayaannya, oleh karena itu ia berusaha merebut Buddy kembali. Pertemuannya dengan Matt pun membuat ia semakin lengket dengan kehidupannya dulu ketika SMA.

Tokoh utama yang antagonis jelas semakin memperlihatkan unsur dark comedy di film ini. Belum lagi film ini dibawa dengan sinis dan aura depresi. Tidak ada lawakan yang bisa membuat saya tertawa secara langsung juga ikut membuat saya depresi. Tapi melihat Mavis yang kembali ingin merasakan high-school drama cukup membuat saya tertawa miris, apalagi mengingat Mavis yang berprofesi sebagai penulis buku dengan tema remaja.

Menurut saya, film ini sangat well-scripted (sesuai ekspektasi dari seorang Diablo Cody). Karakter yang kuat membuat jalan cerita semakin meyakinkan. Ditambah beberapa monolog yang menarik dari karakter Mavis, salah satu poin yang saya suka di film ini. Jadi ketika tokoh utama biasanya jatuh lalu bangun dengan kata-kata positif, di film ini justru sebaliknya, tokoh utama bangun dengan kata-kata yang cenderung negatif. Menarik bukan? Belum lagi adanya Charlize Theron yang dapat membawa perannya dengan sangat baik.

“Love conquers all, haven’t you seen The Graduate?” – Mavis (kurang naive apa?)

Overall, menurut saya film ini terlalu depresi untuk duet sutradara-penulis yang selama ini membuat film yang walaupun agak dark tapi lawakannya masih bisa membuat hari cerah. Film ini sama sekali tidak membuat hari saya semakin cerah, malah sebaliknya. Tidak semua orang akan gampang tertarik menonton film ini, oleh karena itu rating IMDbnya agak jelek (tidak seperti Juno yang bisa menjual dengan Michael Cera atau unsur ‘indie’ nya). Tapi untuk orang yang suka dengan dark comedy atau tertarik dengan karakter yang kuat atau penasaran dengan duet Reitman-Cody (seperti saya), tontonlah film ini.

Shame (2011); the title says it all

Sutradara: Steve McQueen

Aktor/aktris: Michael Fassbender (Brandon), Carey Mulligan (Sissy), James Badge Dale (David)

Michael Fassbender & Carey Mulligan. Lagi jaman banget nggak sih mereka berdua? Sejak menunjukkan badannya yang superhot di film 300, kayaknya banyak sutradara yang kecantol (kayaknya disitu deh susuknya). Carrey Mulligan juga sama, bedanya dia tidak berawal dari memakai kancut sparta. Dan karena ingin mengikuti jaman, begitu melihat ada film yang menyatukan mereka berdua tanpa pikir panjang saya langsung ambil dvd nya (tanpa lupa bayar tentunya).

Film Shame bercerita tentang Brandon, seorang pria mid 30s yang cukup sukses dan tinggal di NY. Brandon sangat menyukai sex, bahkan bisa dibilang adiksi, tapi bukan kearah yang salah. Dari real sex sampai online sex, dia bahkan selalu menyempatkan self-pleasing kalau ada waktu. Suatu hari adiknya Sissy tiba-tiba menumpang di apartemennya karena ada masalah. Kehadiran Sissy bisa dibilang cukup mengganggu Brandon, mulai dari tidur dengan bos nya (David), sampai berusaha menghilangkan adiksi kakaknya.

Cerita di film ini mengambil tema yang sangat terpampang jelas di judulnya, shame. Filmnya sendiri menggambarkan (dengan sangat jelas) bagaimana kehidupan seorang sex addict, yang saya yakin cukup banyak tipe orang tersebut di dunia ini. Karakternya, Brandon, digambarkan sebagai orang yang candu dengan adiksinya, tapi di satu sisi dia ingin berhenti. Beberapa adegan memperlihatkan ekspresi Brandon yang sebenarnya sudah jijik dan malas dengan apa yang dilakukannya, seperti muka tanpa ekspresinya ketika dia self-pleasing atau ekspresi sedihnya ketika sedang sex.

