Life of Pi (2012); menutup tahun dengan sempurna

lop1

Sutradara: Ang Lee

Aktor/aktris: Suraj Sharma (Pi Patel), Irrfan Khan (Adult Pi Patel), Adil Hussain (Satosh Patel), Rafe Spall (writer)

Siapa sih yang nggak menunggu-nunggu bulan desember 2012? Loh, emang kenapa? Karena banyak sekali film bagus yang rilis di bulan ini, salah satu yang saya tunggu adalah Life of Pi. Walaupun bukan pembaca novelnya, saya sudah berekspestasi kalau film ini akan bagus, kenapa? Trailernya penuh warna! Well at least kalau saya nggak suka jalan ceritanya, saya bisa terkesima dengan warna ajaib yang keluar dari filmnya ya nggak? (pembenaran, padahal emang orangnya gampang ditipu..)

Sama dengan judulnya, film Life of Pi berkisah tentang kehidupan Pi Patel (hmm, gak jauh-jauh ya dari judulnya). Layaknya sebuah biopic, film dibuka dengan kedatangan seorang penulis ke rumah Pi Patel dewasa. Penulis tersebut menanyakan cerita kehidupannya yang katanya sangat menakjubkan, kemudian Pi dewasa pun mulai bernarasi.

Pi Patel adalah anak dari seorang pemilik kebun binatang di India. Dibesarkan di keluarga India modern yang tidak berpegang pada sebuah kepercayaan, Pi kecil penasaran dan mencoba hampir semua agama. Suatu hari ayahnya memutuskan untuk pindah ke Kanada bersama dengan keluarga dan hewan-hewan di kebun binatangnya. Namun naas, kapal laut yang mereka tumpangi akhirnya tenggelam dan hanya Pi seorang yang selamat dengan naik sekoci. Ternyata ia tidak seorang diri di sekoci tersebut, ia ditemani oleh seekor zebra, hyena, orangutan, dan macan Bengal bernama Richard Parker.

Perjalanan Pi Patel mengarungi samudra menjadi sebagian besar isi di film ini. Saya memprediksikan flow filmnya akan turun disini, karena cerita dan tempatnya akan monoton, di tengah laut. Biasanya, jika sudah merasakan flow seperti ini saya akan cepat mengantuk. Tapi hal itu tidak terjadi, malahan untuk berkedip pun rasanya mustahil. Mata saya seperti ditelanjangi oleh permainan visual di film ini, disetubuhi oleh warna-warna indah yang bisa membuat jantung berdegup kencang. Ah, peduli setan kalau ini hanyalah grafis komputer, pikir saya. Sensasinya seperti surga. Sepanjang tengah film pun saya berteriak dengan penuh gairah. (heh, ini nulis review apa bikin cerita bokep sih?)

Kembali ke visualisasi. Dulunya cuma ada 1 visual film yang bisa membuat mata saya yang sipit ini melotot dan membuat mulut saya berdecak kagum setiap detiknya, yaitu The Fall. Sekarang The Fall tidak lagi sendirian, film ini menemaninya. Bedanya, The Fall memang sebuah film dengan landscape asli yang nyaris tidak menggunakan efek CGI. Walaupun efek visual The Life of Pi hampir semuanya full CGI (bahkan sampai hewannya juga), tapi grafisnya sangat mulus dan rapi sehingga terlihat begitu nyata. Dan saya pun beruntung memilih menonton film ini dalam format 3D (sayang, pas nonton layar bioskop nya agak kecil, pasti bakal lebih maksimal kalau di imax).

lop2

Ekspektasi saya diawal benar, mata saya sudah terkesima dengan visualisasinya. Lalu bagaimana dengan jalan ceritanya? Ceritanya sendiri tidaklah baru, melainkan adaptasi dari sebuah novel karangan Yann Martel yang berjudul sama. Dan untuk sebuah film adaptasi, menurut saya film ini tergolong sempurna. Pertama, karena tidak ada alur cerita yang bolong. Berbagai konfliknya dibungkus dengan manis, sehingga sepanjang film tidak akan muncul pertanyaan “lah kok jadi begini?” atau “kenapa tiba-tiba begitu?”. Kedua, dari segi penyutradaraan. Ketika menonton, saya merasa seperti sedang dituturkan sebuah dongeng yang dapat mengajak saya ikut bermain didalamnya. Ang Lee, yang pernah mendapat award Best Director di Academy Awards untuk film Brokeback Mountain, memang pilihan tepat untuk menyutradarai film ini (untungnya Fox tidak jadi menggunakan jasa M Night Shyamalan, coba kalau dia, pasti filmnya berantakan dan flop di pasaran *negative thinking*).

