Kemana Aja, Mbak? Kabur?

Iya iya iya, saya tahu pasti kalian benci sama saya. Dan saya terima jika kalian ingin menghujat saya, melempari saya dengan kentang, telur, atau tomat. (jika kalian ingin melempari saya, tolong kentang dan telurnya dimasak dulu biar nggak mubazir)

Oke oke, cukup basi-basinya. Saya minta maaf sekali karena saya sudah terlalu lama menelantarkan blog ini. Beribu-ribu kata maaf dan bunga mawar dari Marwan kayaknya nggak bakalan cukup buat bener-bener bisa menggambarkan betapa menyesalnya hati saya.

Bukan kok bukan karena saya kabur gara-gara mati ide atau kehabisan kata-kata untuk ditulis, tapi sebenernya dari kemarin saya sibuk galau dengan audisi suatu girlband. Iya, sebenarnya salah satu impian saya yaitu ingin menjadi bagian dari chibichibi itu (eh kesebut), karena menurut saya mereka punya kekuatan super yang bisa menghibur hati jutaan abg di Indonesia.

Oke yang barusan saya bohong, jangan percaya (kayak bakal ada yang percaya). Jadi sebenernya beberapa bulan kemarin saya sibuk berpetualang untuk menjadi yang terbaik dan menangkap semua jenis pokemon. Anyway, actions speak louder than words, saya akan bayar hutang-hutang saya untuk menulis resensi-resensi baru di blog ini dengan super-ngebut (udah diajarin vin diesel nih). So fasten your seatbelt and get ready to read!

Advertisements

Ketika Film Tak Lagi Bisu

Akhir tahun 20an, industri perfilman dikagetkan dengan penemuan seseorang yang dapat memasukkan suara ke dalam film. Kala itu, semua orang tidak percaya dengan apa yang ditontonnya. Mereka merasa ditipu, mengira aktornya ada di belakang panggung. Tentu saja setelah diberitahu yang sebenarnya, hal ini menjadi sebuah perubahan besar. Semua penonton ingin merasakan sensasi yang sama, semua bioskop membuat sistem audio di tiap teaternya, dan semua studio film berlomba-lomba membuat film bersuara.

Sama halnya dengan Monumental Pictures dan Kinograph Studio, dua studio ini tidak ingin kalah dengan studio lainnya. Monumental Pictures langsung merubah film bisu yang sedang mereka produksi, The Dancing Cavalier, untuk dijadikan bersuara. Sedangkan Kinograph Studio secara drastis mengganti semua aktor film bisu mereka karena sudah tidak menjual jika mereka memainkan film bersuara. Tentu saja ini berakhir menjadi sebuah bencana. The Dancing Cavalier menjadi bahan tertawa para kritik karena selain audionya berantakan juga suara aktrisnya, Lina Lamont, ternyata sangat jelek. Dan George Valentin, salah satu bekas aktor film bisu sukses Kinograph Studio, menderita karena kehilangan pekerjaan.

Buruknya kritik yang diterima 6 minggu sebelum pemutaran filmnya, membuat Don Lockwood, pasangan Lina Lamont di film The Dancing Cavalier, memutar otaknya. Ia tak mau karirnya habis disitu saja. Sama dengan George Valentin, ia tetap membuat film bisu ditengah maraknya film bersuara. Sayangnya nasib mereka berbeda. Don Lockwood dan sahabatnya Cosmo, juga Kathy Shelden sebagai pengisi suara Lina Lamont, membuat The Dancing Cavalier menjadi film musikal yang sukses. Sedangkan film bisu George Valentin anjlok di pasaran, membuat penderitaannya semakin komplit.

