Paul (2011)

Sutradara: Greg Mottola

Aktor/aktris: Simon Pegg (Graeme), Nick Frost (Clive), Seth Rogen (Paul), Jason Bateman (Agent Zoil)

Tempat/waktu nonton: film unduhan/ juli

Satu hal yang membuat saya tertarik ketika ingin mengunduh film ini adalah Simon Pegg dan Nick Frost. Dua aktor pintar yang udah nggak asing lagi dikuping pecinta film komedi. Mulai dari Hot Fuzz, Shaun of the dead, Tintin (post production) bahkan mereka pernah membuat sendiri film star wars versi mereka. Kali ini mereka kembali dengan cerita science fiction.

Menceritakan Clive dan Graeme, dua nerdy englishmen yang gemar scifi dan sedang dalam perjalanan ke tempat-tempat alien di Amerika. Suatu malam di sekitar area 51, tanpa sengaja mereka bertemu dengan seorang alien yang bernama Paul. Ternyata Paul adalah alien yang sedang dikejar oleh agen pemerintah dan ingin pergi ke suatu tempat. Merekapun memutuskan untuk membantu Paul.

Buat kalian yang udah pernah merasakan sensasi menonton mereka berdua mungkin akan setuju dengan saya kalau duet pasangan supergoblok ini akan selalu berhasil mengocok perut. Sayangnya, menurut saya, klimaksnya masih ada pada film Shaun of the dead. Belum ada yang mengalahkan dahsyatnya film itu. Film ini pun masih kalah lucu.Tapi bukan berarti saya bilang paul tidak lucu.

This is my favorite part, Clive wearing an alien mask. I dont know what part of it thats funny, I just laughed..

Film ini lucu, ya lucu. Tapi ada beberapa bagian yang terlalu dipaksakan. Seperti Pat (Jane Lynch) yang mencoba menggoda Ruth, kita semua tau dia lesbian, tapi ini pointless dan, eww, menjijikkan. Juga ada beberapa yang adegan yang gampang ditebak. Oh tidak, saya benci jika tebakan saya benar. Tapi kedua hal diatas tidak serta merta membuat keseluruhan film ini tidak lucu lagi. Coba pikir, mana ada alien yang merokok dan memberi nasihat pada Spielberg. Percayalah, leluconnya masih tetap pintar (atau saya berhasil dibodohi).

Tapi terlepas dari dibodohi atau tidaknya saya, film ini sangat menghibur dan mengasyikkan buat ditonton. Apalagi buat kalian yang suka dengan duet komedian pegg-frost. Dan sepertinya film ini sudah masuk ke abang-abang dvd di tetangga sekitar, jadi.. selamat menonton!

Advertisements

Four Lions (2010)

**SARA ALERT! (film ini mengandung unsur SARA)**

Sutradara: Christoper Morris

Aktor/aktris: Kayvan Novak (Waj), Riz Ahmed (Omar), Nigel Lindsay (Barry), Adeel Akhtar (Faisal)

Tempat/waktu nonton: Film unduhan/ desember

“What, man? Just cos I’m Muslim, you thought it was real?” – Hassan, carrying a fake bomb.

Islam dan terrorism adalah dua hal yang entah kenapa susah dipisahkan. Saya sudah menunggu film ini lama sejak saya membaca artikelnya di web. Yang membuat saya tertarik tentu saja dua hal yang susah dipisahkan itu. Kenapa? Tentu saja jawabannya mudah, karena ingin mengetahui pendapat orang luar mengenai agama saya, kepercayaan yang entah kenapa dipercaya sebagai biang aksi terrorism.

Film ini bercerita tentang 4 orang muslim keturunan Arab (atau Pakistan atau Turki atau apapun itu anggap saja Arab) yang tinggal di Inggris. Mereka mempunyai impian untuk menjadi mujahidin (martyr, mati sahid). Mereka hanya sekumpulan orang yang ingin berjihad dan mereka tidak pintar. Mereka melakukan banyak cara untuk menjadi jihad mulai dari menjadi prajurit perang, sampai menjadi teroris dan membuat bom. Tapi tentu saja, karena mereka tidak pintar, banyak kebodohan yang mereka lakukan.