Selanjutnya, yang ketiga, adalah bagaimana film ini membuat penontonnya berfikir. Menurut saya banyak analogi pada cerita ini, mulai dari kepercayaan akan adanya Tuhan, agama yang universal, takdir, sampai analogi antara manusia dan binatang. Saya tidak tahu bagaimana penggambaran di novelnya, tapi semuanya terpapar jelas di filmnya. Dan keempat, sentuhan moral yang saya dapat. Jika diamati dengan seksama, film ini mengajarkan kita tentang ‘hidup’, misalnya tentang cinta, perpisahan, keraguan, move on, dan sebagainya. Oiya, di film ini juga banyak quotes yang menarik tentang kehidupan.

In the end, saya keluar bioskop dengan perasaan hangat dan senyuman puas. Juga mata yang masih terkesima dengan keindahan visualnya. Menurut saya film ini adalah salah satu film terbaik di 2012 dan dapat menutup tahun 2012 dengan sempurna. Loh kan 2012 belum habis? Ya benar, film yang rilis di bulan desember masih banyak, tapi saya yakin tidak ada yang memberikan keindahan selengkap ini. Tentu saja saya sangat merekomendasikan film ini untuk kalian tonton. Bukan! saya memaksa kalian untuk menontonnya! Dan jangan lupa untuk nonton yang 3D!

All of life is an act of letting go but what hurts the most is not taking a moment to say goodbye.” – Pi Patel

lop3

Advertisements

We Bought a Zoo

We Bought a Zoo (2011)

Sutradara: Cameron Crowe

Aktor/aktris: Matt Damon (Benjamin Mee), Scarlett Johansson (Kelly), Colin Ford (Dylan), Maggie Elizabeth (Rosie)

Dimana scar-jo tidak tampil seksi, malah sebaliknya.

Berapa dari kalian yang mengidolakan scar-jo? Apalagi sejak kemunculannya sebagai black widow di film iron man/avengers atau skandal foto telanjangnya, pasti banyak dari kalian (terutama pria) yang mengidolakan (atau bahkan memfantasikan) scar-jo. Saya pribadi mengidolakan scar-jo karena menurut saya dia adalah wanita yang pintar menggunakan daya tariknya (coba bayangkan bila dia tidak memiliki sex appeal yang tinggi, pasti dia tidak akan selaku sekarang). Oke, saya mulai berfikiran sempit, mari kita lanjut.

Saya ingat disebuah wawancara (yang sayangnya saya lupa sumbernya darimana) dia pernah menyebutkan kalau dia bosan selalu menampilkan sex-appelnya, dia ingin sebuah peran dimana ia menjadi seseorang yang tidak memiliki daya tarik. Awalnya saya pikir “wow? Bagaimana caranya membuat dia tidak memiliki daya tarik?” dan ternyata jawabannya cukup terpapar di film ini.

We bought a zoo bercerita tentang Benjamin Mee yang baru saja ditinggal istrinya dan harus sendirian mengurus dua anaknya yang masih kecil. Karena ingin melepaskan diri dari bayang-bayang almarhum istrinya, dia membeli sebuah rumah yang juga kebun binatang. Anak perempuannya, Rosie, sangat senang bisa tinggal bersama hewan-hewan, sedangkan anak laki-lakinya, Dylan, semakin benci dengan ayahnya. Disana Benjamin bertemu dengan beberapa staf kebun binatang, dan bersama-sama, mereka kembali merenovasi kebun binatang tersebut.