Monumental Pictures dan Kinograph studio adalah studio film fiksional dari film Singing in the Rain (1952) dan The Artist (2011). The Artist adalah film bisu yang mendapatkan begitu banyak apresiasi dan penghargaan bergengsi, seperti Best Picture pada Oscar dan Golden Globe kemarin. Sedangkan Singing in the Rain sudah pasti bukanlah suatu kalimat baru yang ada di telinga anda. Kenapa? Continue reading

My Week with Marilyn (2011); Sisi Lain si Cantik

Sutradara: Simon Curtis

Aktor/aktris: Michelle Williams (Marilyn Monroe), Eddie Redmayne (Colin Clark), Kenneth Branagh (Lawrence Oliver)

Semua orang tahu siapa Marilyn Monroe. Yang tidak tahu pun pasti pernah melihat gambar atau foto legendaris seorang wanita pirang dengan rok yang setengah tertiup angin. Jika Audrey Hepburn adalah sosok wanita cantik, maka Marilyn Monroe adalah sosok wanita seksi sepanjang masa.

My Week with Marilyn diadaptasi dari sebuah memoir milik Colin Clark yang bercerita tentang pertemuannya dengan si centil ini. Colin Clark muda mencoba bekerja menjadi seorang asisten sutradara terkenal, Lawrence Oliver. Ketika Marilyn datang ke London untuk sebuah produksi film, Oliver dibuat kesal dengan tingkah lakunya, namun Colin justru jatuh cinta kepadanya.  Walaupun cintanya bersambut, Colin harus menyadari bahwa Marilyn sudah bersuami juga posisinya sebagai pekerja film.

Sejak dulu saya menginginkan Scarlett Johansson untuk berperan sebagai Marilyn secara dia gabungan dari cantik dan seksi kuadrat. Nama Scar-Jo pun sudah menjual sebagai aktris yang bisa berperan centil dan menggoda. Saya sempat meragukan Michelle Williams karena di film sebelumnya yang saya  tonton, Blue Valentine, dia bermain begitu baik sebagai wanita yang depresi dan tidak bahagia, bahkan di film Shutter Island dia berperan sebagai wanita yang menyeramkan. Sebelum menonton film ini saya sempat khawatir dia tidak akan secentil Scar… eh, Marilyn pada bayangan saya. Tapi, seperti biasanya, ekspektasi saya salah.

Seperti yang diharapkan dari aktris penerima nominasi Best Actress pada Oscar dengan filmnya Blue Valentine, Michelle Williams pun bisa berperan seperti yang penonton inginkan. Centil dan seksi. Film ini juga menampilkan beberapa pemeran pendukung yang hebat seperti Julia Ormond sebagai seorang aktris senior yang sangat-sangat-sangat baik hati, seakan hal itu adalah sifat aslinya beliau. Juga lulusan Hogwarts, Emma Watson, yang sayangnya cuma tampil di beberapa scene saja.

Untuk ceritanya sendiri, menurut saya ada banyak bagian yang bolong. Seperti alasan kenapa Marilyn kesusahan dengan aktingnya di awal proses pembuatan film, atau kenapa Marilyn membalas cinta Colin kepadanya, juga penyelesaian konflik yang menurut saya cenderung cepat seakan terburu-buru. Ujung-ujungnya, film ini lebih banyak menggambarkan kisah cinta Colin dan Marilyn. Padahal tadinya yang saya harapkan dari film ini adalah untuk mengenal sosok Marilyn Monroe, tapi apa boleh buat namanya juga film rom-com.

Secara keseluruhan film ini bisa dijadikan salah satu film pengisi weekend anda. Patut ditonton? Tidak juga. Tapi jika anda adalah penikmat genre rom-com atau tertarik pada sisi kehidupan Marilyn atau mungkin ingin melihat Hermione di peran lain, mungkin film ini bisa menjadi tontonan yang sesuai.

Replicating The Thing; sebuah perbandingan dari film 1982 dan 2011.

Sutradara: John Carpenter (1982), Matthijs van Heijningen Jr. (2011)

Aktor (1982): Kurt Russell (Mac Ready), Wilford Brimley (Blair), TK Carter (Nauls), etc..

Aktor (2011): Mary E. Winstead (Kate Lloyd), Joel Edgerton (Sam), Ulrich Thomsen (Halvorson), etc..