Menurut saya, Four Lions adalah suatu bentuk black comedy yang unik. Film ini bagaikan double-sided sword, kalau anda menontonnya anda mungkin entah akan marah atau tertawa. Hal itu tergantung bagaimana anda mencerna ceritanya. Saya? Saya tertawa. Saya belum pernah tertawa begitu lepas menyaksikan film bergenre serupa. Mungkin saya terlalu serius dengan isu yang diangkat pada film bergenre serupa, maka yang keluar hanya tawa serius. Tapi kali ini sensasinya lebih dari minum teh bersoda itu. Entah karena memang leluconnya kelewat bodoh, atau karena saya mengerti betul isu yang diangkat.

“Look, the way to stop the Federals tracking you is simple. You eat your SIM card.” – Barry.

Leluconnya kelewat bodoh. Bisa dilihat dari sinopsisnya, mereka tidak pintar dan mereka ingin berjihad menggunakan cara-cara seperti itu. Bisa dibayangkan sendiri kan? Pasti banyak adegan dan dialog slapstick nan bodoh yang ada di film ini. Kasihanilah saya, menertawakan saudara sendiri. Tapi mereka kelewat bodoh saya tidak mungkin tidak tertawa. Sesuai yang saya bilang diatas, film ini unik, anda mungkin menganggapnya komedi atau malah terprovokasi. Tapi buat apa susah, ambil positifnya saja.

Mengerti betul isu yang diangkat. Saya bukan seorang yang taat beribadah, tapi saya mengerti betapa sucinya ber-jihad. Tapi tentu saja tidak dengan hal-hal bodoh yang bahkan tidak ada di kitab suci. Saya bukan Aa Gym atau Mama Dedeh yang berhak memberi kultum, tapi ya lihat saja fakta banyaknya aksi terorisme di dunia. Dan fakta yang selalu meresahkan saya ini, membuat saya semakin tertawa lebar menonton film ini.

Black comedy unik, double-sided sword, slapstick, SARA, dan provokasi. Banyak kata untuk mendeskripsikan film ini. Kata-kata diatas pula adalah saran dari saya untuk anda yang ingin menonton film ini. Perlu diingat, film hanyalah media visual untuk menyampaikan pesan, apapun pesan itu, pastikan untuk mengambil sisi positifnya. (perlu diingat pula ini adalah kali pertama saya menulis kalimat bijak..…. :p) Selamat menonton! Oiya, film ini diambil dengan teknik shaky-cam mirip dengan film dokumenter, siap-siap bagi anda yang kurang suka dengan pengambilan gambar dengan cara ini.

My personal rate: 8/10

Easy A (2010)


Sutradara: Will Gluck

Aktor/aktris: Emma Stone (Olive), Amanda Bynes (Marianne), Thomas Haden Church (Mr. Griffith), Stanley Tucci (Olive’s Dad)

Tempat/waktu nonton: Film unduhan/ desember

Saya telah mendownload beberapa film ringan untuk ditonton ketika liburan. Namanya juga liburan, saya ingin bermalas-malasan. Begitu pula dengan otak saya, kasihan dia sudah berputar terlalu keras ketika ujian. Salah satu film yang saya download adalah easy-A, because I think it’s easy enough, sesuai dengan cover filmnya yang bertema high school. Hey, film bertema American high school pasti ringan dan menghibur.

Film ini bercerita tentang Olive, seorang cewek looser di sekolahnya (as always, looser rules!). Suatu hari Olive membohongi temannya, mengaku sudah hilang keperawanan. Rumor pun beredar lebih cepat dari pada angin, satu sekolah tahu Olive sudah tidak perawan. Seketika menjadi populer, Olive tidak mau rahasianya terungkap, ia memilih terus berbohong.