Lucu, padahal awalnya saya sama sekali tidak tertarik dengan judul film ini (We bought a zoo. So what? Do I look like someone who cares?). Tapi begitu menonton rasa peduli saya perlahan muncul. Film ini lumayan enjoyable dan laughable. Maklum, film keluarga (Halo, siapa sih yang tidak suka film ringan?) dan based on a true story (Siapa sih yang tidak suka true story? Ini yang buat acara Oprah laku). Ya, total sudah dua kelebihan film ini, film keluarga dan true story. Jadi kira-kira nasibnya mungkin bakal 11-12 seperti filmnya Sandra bullock yang menang oscar itu.

nggak sexy sih, tapi tetep aja cantik……..

Dan seperti yang saya bilang tadi, disini Scar-jo tidak seksi tapi tampil sebagai seorang staf kebun binatang yang macho. Anehnya ketika menonton film ini ingatan saya seperti dihapus, saya sampai lupa kalau itu scar-jo, scar-jo yang seksi, yang punya sex-appeal tinggi. Hebat, salut buat scar-jo, aktingnya bisa membuat short memory loss. Kemudian disini ada Elle Fanning yang cukup membuat saya kaget karena berperan sebagai seorang gadis desa yang ceria (dimana di film sebelumnya ia selalu tampak pendiam). Matt Damon? Hmm, semakin lama semakin mirip Mark Wahlberg.

Overall film ini cocok banget buat kalian yang butuh film ringan dan menghibur, apalagi  buat fans nya Scarlett Johansson (buat fans prianya, maaf sekali disini kalian tidak dapat melihat keseksiannya). Mata saya sempat tergenang ketika adegan pertengkaran ayah-anak, mengingatkan saya kalau saya sangat sayang dengan ayah saya (maaf sedikit curhat). Tapi itu fungsi film keluarga bukan? Bukan untuk memamerkan gambaran sebuah keluarga ideal, tapi untuk mengingatkan kita bahwa sebenarnya keluarga kita ideal just the way it is (sekarang malah sok bijak). Jadi, selamat menonton.

In The Mood for Love (2000)

Sutradara: Wong Kar-Wai

Aktor/aktris: Maggie Cheung Man-Yuk (Mrs. Chan), Toni Leung Chiu-Wai (Mr. Chow)

Tempat/waktu nonton: Film unduhan/ Mei

It is a restless moment

She has kept her head lowered…

To give him a chance to come closer

But he could not, for lack of courage

Mengambil latar di tahun 1962, film ini bercerita tentang Mrs. Chan yang baru pindah ke sebuah kamar, dan tetangganya yang juga baru pindah, Mr. Chow. Mrs. Chan cantik, disegani banyak pria, namun suaminya sering melancong untuk berbisnis. Mr. Chow baik, bahkan terlalu baik sebagai suami, namun istrinya tidak banyak merasakan kebaikannya karena jarang di rumah. Memiliki kondisi yang sama, Mrs. Chan dan Mr. Chow kemudian berteman dan saling bertukar pikiran mengenai kondisi masing-masing. Lambat laun, cinta pun bersemi. Sayangnya, ketakutan akan isu buruk dan keadaan sekitar memaksa mereka untuk memendam cinta mereka.

Banyak orang yang berkaki gatal dengan alur lambat, saya salah satunya. Untuk menonton sebuah film drama dengan alur lambat, saya harus mempersiapkan mood dan niat yang kuat. Saya pada awalnya tidak tahu kalau alur film ini akan lambat. Namun entah arwah apa yang merasuki saya, kali ini saya mampu melupakan rasa gatal dan meresapi segala yang ada didalam film ini.

Mr. Chow dan Mrs. Chan dalam satu frame

 Secara perlahan-lahan Wong Kar-Wai membuai saya dengan aura manis dan kelembutan alur lambat, membuat hati yang tadinya beku ini sedikit mencair. Kejeniusannya dalam memadukan teknik slow motion dan musik klasik, tidak menjadikan film ini klise, tapi malah menyulapnya menjadi sebuah masterpiece. Gambar yang kebanyakan still (tidak bergerak), tidak terasa membosankan karena yang terlihat adalah sebuah karya seni berestetika tinggi. Ya, disini saya juga memberikan apresiasi terdalam saya kepada Christopher Doyle dan Mark Lee Ping-Bing, sang penata kamera.