Visual yang ditampilkan film ini hampir sama brutalnya dengan film mengenai drug addict, Requiem for a dream. Kalau kalian ingat di film itu betapa dipertunjukkannya cara sang tokoh menghirup atau menyuntikkan narkoba seolah itu adalah video how to juggle, disini kurang lebih sama. Bukan berarti ditunjukkan bagaimana cara berhubungan seksual seperti di film vivid, tapi menggambarkan keadaan yang sama: seorang drug addict, yang disini sex addict, sedang mengatasi adiksinya dengan cara menyuntik/menghirup, yang disini having sex/self-pleasing, dan mereka berjuang mengatasi adiksinya tersebut.

Michael Fassbender berperan apik sebagai seorang yang struggle. Di awal plot dia bisa terlihat keren sebagai pria sukses di NY yang gampang mempick-up wanita, namun di tengah dia menjadi semakin gelap karena terusik dengan kehadiran Sissy dan harus struggling dengan adiksinya. Dan karena menurut saya Carey Mulligan bermain biasa-biasa saja di film ini (apa karena belakangan ini karakternya selalu sebagai orang yang memiliki masalah berat saya juga tidak tahu), Fassbender terlihat semakin outstanding.

Overall, film ini cocok banget buat ditonton apalagi buat kalian yang suka film-film pemenang festival. Oiya, perlu saya ingatkan lagi di film ini banyak menunjukkan nudity dan adegan sex. Sangat wajar dan nggak mengejutkan memang buat film yang bercerita tentang sex addict, tapi cukup mengejutkan buat saya yang menontonnya di tengah hari bolong dengan jendela terbuka lebar. Mmm, cukup shameful sih buat saya kalo keliatan tetangga. Well, as I said before, the title says it all (even for the audience).

We Bought a Zoo

We Bought a Zoo (2011)

Sutradara: Cameron Crowe

Aktor/aktris: Matt Damon (Benjamin Mee), Scarlett Johansson (Kelly), Colin Ford (Dylan), Maggie Elizabeth (Rosie)

Dimana scar-jo tidak tampil seksi, malah sebaliknya.

Berapa dari kalian yang mengidolakan scar-jo? Apalagi sejak kemunculannya sebagai black widow di film iron man/avengers atau skandal foto telanjangnya, pasti banyak dari kalian (terutama pria) yang mengidolakan (atau bahkan memfantasikan) scar-jo. Saya pribadi mengidolakan scar-jo karena menurut saya dia adalah wanita yang pintar menggunakan daya tariknya (coba bayangkan bila dia tidak memiliki sex appeal yang tinggi, pasti dia tidak akan selaku sekarang). Oke, saya mulai berfikiran sempit, mari kita lanjut.

Saya ingat disebuah wawancara (yang sayangnya saya lupa sumbernya darimana) dia pernah menyebutkan kalau dia bosan selalu menampilkan sex-appelnya, dia ingin sebuah peran dimana ia menjadi seseorang yang tidak memiliki daya tarik. Awalnya saya pikir “wow? Bagaimana caranya membuat dia tidak memiliki daya tarik?” dan ternyata jawabannya cukup terpapar di film ini.

We bought a zoo bercerita tentang Benjamin Mee yang baru saja ditinggal istrinya dan harus sendirian mengurus dua anaknya yang masih kecil. Karena ingin melepaskan diri dari bayang-bayang almarhum istrinya, dia membeli sebuah rumah yang juga kebun binatang. Anak perempuannya, Rosie, sangat senang bisa tinggal bersama hewan-hewan, sedangkan anak laki-lakinya, Dylan, semakin benci dengan ayahnya. Disana Benjamin bertemu dengan beberapa staf kebun binatang, dan bersama-sama, mereka kembali merenovasi kebun binatang tersebut.

Lucu, padahal awalnya saya sama sekali tidak tertarik dengan judul film ini (We bought a zoo. So what? Do I look like someone who cares?). Tapi begitu menonton rasa peduli saya perlahan muncul. Film ini lumayan enjoyable dan laughable. Maklum, film keluarga (Halo, siapa sih yang tidak suka film ringan?) dan based on a true story (Siapa sih yang tidak suka true story? Ini yang buat acara Oprah laku). Ya, total sudah dua kelebihan film ini, film keluarga dan true story. Jadi kira-kira nasibnya mungkin bakal 11-12 seperti filmnya Sandra bullock yang menang oscar itu.

nggak sexy sih, tapi tetep aja cantik……..