Tempat/waktu nonton: Film unduhan/ Desember

The Thing adalah sebuah film horror Amerika legendaris yang bertema scifi dengan alien sebagai subjeknya. Alien tersebut memiliki kemampuan untuk mereplikasi manusia dengan cara memakannya terlebih dahulu. Serupa dengan horror klasik Amerika lainnya, ceritanya mengambil latar di tempat terpencil dan terisolasi, yaitu sebuah stasiun penelitian di Antartika.

Cerita bermula dari seorang Norwegia yang sedang memburu seekor anjing, namun tanpa sengaja menembak seorang Amerika di stasiun penelitian US. Karena tidak mengerti apa yang dikatakan, maka Amerika balik menembak orang tersebut. Amerika kemudian mendatangi stasiun Norwegia, namun mereka mendapati tempat tersebut sudah habis terbakar. Ketika itu mereka membawa pulang sebuah makhluk yang setelah diteliti merupakan alien yang dapat mereplikasi. Tanpa disangka, anjing yang diburu Norwegia merupakan replikasi dari alien dan mulai menyerang mereka. Mereka pun terjebak dalam sebuah keadaan yang menyebabkan mereka tidak percaya satu sama lain, siapa adalah siapa.

Film yang diadaptasi dari cerita John Campbell Jr berjudul Who Goes There? ini rilis tahun 1982, dan 29 tahun kemudian prekuelnya dirilis. Prekuelnya menceritakan tentang asal mula tragedi di stasiun penelitian Norwegia. Kate Lloyd, seorang ahli paleontologi Amerika, dimintai tolong oleh seorang Norwegia untuk membantu mereka mengekstraksi sebuah spesimen di Antartika. Setelah diekstraksi, makhluk tersebut ternyata masih hidup dan mulai menyerang mereka. Setelah diteliti ternyata makhluk tersebut dapat mereplikasi sel-sel mangsanya. Keadaan yang sama juga dialami oleh mereka, dimana mereka tidak percaya satu sama lain. Continue reading

Sang Penari (2011); menari-nari di dalam emosi

Sutradara: Ifa Isfansyah

Aktor/aktris: Prisia Nasution (Srintil), Oka Antara (Rasus), Slamet Rahardjo (Dukun Ronggeng), Lukman Sardi (Bakar), Tio Pakusadewo (Sersan)

Tempat/waktu nonton: Bioskop/ November

**Bukan, ini bukan film tarian sampah seperti arwah goyang karawang atau pocong mandi goyang pinggul. Jangan takut, baca dulu lalu tontonlah.**

Film Sang Penari bekisah tentang kisah cinta Srintil dan Rasus, dua anak muda dari Desa Dukuh Paruk, dengan latar belakang budaya daerah dan rezim komunisme. Srintil, yang sejak kecil ingin menari ronggeng, akhirnya mengetahui kewajiban dan tanggung jawabnya setelah berhasil menjadi penari ronggeng. Rasus, teman Srintil sedari kecil, tidak menyukai Srintil menjadi penari ronggeng dan memilih pergi dari desa untuk menjadi seorang tentara.

Disisi lain, ada seorang pemuda termodernisasi bernama Bakar yang mempunyai tujuan untuk ‘memerahkan’* Dukuh Paruk. Seluruh warga desa yang buta aksara pun tanpa sadar sudah ‘dimerahkan’. Ketika TNI melakukan pembasmian terhadap oknum-oknum PKI, Dukuh Paruk pun terkena imbasnya. Mengetahui hal itu, Rasus pun langsung mencari keberadaan Srintil.