 Mr. Chow disebuah kuil. Salah satu adegan yang saya suka.

Belum lagi ceritanya. Walaupun tema pernikahan dan perselingkuhan ini cukup sering diaplikasikan, namun dengan latar negara China tahun 1962 membuat perbedaan rasa. China juga menerapkan adat ketimuran, apalagi di era itu, perselingkuhan merupakan suatu hal yang tabu, ditambah mereka berdua sudah berkeluarga. Betapa suatu hal yang memalukan, sehingga mereka berdua takut dengan kemunculan isu yang tidak enak. Cerita film dibawakan dengan tidak banyak dialog, sehingga penonton bisa dibuat lebih hanyut dalam indahnya teknik slow motion dan estetika gambar. Juga tidak adanya adegan seks dan ciuman dalam film ini membuat film ini semakin terasa manis. Pantas sudah film ini menyabet penghargaan Technical Grand Prize dan masuk dalam nominasi Palm d’Or di Cannes.

Mr. Chow: In the old days, if someone had a secret they didn’t want to share, you know what they did?

Mr. Koo: Have no idea…

Mr. Chow: They went up a mountain found a tree. Carved a hole in it, and whispered the secret into the hole. Then they covered it with mud. And leave the secret forever.

In the mood for love, judulnya sanggup merepresentasikan keseluruhan isi filmnya. Film ini dapat membawa mood saya untuk turut merasakan cinta antara Mr. Chow dan Mrs. Chan, secara perlahan tapi pasti. Kalau kata orang Jawa, alon-alon asal klakon, mungkin untuk Wong Kar-Wai, alon-alon asal jadi masterpiece! Oh iya, di dalam film ini ada lagu Bengawan Solo vesi inggris juga lho. Akhir kata, film ini sangat saya rekomendasikan untuk semua orang yang ingin merasakan manis dan lembutnya drama cinta beralur lambat. Selamat menonton!

 

Kabhi Khushi Kabhie Gham (2001)

“It’s all about loving your parents…” – Karan Johar

Sutradara:Karan Johar

Aktor/aktris: Sharukh Khan (Rahul), Amitabh Bachan (Yash Raichand), Jaya Bachan (), Hrithik Roshan (Rohan), Kajol (Anjali)

Tempat/waktu nonton: Film unduhan/ awal september

Film ini bercerita tentang Rahul, seorang anak pengusaha papan atas, yang jatuh cinta dengan Anjali, gadis biasa dari kalangan bawah. Rahul yang ditentang habis-habisan oleh ayahnya memilih kawin lari dengan Anjali. (Film ini sedikit mengingatkan saya dengan Romeo and Juliet, walaupun dengan versi India, dan tentu saja tidak sampai bunuh diri). Rohan, adik Rahul, yang baru pulang dari boarding school dan mendapati kakaknya telah pergi dari rumah kemudian bertekad untuk menemukan kakanya dan membawanya pulang.

Mungkin penyimpulan cerita yang saya buat sendiri di atas kurang detail, ada banyak cerita lain di sela-sela itu, seperti misalnya Rahul yang adalah anak angkat, Ayah Rahul yang begitu keras dengan tradisi keluarga, sampai Rahul yang menolak dijodohkan oleh ayahnya. Tentu saja hal-hal yang saya ceritakan bukan spoiler. Film ini memiliki banyak konflik-konflik kecil, tapi mereka tidak lari dari tema, keluarga. Ya, keluarga, tempat munculnya banyak konflik, sekaligus tempat belajar apapun.

Selayaknya film India, film ini juga memainkan emosi penontonnya. Jengkel, sedih, tertawa, berbunga-bunga, mengantuk, sampai ikut menari-nari, sudah beberapa kali saya ulangi. Karena permainan emosi itu, film berdurasi 3 jam 30 menit ini tidak terasa membosankan. Selain itu mungkin karena tema nya keluarga, jadi saya tetap setia duduk manis menonton, mencoba mempelajari bagaimana seharusnya mencintai kedua orang tua saya.