Film ini mungkin tipikal film klise high school lain dimana ada seorang looser yang mendadak populer. Yap, high school adalah tempat dimana anda akan melakukan segalanya untuk menjadi populer. Tapi yang paling menarik di film ini adalah caranya. Berbohong. Dan kebohongan-kebohongan yang terus berlanjut karena Olive harus menutupi kebohongan di awalnya. Brilian bukan? Ceritanya membuat saya mau merental otak scriptwriternya.

Menurut saya, film ini berhasil menjadi film bertema high school terbaik (yang pernah saya tonton). Ceritanya, dialognya, leluconnya, karakternya, sampai aktingnya bisa dibilang sangat high school. Tema virginity dan seorang karakter looser bukan yang pertama diangkat untuk film serupa, tidak jika itu adalah tentang seorang karakter looser pintar yang mencoba ‘bermain’ untuk beradaptasi di lingkungan virginity. Yak, adaptasi, high school kental dengan aura adaptasi. Begitu juga adaptasi Emma Stone pada karakter looser pintar yang dimainkannya.

Ah, masa remaja memang masa yang paling indah *menyeruput teh panas* (look who’s talking, hey you’re still 20). Untuk film dengan cerita yang tidak berbobot, film ini saya beri penghargaan menjadi film ringan favorit saya di tahun 2010. Angka 8 mungkin sedikit berlebihan untuk film bergenre ini,bagaimana kalau 7.5? Hmm, tidak ada salahnya karena film ini berhasil menjadi film high school terbaik pertama yang pernah saya tonton sekaligus bisa membuat otak saya fresh setelah jungkir-balik terpingkal-pingkal. Selamat menonton!

My personal rate: 7.5/10

City Lights (1931)

Sutradara: Charlie Chaplin

Aktor/aktris: Charlie Chaplin

Tempat/waktu nonton: DVD/ bulan juni

Charlie Chaplin. Apa yang ada di otak anda ketika mendengar kata tersebut? Komedian sejati? Tidak diragukan lagi. Film bisu? Pastinya. Hitler? Hmm, kumisnya memang mirip sih. Jojon? Hahaha, nice try. Cukup, ayo berhenti, sebelum kita kebablasan. Jujur, saya belum pernah menonton satupun film Charlie Chaplin, sampai ketika teman saya membawa DVD nya dan mengajak menonton film ini. Sebuah film klasik, hitam-putih, produksi tahun 1931, duduk manis di peringkat 68 pada top250 IMDB.

Film ini bercerita tentang kisah cinta Chaplin dengan gadis buta penjual bunga. Gadis itu rupanya sedang kesulitan membayar uang sewa rumahnya. Chaplin yang ingin menolongnya pun mencari cara untuk mendapatkan uang dengan cara yang halal. Suatu saat Chaplin bertemu dengan seorang kaya baik hati, namun karena kurang beruntung, Chaplin disangka ingin mencuri uang orang kaya tersebut.

Tadinya saya berfikir kalau film komedi ini akan membosankan karena bisu tanpa dialog. Tapi ternyata saya salah 100%. Film ini sama sekali tidak membosankan, justru saya sampai menangis tertawa berguling-guling menonton film ini. Tidak berhenti tertawa menyaksikan muka Chaplin yang bodoh dan gerak-geriknya yang terkadang berbahaya namun kocak. Selesai menonton film ini pun saya merasa bugar karena sudah olahraga otot perut.