Ada tiga hal yang saya cermati di film ini. Pertama tentu jelas ceritanya, yang terinspirasi dari novel karya Ahmad Tohari yang berjudul Ronggeng Dukuh Paruk. Balutan drama percintaan dengan latar waktu bersejarah memang tidak pernah tidak menarik. Tidak percaya? Lihat saja Casablanca, Atonement, Titanic, atau produksi dalam negeri, Ruma Maida dan Tanda Tanya. Selain itu, cerita ini juga memasukkan unsur budaya, mulai dari tarian ronggeng, bakar sesajen, sampai adat buka kelambu. Paduan dua unsur tersebut dapat menyutikkan steroid pada sebuah kisah cinta sederhana, membuat seluruh jalinan cerita berjalan rumit dan mengharukan. Luar biasa! Salut untuk Salman Aristo, Ifa Isfansyah dan Shanty Harmayn, trio maut penulis skenario.

Hal kedua adalah sinematografi, dan artistik. Berkali-kali saya berdecak kagum mengganggu penonton di sebelah saya hanya karena sudut pengambilan gambar yang dramatis ditambah lokasi menarik yang entah ada dimana. Kalau ditanya adegan mana yang paling dramatis saya tidak bisa menjawab, yang pasti salah duanya adalah adegan terakhir dan ketika Rasus kecil melihat hiruk pikuk warga desa (memperlihatkan banyaknya kaki yang berlarian dan muka Rasus yang sedih pada satu frame). Kalau dari segi lokasi tentu favorit saya adalah bunker dan rel kereta.

Akting adalah hal ketiga, tetapi tidak berarti urutan ketiga. Banyaknya pemain film berkualitas di film ini membat saya tidak perlu menceritakan semuanya, hanya dua pemain utama saja. Menurut saya, Oka Antara sudah berhasil memerankan pria lugu bermata sayu dengan logat jawa yang kental. Wajar saja karena dia sudah lama berlalu-lalang di perfilman Indonesia. Yang membuat saya jungkir balik adalah Prisia Nasution. Awalnya saya ragu karena dia adalah pemain ftv, yang bisa dibilang hanya membutuhkan kemampuan akting yang standar, tapi ternyata dia bisa membuktikan kalau kemampuan aktingnya memang jauh dari kata itu. Jika ditanya apa perannya di film ini maka saya akan menjawab nakhoda kapal. Berperan sebagai penari ronggeng yang tersiksa karena kewajibannya serta seseorang yang menginginkan cinta dan merindukan kekasihnya, ekspresi dan aktingnya berhasil membuat saya ikut tersiksa. Ditambah kehebatannya untuk berakting ketika harus telanjang dada dan beradegan ranjang, sudah seharusnya dia mendapatkan piala FFI.

Poin tambahan untuk musiknya. Walaupun saya tidak terlalu mengerti, tapi padanan musik tradisional dengan biola menambah kesan haru untuk film ini. Poin tambahan lagi untuk Happy Salma. Sebagai pemeran tamu dia sangat berhasil mencuri atensi penonton selama 10 menit awal.

Kekurangan? Hilangnya sebuah cerita sebelum ending. Cerita yang mengaitkan adegan pada rel kereta dengan pertemuan kembali Rasus dan Srintil. Hal ini membuat pertemuan kembali mereka berdua terlihat sebagai suatu ketidaksengajaan. Namun terlepas dari hilangnya sebuah cerita, ending film ini tetaplah merobek-robek perasaan saya.

Beribu-ribu terimakasih untuk Ifa Isfansyah yang telah menyatukan cerita, sinematografi, artistik, akting, dan musik dalam sebuah film yang telah mempermainkan emosi saya. Membuat saya mengeluarkan kata-kata kasar untuk sebuah pujian. Membuat saya betah menahan kencing selama hampir 2 jam. Serta membuat saya malu karena harus menangis di dalam bioskop (terakhir kali saya menangis di bioskop ketika Mufasa meninggal). Dia berhasil membuat saya berfikir ternyata masih banyak harapan untuk film Indonesia.