Saya suka satu adegan, adalah ketika hujan dan Rahul memegang kepala Anjali. Menurut saya adegan itu adalah simbolisme orang India bahwa hanya keluarga yang berhak memegang kepala, dan karena pada saat itu mereka berkeluarga, secara tidak langsung menjelaskan bahwa Rahul siap menjadikan Anjali sebagai keluarga. Oiya, Rahul dan Anjali juga merupakan nama tokoh di Kuch-Kuch Hota Hai, dan beberapa adegan di film ini ‘menyinggung’ film itu; salah satunya ketika Naina (Rani Mukherji) bilang “..I loved a certain Rahul who couldn’t be mine”, Rani Mukherji tadinya berperan sebagai Tina, istri Rahul di Kuch-Kuch Hota Hai; atau tiba-tiba terlihat seorang anak sedang menghitung bintang. Bagi yang sudah pernah menonton Kuch-Kuch Hota Hai, itu adalah lelucon.

Film ini cocok ditonton untuk kalian yang merasa tidak disayang oleh kedua orangtuanya, atau kalian yang merasa buruk sebagai orang tua. Ya intinya sih, film ini adalah film keluarga, jadi cocok untuk ditonton semua anggota keluarga. Apalagi adegan pembukanya, dimana Amitab Bachan dan berbicara, sangat membuka pikiran kita terhadap ayah dan ibu.

My Personal rate: 7.5/10

Brooklyn’s Finest (2010)

Sutradara: Mike Nichols

Aktor/aktris: Richard Gere (Eddie), Don Cheadle (Tango), Ethan Hawke (Sal), Wesley Snipes (Caz)

Tempat/waktu nonton: DVD/ bulan agustus

Membaca judulnya saya sungguh tidak tertarik dengan film ini, apalagi melihat posternya. Yang terfikir ketiga melihat kedua hal tersebut adalah sebuah drama kehidupan membosankan dengan latar belakang kota Brooklyn. Tapi ternyata apa yang ada di fikiran saya salah, walaupun kedua hal tersebut tidak menarik, bukan berarti filmnya juga tidak akan menarik.

Film ini berlatar belakang dimana polisi sedang tidak dipercaya oleh masyarakat karena seringnya melakukan kesalahan penembakan dan cover-up stories yang terlalu mengada-ada. Disitulah terdapat cerita kehidupan 3 perwira polisi yang berbeda jabatan. Eddie, seorang patroli keliling senior yang kesepian dan sebentar lagi pensiun. Eddie taat dengan hukum dan tidak sekalipun mau melanggarnya. Sal, seorang swat yang mempunyai banyak anak dan kebingungan karena istrinya yang sedang hamil sakit. Sal pun menghalalkan segala cara, termasuk mencuri uang dari penjahat, demi memecahkan masalah ekonomi keluarganya. Dan Tango, seorang undercover yang terlalu lama berteman dengan Cal, target operasi. Tango kebingungan ketika polisi meminta Cal untuk segera ditangkap atau dibunuh.

Satu hal yang menarik dari ketiga cerita polisi diatas yaitu, walau mereka semua memiliki masalah yang berbeda, hal yang menyatukan mereka adalah kesetiaan pada penegakan hukum. Saya suka dengan cerita di film ini; latar belakang ceritanya jelas, yaitu dimana polisi sedang mengumpulkan kepercayaan masyarakat; latar belakang karakternya menarik, seperti sama-sama  perwira walau dengan jabatan yang berbeda; serta pengenalan dan pengembangan karakternya tepat sasaran, seperti misalnya Eddie yang kesepian diceritakan sering mengunjungi pacarnya yang juga pelacur.

Film ini mungkin agak membosankan di tengah, terlebih filmnya sendiri berdurasi 2 jam. Tapi begitu sampai pada seperempat babak di akhir, jantung saya serasa dihimpit oleh ketegangan-ketegangan adegan aksi yang membuat saya penasaran apa yang akan terjadi selanjutnya. Seperti film drama lain yang banyak menghubungkan cerita dan mempertemukan karakter, film ini juga mempertemukan ketiga karakternya di akhir cerita. Dan disitulah menurut saya, sumber tanda tanya sekaligus sumber ketegangan paling tinggi dalam film ini, apakah nasib mereka akan berakhir sama?