Dan seperti yang saya bilang tadi, disini Scar-jo tidak seksi tapi tampil sebagai seorang staf kebun binatang yang macho. Anehnya ketika menonton film ini ingatan saya seperti dihapus, saya sampai lupa kalau itu scar-jo, scar-jo yang seksi, yang punya sex-appeal tinggi. Hebat, salut buat scar-jo, aktingnya bisa membuat short memory loss. Kemudian disini ada Elle Fanning yang cukup membuat saya kaget karena berperan sebagai seorang gadis desa yang ceria (dimana di film sebelumnya ia selalu tampak pendiam). Matt Damon? Hmm, semakin lama semakin mirip Mark Wahlberg.

Overall film ini cocok banget buat kalian yang butuh film ringan dan menghibur, apalagi  buat fans nya Scarlett Johansson (buat fans prianya, maaf sekali disini kalian tidak dapat melihat keseksiannya). Mata saya sempat tergenang ketika adegan pertengkaran ayah-anak, mengingatkan saya kalau saya sangat sayang dengan ayah saya (maaf sedikit curhat). Tapi itu fungsi film keluarga bukan? Bukan untuk memamerkan gambaran sebuah keluarga ideal, tapi untuk mengingatkan kita bahwa sebenarnya keluarga kita ideal just the way it is (sekarang malah sok bijak). Jadi, selamat menonton.

Ketika Film Tak Lagi Bisu

Akhir tahun 20an, industri perfilman dikagetkan dengan penemuan seseorang yang dapat memasukkan suara ke dalam film. Kala itu, semua orang tidak percaya dengan apa yang ditontonnya. Mereka merasa ditipu, mengira aktornya ada di belakang panggung. Tentu saja setelah diberitahu yang sebenarnya, hal ini menjadi sebuah perubahan besar. Semua penonton ingin merasakan sensasi yang sama, semua bioskop membuat sistem audio di tiap teaternya, dan semua studio film berlomba-lomba membuat film bersuara.

Sama halnya dengan Monumental Pictures dan Kinograph Studio, dua studio ini tidak ingin kalah dengan studio lainnya. Monumental Pictures langsung merubah film bisu yang sedang mereka produksi, The Dancing Cavalier, untuk dijadikan bersuara. Sedangkan Kinograph Studio secara drastis mengganti semua aktor film bisu mereka karena sudah tidak menjual jika mereka memainkan film bersuara. Tentu saja ini berakhir menjadi sebuah bencana. The Dancing Cavalier menjadi bahan tertawa para kritik karena selain audionya berantakan juga suara aktrisnya, Lina Lamont, ternyata sangat jelek. Dan George Valentin, salah satu bekas aktor film bisu sukses Kinograph Studio, menderita karena kehilangan pekerjaan.

Buruknya kritik yang diterima 6 minggu sebelum pemutaran filmnya, membuat Don Lockwood, pasangan Lina Lamont di film The Dancing Cavalier, memutar otaknya. Ia tak mau karirnya habis disitu saja. Sama dengan George Valentin, ia tetap membuat film bisu ditengah maraknya film bersuara. Sayangnya nasib mereka berbeda. Don Lockwood dan sahabatnya Cosmo, juga Kathy Shelden sebagai pengisi suara Lina Lamont, membuat The Dancing Cavalier menjadi film musikal yang sukses. Sedangkan film bisu George Valentin anjlok di pasaran, membuat penderitaannya semakin komplit.

Monumental Pictures dan Kinograph studio adalah studio film fiksional dari film Singing in the Rain (1952) dan The Artist (2011). The Artist adalah film bisu yang mendapatkan begitu banyak apresiasi dan penghargaan bergengsi, seperti Best Picture pada Oscar dan Golden Globe kemarin. Sedangkan Singing in the Rain sudah pasti bukanlah suatu kalimat baru yang ada di telinga anda. Kenapa? Continue reading