salah satu adegan bodoh favorit saya

Slapstick. Jenis komedi ini selalu berhasi membuat saya tertawa. Walaupun penuh bahaya, tapi selalu berhasil mengundang tawa. Kalau gagal pun, penonton akan tetap menertawakan kemalangan komediannya. Charlie Chaplin memang terkenal dengan komedi slapstick-nya, seperti misalnya pada film ini, terdapat adegan dimana Ia naik mobil dengan supir mabuk, mobilnya hampir menabrak tiang, atau adegan dimana Ia entah kenapa tiba-tiba ada diatas patung yang lumayan tinggi. Adegan-adegan seperti itu membutuhkan jantung yang kuat untuk para komediannya, terlebih Chaplin terkadang tidak menggunakan stuntman. Satu fakta yang saya suka dari Chaplin adalah sepatu yang dia pakai terbalik kiri dan kanan, walaupun menyakitkan, di setiap filmnya Ia selalu konsisten untuk memakainya terbalik. Hal seperti itulah yang membuat saya kagum dan salut dengan Chaplin, selain karena dia menulis dan menyutradarai filmnya sendiri. Benar-benar seorang komedian sejati.

Secara keseluruhan, film ini benar-benar menendang-nendang rahang saya, dan hampir memutuskan syaraf ketawa saya. Terlebih satu adegan yang selalu saya ingat, dimana adalah adegan paling favorit saya, yaitu adegan di ring tinju, yang walau ditonton berulang-ulang kerasnya ketawa saya tidak pernah berubah. Demi apapun juga anda harus menonton film ini. Jadi, selamat berburu filmnya, dan Selamat Menonton!!

My personal rating: 8/10

Red Cobex (2010)

“sutradara dan aktor yang bagus terkadang tidak menjamin film nya menjadi bagus”

Sudah lama tidak menyaksikan sinema Indonesia di bioskop, ternyata cukup membuat saya rindu. Saya pun memilih Red Cobex, sebuah film komedi terbaru garapan sutradara Upi yang terkenal dengan Serigala Terakhir nya. Dengan harapan mendapatkan komedi dibalik lakon Tika Pangabean, Indy Barends, dan Shanty.

Red Cobex bercerita tentang Yopi, anak dari pimpinan geng Red Cobex, geng wanita yang paling ditakuti di Jakarta. Karena mencuri toko perhiasan, Yopi dan seluruh anggota Red Cobex di penjara. Yopi yang keluar lebih dulu dibanding geng ibunya itupun mengadu nasib sendirian di Jakarta. Menginap di rumah temannya, Ramli, Yopi pun berubah menjadi orang yang lebih baik. Hingga suatu saat dia bertemu dan jatuh cinta dengan Astuti.

Saya baru saja terkena penipuan. Film ini yang menipu saya. Tadinya saya pikir film ini akan mengisahkan geng Red Cobex dan kehebohan Tika Panggabean, Indy Barends, Cut Mini, Sarseh, Aida Nurmala tawuran dengan geng lain. Tapi ternyata saya ditipu mentah-mentah, film ini malah mengisahkan preman tobat yang jatuh cinta. Terlebih kemundulan ‘Red Cobex’ nya sendiri hanya sebentar. Kalau begitu, kenapa judulnya Red Cobex? Kenapa posternya begitu? Kenapa anunya begini? Ah, kecewa.

Baiklah, saya terima ceritanya yang tidak berkesinambungan dengan judul dan poster. Beralih ke hal lain, artistik. Saya mungkin orang awam yang hanya mengerti film dari kulitnya saja. Tapi orang buta pun terganggu dengan kualitas warna yang terkesan seadanya dan hampir berbeda setiap scene. Dimaklumi kalau memang kamera yang digunakan dan cuaca pada saat produksi berbeda-beda, tapi seharusnya “ketergangguan” ini bisa diminimalisir dengan pewarnaan pada saat editing film. Ah, kecewa.

Kecewa dan kecewa. Tapi kekecewaan itu terbayar dengan akting memukau dari Tika Panggabean, Indy Barends, dan Shanty. Tika Panggabean sangat menjiwai perannya sebagai pimpinan geng asal Ambon. Bahkan saya sempat lupa kalau dia bukan orang Ambon. Indy Barends adalah presenter yang selalu berhasil membuat saya tertawa. Di film ini pun, walau ternyata kemunculannya hanya sedikit, tingkah lakunya tetap berhasil membuat saya tertawa. Dan Shanty, dia selalu memukau di semua film yang pernah dibintanginya. Dan kali ini, berperan sebagai wanita betawi yang haus akan belaian suaminya, aktingnya sungguh mengocok perut saya. Mata sayapun sampai berair karena menertawakan kelakuannya.