Secara keseluruhan, film ini tidak lebih dari film drama aksi biasa. Yang luar biasa adalah penggambaran dari pengembangan karakter yang memiliki jenis pekerjaan dan latar belakang yang berbeda-beda. Oiya, jangan harap banyak tembakan atau misteri pengungkapan narkoba di film ini, karena film ini lebih bertumpu pada kehidupan.

My Personal Rate: 7.5/10

Ruma Maida (2010)

Sutradara: Teddy Soeriaatmadja

Aktor/aktris: Atiqah Hasiholan (Maida), Yama Carlos (Sakera), Nino Fernandez (Isaac Pahing), Frans Tumbuan (Dasaad Muchlisin), Imam Wibowo (Bung Karno)

Tempat/waktu nonton: DVD/ awal September

Film ini bercerita tentang Maida, seorang mahasiswi idealis yang mengelola sebuah sekolah gratis bagi anak jalanan di sebuah rumah tua. Karena rumah itu hendak dijadikan pertokoan oleh seorang pengusaha, Maida dan sekolah liarnya terancam terusir. Dalam perjuangannya merebut kembali rumah tua itu, Maida justru menemukan misteri dan fakta-fakta sejarah seputar rumah tersebut. Rumah itu pernah menjadi saksi kisah cinta tragis dalam latar pergerakan kemerdekaan Bangsa Indonesia.

Pertama saya menyaksikan film ini, saya terkejut dengan sinematografinya yang indah. Kemudian setelah mengikuti alur ceritanya saya terkejut dengan sejarah-sejarah yang dipaparkan di film ini. Saya bahkan berfikir tadinya film ini adalah non fiksi, atau istilahnya dokumenter. Tapi setelah tahu bahwa film ini adalah fiksi belaka, saya makin terkejut, ternyata orang Indonesia bisa membuat film seperti ini. Film yang mengingatkan saya dengan film The Da Vinci Code, Angels and Demons, Pearl Harbor, dan sebagainya.

Film ini memiliki banyak sub-tema seperti sejarah, percintaan, kehidupan sosial, idealisme, sampai keluarga. Namun semua itu mempunyai takaran masing-masing, dan lebihnya lagi, takarannya tepat dan sesuai, sehingga adonannya pun berhasil menjadi suatu jalan cerita yang matang dan menarik. Sejarahnya, walaupun fiksi, membuat saya setidaknya bangga dengan film ini, akhirnya Indonesia memiliki film yang menyangkut sejarah bangsa. Percintaannya, dibentuk dengan manis, berakhir dengan tragis. Kehidupan sosial, selalu ditunjukkan di hampir seluruh adegan, tersirat maupun tidak. Idealisme, ditunjukkan oleh karakter Maida yang menganut paham kiri, dan Sakera yang fleksibel. Dan keluarga, walaupun tidak banyak disinggung, tapi penjelasan tentang perbedaan adat pun jelas dapat ditangkap oleh penonton.

Hal diatas membuat saya salut sama Ayu Utami (penulis naskah), walaupun ia sudah terkenal sebagai penulis novel kawakan, tapi ketika menulis untuk film, yang notabene berbeda 180 derajat dengan menulis novel, hasilnya pun sama bagusnya, sama indahnya, dan sama menariknya.

Bung Karno, Isaac Pahing, dan orkes keroncongnya

Film yang bersetting di dua jaman yang berbeda, masa lalu (tahun-tahun kemerdekaan) dan masa kini (era reformasi, 1998), walau dengan satu latar tempat yang sama, namun memiliki kualitas artistik dan sinematografi yang begitu teliti dan mengagumkan. Seperti misalnya, museum yang disulap menjadi gedung-gedung baru di jaman dulu, seragam dinas pasukan Jepang.. Oh, saya belum bercerita tentang adegan favorit saya, yaitu adegan pembuka film ini, dimana digambarkan pesawat yang sedang melayang diudara.. Kenapa saya suka? Tentu saja karena saya merasa Indonesia belum pernah mempunyai film dengan adegan se-keren itu.