*merah: julukan untuk partai komunis (pada jaman itu)

Super 8 (2011); ternyata bukan film manusia super

Sutradara: J.J Abrams

Pengisi suara: Joel Courtney (Joe Lamb), Elle Fanning (Alice Dainard), Kyle Chandler (Jackson Lamb), Riley Griffiths (Charles)

Tempat/waktu nonton: film unduhan/ agustus

Pertama kali saya tau film ini gara-gara teaser trailernya yang kebetulan muncul di bioskop. Ketika itu cuma diperlihatkan tabrakan kereta, ‘sesuatu’ yang kuat memukul kereta dari dalam, serta nama J.J Abrams dan Steven Spielberg. Klip nya biasa aja sih, tapi dua nama dibelakangnya cukup menantang dan membuat penasaran. Sayangnya saya sempat skip dan melupakan film ini sejenak sampai tiba-tiba bajakannya sampai di komputer saya.

Joe, Charles, Martin, Cary, Preston, dan Alice adalah sekelompok anak muda 70an yang sedang membuat film zombie. Ketika sedang syuting, mereka menyaksikan sebuah kecelakaan kereta yang sangat luar biasa (tidak masuk akal) dahsyatnya. Namun ternyata kereta itu bukan kereta biasa, dia membawa sesuatu yang berbahaya. Sesuatu yang akan mengubah kota Lillian yang tentram dan damai menjadi kebalikannya.

Jika dibaca dengan gaya narasi feni rose, sinopsis yang saya tulis diatas mungkin sedikit berlebihan dan membuat kalian membayangkan bermacam-macam aksi ‘sesuatu’ itu. Jujur saja awal mendengar kata Super 8 yang muncul di otak saya adalah Fantastic 4, X-men, The Avenger, dan kelompok aksi berkekuatan super lainnya. Tapi ternyata saya salah, tidak ada manusia super.  Dan tidak banyak macam aksi.

Jika kalian pikir film ini adalah film aksi, kalian hanya mendapat nilai 30 dari 100. Lalu kemana 70 sisanya? Film ini adalah film drama. Ets, jangan berhenti membaca dulu, film ini memang termasuk film drama tapi tidak membosankan seperti yang kalian pikirkan. Ceritanya sebagian besar berfokus pada hubungan Joe, Alice, dan kedua ayah mereka yang tidak akur dengan ‘sesuatu’ sebagai latar. Sedikit mengingatkan saya pada cerita Let the Right One In (atau adaptasinya, Let Me In) dimana cerita berfokus pada hubungan Oscar dan Eli dengan vampire sebagai latar (bukan twilight lho ya).

Bukan J.J Abrams namanya kalau nggak bisa buat film keren, sudah terbukti dengan kerennya film MI:III dan Star Trek. Apalagi sekarang kerja sama Steven Spielberg. Film ini hanya memiliki adegan aksi yang bisa dihitung jari, tapi setiap ada dibungkus dengan efek visual yang heboh. Walaupun menurut saya tabrakan keretanya tidak masuk akal dan ada beberapa bagian cerita yang bolong (tidak jelas) seperti kenapa kereta itu melewati kota Lillian dan banyak lainnya. Eh tapi adegan dramanya juga tidak kalah emosional, saya suka adegan terakhir ketika Joe dan ayahnya berpelukan. Touchy. Pasti ini ada pengaruh dari musiknya Michael Giacchino, komposer jahat yang bikin saya nangis nonton film Up.

Ada tiga hal yang lucu di film ini. Lucu pertama, entah kenapa film ini menyinggung sedikit tentang production value, yang sering disebut Charles ketika syuting. Apakah ini sedikit humor dari Abrams buat si produser? Boleh jadi. Lucu kedua, film zombie produksi anak-anak itu juga ada di bagian kredit akhir. Jadi jangan buru-buru pipis sehabis menonton film nya, kalian harus tahan kebeletnya sebentar. Lucu yang terakhir, dari awal sampai akhir film saya masih tidak tahu apa yang dimaksud dengan super 8.

Hampir keseluruhan dari film ini emang asik buat diikuti dan ditonton. Sayang bagian endingnya menurut saya kurang heboh, sedikit mematahkan hati saya. Tapi itu bukan berarti saya tidak merekomendasikan kalian menonton film ini. Film ini mungkin bukan film superhero seperti yang saya impikan, tapi film ini memiliki kekuatan super yang bisa membuat jantung berdebar walaupun tidak semenarik star trek.