Overall, film ini 50-50, cukup mengecewakan, tapi juga cukup menghibur (baca: mengocok perut). Oiya, salah satu pesan yang diangkat film ini adalah Bhinneka Tunggal Ika, oleh karena itu banyak tokohnya dibuat dengan ras yang berbeda-beda. Tidak bermaksud rasis, tapi justru mengajarkan penontonnya untuk tidak rasis, sayangnya “unsur mengajarkan” di film ini kurang terasa. Film ini cocok ditonton untuk bahan tertawa, tanpa perlu memikirkan kesinambungan cerita dengan judul. Jadi, selamat menonton! Majulah terus perfilman Indonesia!

Sutradara: Upi

Aktor: Tika Panggabean(Mama Ana), Cut Mini (Meymey), Indy Barens (Lisa), Aida Nurmala (Halimah), Sarah Sechan (Bariah), Lukman Sardi (Yopi), Irfan Hakim (Ramli), Shanti (Ipah), Revalina S Temat (Astuti)

Tempat/waktu nonton: Bioskop/ 22 Juni 2010

My personal rate: 5/10

I Hope They Serve Beer in Hell (2009)

“… and I do hope they serve narcissist in hell”

Saya tidak tahu apapun tentang film ini sebelumnya, kecuali poster eye catchy­-nya yang sudah pernah saya lihat di impawards.com. Covernya cukup menggiurkan untuk membawa pulang DVDnya dari Toko DVD bajakan (ups). Ya, setidaknya dari covernya saja sudah terlihat kalau DVD bajakan ini mungkin bisa menghibur otak.

Film yang diambil dari kisah nyata ini bercerita tentang Tucker Max, seorang pria sex-addict yang ganteng dan kaya, tapi hanya memikirkan dirinya sendiri. Penasaran ingin mencoba suatu kelab malam, Tucker mengajak sahabatnya Drew dan Dan, dengan alasan bachelor party si Dan. Hiburan di kelab malam itupun berakhir bencana, kedua sahabatnya pun sadar akan ketidakpedulian Tucker akan mereka. Setelah ditinggal oleh para sahabatnya, Tucker pun mendapat pelajaran dan sadar akan kenarsisannya.

30 menit pertama film ini yang kurang lebih menggambarkan kehidupan sex, wanita, dan sex membuat saya mual dan bosan. Bukan berarti film ini semenjijikkan film porno, saya hanya bosan karena film ini cukup menyita waktu saya untuk sampai ke bagian konflik. Entah saya yang kurang suka dengan adegan striptis, atau mungkin saya yang over-excited menunggu konflik. Ada dua hal yang menghibur saya di 30 menit awal ini, lelucon yang tolol dan wajah manis Jesse Bradford.

Setelah berlanjut dari 30 menit pertama, dan setelah konfliknya keluar, saya mulai ditarik lagi oleh film ini. Tanpa sadarpun, mood saya ikut terbawa arus film ini, sedih, kesal, jengkel dan sebagainya berhenti pada tawa. Leluconnya slapstik tapi menggelitik, dramanya menjengkelkan tapi tidak membosankan. Sayangnya, konflik yang diangkat terasa kurang, terlebih dialognya terkesan ‘apa-adanya’, walaupun akhirnya dibantu oleh lelucon slapstik dan akting bodoh pemainnya.