Hal diatas juga yang membuat saya salut dengan Ical Tanjung, pengarah sinematografi, dan Indra Musu, penata artistik, di film ini. Di otak cerdik merekalah saya bisa merasa dibawa masuk ke dalam era kemerdekaan, seperti hidup di tahun 1930-an. Dan tentu saja saya angkat keempat jempol saya kepada Teddy Soeriaatmaja selaku sutradara dan produser, dan berterimakasih kepadanya telah membuat film Indonesia yang seutuhnya Indonesia dan seharusnya Indonesia.

Secara keseluruhan saya jatuh cinta dan bangga dengan film ini. Menurut saya film ini pantas mendapatkan Piala Citra tahun ini untuk hampir semua kategori. Ini yang seharusnya disebut kebangkitan film Indonesia, bukan film-film remaja hantu murahan itu. Saya sangat sangat sangat sangat merekomendasikan film ini untuk ditonton oleh anda. Jadi, tanpa fikir panjang, segera mampir ke toko DVD terdekat lalu tontonlah! Oiya, jangan beli DVD bajakan ya, setidaknya ini adalah karya anak bangsa sendiri, jadi banggalah.

My Personal Rate: 8.5/10

Gattaca (1997)

Bersetting pada sebuah dunia dimana kita bisa dengan gampangnya mengetahui DNA orang lain, film ini berkisah tentang Vincent, seorang pria yang dilahirkan rentan secara genetik, namun mempunyai mimpi dan keinginan yang besar untuk pergi menjelajah luar angkasa. Vincent yang kemudian bekerja di Gattaca (NASA) sebagai seorang tukang sapu karena selalu diremehkan ayahnya, akhirnya menemukan jalan untuk menggapai impiannya dengan menggunakan DNA orang lain. Namun, selangkah impiannya akan terwujud, terjadi pembunuhan di Gattaca dan secara tidak sengaja DNA aslinya tertinggal di dalam TKP.

Manis dan heartwarming. Film bergenre drama-romance-scifi ini totalitas dalam meluluhkan hati saya. Alunan melodi pada scoring-nya menambah kehangatan di sekitar, mampu menambah tusukan di kelenjar air mata. Belum lagi kemampuan akting Ethan Hawke, yang disini berperan sebagai Vincent, berhasil membuat saya terbuai dengan aktingnya menjadi pria lemah yang optimistis. Dan Jude Law pun tetap memukau pada film ini, berperan sebagai seorang pria hampir sempurna dan seorang sahabat, membuat hati saya terenyuh.

Film ini memiliki banyak sub-tema dan konflik seperti seperti keluarga, kakak-adik, persahabatan, percintaan, dan misteri, tapi tidak membuat film ini kehilangan jalannya, film ini justru berhasil memadukan semuanya menjadi suatu jalan cerita yang indah dan menarik. Banyaknya sub-tema dan konflik yang ada pun tercipta dan terselesaikan dengan baik, membuat film ini terlalu jelas dimengerti dan kadang saya dapat menebak belokan selanjutnya. Walaupun kurang twist, film ini menjadi salah satu film drama-romance-scifi yang akan terukir di hati saya, setelah “Eternal Sunshine of The Spotless Mind”.

Disebutkan di paragraph sebelumnya film ini bergenre drama-romance-scifi, tetapi jangan banyak berharap dengan scifinya. Film ini bukanlah star wars dengan robot dan perangkat anehnya atau iron man dengan computer transparannya. Film ini hanya memiliki kadar sekitar 20% dalam hal scifi, tapi walaupun begitu, science dan fiction yang terdapat di dalam film ini mampu membuat saya berdecak kagum karena kedua hal itu terdapat di seluruh bagian dalam film mulai dari dialog scifi yang cerdas, peralatan yang tidak-begitu-keren-tapi-mutakhir, serta beberapa adegan yang menunjukkan bahwa cerita dan skenario pada film ini memang dibuat sebegitu dalamnya dengan scifi namun ditunjukkan dengan cara yang berbeda.

Sutradara: Andrew Niccol

Aktor/aktris: Ethan Hawk (Vincent), Jude Law (Jerome), Uma Thurman (Irene)

Tempat/waktu nonton: Film unduhan/ Agustus

My personal rate: 9/10