Karigurashi no Arrietty (2010)

Sutradara: Hiromasa Yonebayashi

Pengisi suara: Mirai Shida (Arrietty), Ryunosuke Kamiki (Sho)

Tempat/waktu nonton: film unduhan/ juli

Karigurashi no Arrietty adalah adaptasi ghibli dari novel berjudul Borrowers Arrietty karangan Mary Norton tahun 1955. Tahun 1997 juga pernah dibuat adaptasinya dengan judul The Borrowers. Jaman dulu saya senang sekali menonton film yang dibintangi John Goodman ini, bahkan sampai sekarang masih hapal ceritanya. Sejak tahun lalu mendengar studio ghibli akan mengadaptasi cerita yang sama, saya pun tak sabaran. Pertama karena saya sudah khatam dengan film adaptasi terdahulunya, dan kedua saya adalah penggemar berat ghibli. Oleh karena itu, sayapun sangat berharap banyak akan filmnya sejak awal.

Film ini bercerita tentang Arrietty dan keluarganya. Mereka adalah manusia sekecil jari telunjuk yang suka meminjam barang dan memiliki peraturan tidak boleh terlihat manusia. Suatu saat Arrietty terlihat oleh Sho, anak pemilik rumah, tapi malah berteman dengannya. Karena Haru si pembantu rumah curiga akan tingkah laku Sho, ia pun bertekad membasmi manusia-manusia kecil itu, memaksa Arrietty sekeluarga pindah.

Ternyata cerita film ini agak berbeda dengan apa yang ada pada ekspektasi saya. Di adaptasi terdahulunya, The Borrowers (1997), John Goodman yang ingin menangkap para borrowers dengan seribu cara membuat film anak-anak berdurasi 89 menit ini mengandung hampir 50% adegan aksi yang seru (bagi anak-anak). Tapi film adaptasi ghibli ini tidak banyak adegan aksi, malah lebih banyak drama.

salah satu adegan di film The Borrowers (1997)

Memiliki ekspektasi berbeda bukan berarti saya jadi tidak menyukai filmnya. Saya tetap suka karena film ini lebih menunjukkan hubungan Arrietty dengan Sho. Seperti film-film terdahulunya, ghibli selalu fokus pada hubungan antar manusia (atau antara manusia dengan makhluk lain). Sebagai penyuka film drama dan per-hubung-hubungan, hal ini merupakan kelemahan saya untuk dapat dengan gampangnya menyukai film ini.

Tapi sayangnya kesukaan saya berhenti sampai disitu. Ada dua hal yang saya tidak suka. Yang pertama, film ini tidak aneh. Tidak seperti sebelumnya, film ghibli biasanya memiliki dunia yang berbeda dan aneh, paling jelas terlihat di film Castle in the Sky dan The Cat Returns. Jika dunianya tidak aneh setidaknya ada karakter yang aneh, seperti di film Ponyo, Porco Rosso dan Pom Poko, atau gabungan keduanya seperti Spirited Away (favorit saya! *info penting 2011*), Howl’s Moving Castle dan Totoro. Film Arrietty ini jelas memiliki karakter yang aneh (manusia kecil), tapi sayangnya tidak ada keanehan kelanjutan, dan bahkan tidak ada sama sekali unsur kejutan.

Yang kedua, bagian endingnya. Sebagai orang yang sudah khatam dengan adaptasi sebelumnya, menurut saya bagian ending film ini sedikit menggantung. Ets, sebelum spoiler lebih lanjut dan membuat kalian jadi males nonton, mendingan saya berhenti sampai disini. Intinya sih film ini cukup menarik untuk ditonton apalagi bagi penyuka ghibli lainnya di luar sana. Film ini lebih sederhana dari pendahulunya, tapi setidaknya ceritanya jauh lebih bagus daripada film Tales from Earthsea, yang menurut saya jelek sekali.