Based on the best-selling book by Tucker Max! Wow! Betapa narsisnya si Tucker Max ini, sampai dia terlalu percaya diri untuk menulis buku dan membuat film tentang dirinya sendiri, hal ini membuat saya semakin terbahak. Tapi disamping kenarsisannya itu, saya sadar bahwa Tucker mendapatkan pelajaran yang begitu berharga dalam hidupnya sehingga dia harus memberitahu orang-orang agar ikut belajar dari kenarsisannya. Selain itu, sisi positif dari film ini adalah dapat meyakinkan saya kalau Tucker adalah seorang yang mencintai sahabatnya.

cover bukunya, mirip poster filmnya, versi b/w

Overall, film ini menarik untuk ditertawakan. Walaupun di 30 menit pertama penonton hanya diberi tontonan semacam American Pie, tapi cerita dan makna yang terkandung didalamnya tidak sedangkal itu. Sampai akhir cerita pun, ingin rasanya hati terus mencela si Tucker Max. Jadi, selamat menonton dan selamat mencela!

Sutradara: Bob Gosse

Aktor/aktris: Jesse Bradford (Drew), Matt Czuchry (Tucker Max), Geoff Stults (Dan)

Tempat/waktu nonton: DVD/ sekitar Bulan Juni

My personal Rate: 6.5/10

The Bounty Hunter (2010)

The Bounty Hunter (2010)

Film ini bercerita tentang Milo Boyd (Gerard Butler), seorang mantan polisi yang memiliki banyak hutang dan bekerja sebagai pemburu buronan. Suatu hari Milo ditugaskan untuk menangkap seorang buronan, yang ternyata adalah mantan istrinya, Nicole Hurley (Jennifer Aniston). Nicole adalah seorang jurnalis yang sedang ditugaskan mencari berita mengenai kasus pembunuhan, yang juga membuatnya dicari oleh si pembunuh. Dengan mudahnya Milo berhasil menangkap Nicole. Tapi ternyata ia juga harus berurusan dengan pembunuh yang mengejar Nicole, penagih hutang, dan kisah cinta-lama-bersemi-kembali mereka berdua.

Jujur deh, begitu kalian baca sinopsisnya, apa yang ada dipikiran kalian? Jawabannya di-skip dulu deh sampai kalian membaca opini gue tentang film ini.

Film bergenre romantic-action-crime-comedy ini terlalu memusingkan jalan ceritanya. Bukan maksudnya absurd atau terlalu berat, tapi terlalu banyak yang ingin disampaikan sehingga gue berani bilang film ini missing the point. Yup, banyaknya karakter dan subplot yang ada membuat film ini kehilangan intinya. Bayangkan saja, suatu film mengambil 4 genre sekaligus. Sutradaranya bisa muntah darah itu.

Alurnya terasa begitu cepat sampai-sampai perkenalan karakternya terasa sangat sebentar dan kurang kuat. Oh, ditambah lagi film ini terlalu banyak menggunakan dialog untuk menggambarkan sesuatu, baik itu mengenalkan karakter ataupun menjelaskan cerita. Ketinggalan satu scene/dialog aja mungkin bisa membuat kita bertanya-tanya, padahal ketika scene/dialog penting itu keluar,

Opini gue mengenai alur dan pengembangannya ceritanya cukup sampai disini. Sekarang ganti topik ke pemilihan scoring. Scoring (musik) di film ini banyak yang tidak bersesuaian dengan scene yang tervisualisasikan. Lagu yang dipakai biasanya bertempo upbeat yang dimasukkan ke dalam sebuah scene yang lambat. Mungkin terkesan sepele, tapi scoring adalah salah satu unsur penting untuk merasuki mood dan feel penonton ke dalam film.

Overall, film ini mengecewakan. Andy Tennant sebagai sutradaranya kurang bisa membuat semua “genre” yang dia maui ke dalam film ini. Sayang banget, padahal film terdulunya, Hitch, menurut gue bagus banget sebagai film komedi romantic. Oiya, salah dua keunggulan dari film ini adalah Gerard Butler dan Jennifer Aniston. Jadi saran gue adalah, tontonlah film ini kalo anda benar-benar pecinta berat kedua pemain itu, atau tidak ada lagi film yang bisa ditonton ketika malam minggu.

My personal rate: 5/10