Sang Penari (2011); menari-nari di dalam emosi

Sutradara: Ifa Isfansyah

Aktor/aktris: Prisia Nasution (Srintil), Oka Antara (Rasus), Slamet Rahardjo (Dukun Ronggeng), Lukman Sardi (Bakar), Tio Pakusadewo (Sersan)

Tempat/waktu nonton: Bioskop/ November

**Bukan, ini bukan film tarian sampah seperti arwah goyang karawang atau pocong mandi goyang pinggul. Jangan takut, baca dulu lalu tontonlah.**

Film Sang Penari bekisah tentang kisah cinta Srintil dan Rasus, dua anak muda dari Desa Dukuh Paruk, dengan latar belakang budaya daerah dan rezim komunisme. Srintil, yang sejak kecil ingin menari ronggeng, akhirnya mengetahui kewajiban dan tanggung jawabnya setelah berhasil menjadi penari ronggeng. Rasus, teman Srintil sedari kecil, tidak menyukai Srintil menjadi penari ronggeng dan memilih pergi dari desa untuk menjadi seorang tentara.

Disisi lain, ada seorang pemuda termodernisasi bernama Bakar yang mempunyai tujuan untuk ‘memerahkan’* Dukuh Paruk. Seluruh warga desa yang buta aksara pun tanpa sadar sudah ‘dimerahkan’. Ketika TNI melakukan pembasmian terhadap oknum-oknum PKI, Dukuh Paruk pun terkena imbasnya. Mengetahui hal itu, Rasus pun langsung mencari keberadaan Srintil.

Ada tiga hal yang saya cermati di film ini. Pertama tentu jelas ceritanya, yang terinspirasi dari novel karya Ahmad Tohari yang berjudul Ronggeng Dukuh Paruk. Balutan drama percintaan dengan latar waktu bersejarah memang tidak pernah tidak menarik. Tidak percaya? Lihat saja Casablanca, Atonement, Titanic, atau produksi dalam negeri, Ruma Maida dan Tanda Tanya. Selain itu, cerita ini juga memasukkan unsur budaya, mulai dari tarian ronggeng, bakar sesajen, sampai adat buka kelambu. Paduan dua unsur tersebut dapat menyutikkan steroid pada sebuah kisah cinta sederhana, membuat seluruh jalinan cerita berjalan rumit dan mengharukan. Luar biasa! Salut untuk Salman Aristo, Ifa Isfansyah dan Shanty Harmayn, trio maut penulis skenario.

Hal kedua adalah sinematografi, dan artistik. Berkali-kali saya berdecak kagum mengganggu penonton di sebelah saya hanya karena sudut pengambilan gambar yang dramatis ditambah lokasi menarik yang entah ada dimana. Kalau ditanya adegan mana yang paling dramatis saya tidak bisa menjawab, yang pasti salah duanya adalah adegan terakhir dan ketika Rasus kecil melihat hiruk pikuk warga desa (memperlihatkan banyaknya kaki yang berlarian dan muka Rasus yang sedih pada satu frame). Kalau dari segi lokasi tentu favorit saya adalah bunker dan rel kereta.

Akting adalah hal ketiga, tetapi tidak berarti urutan ketiga. Banyaknya pemain film berkualitas di film ini membat saya tidak perlu menceritakan semuanya, hanya dua pemain utama saja. Menurut saya, Oka Antara sudah berhasil memerankan pria lugu bermata sayu dengan logat jawa yang kental. Wajar saja karena dia sudah lama berlalu-lalang di perfilman Indonesia. Yang membuat saya jungkir balik adalah Prisia Nasution. Awalnya saya ragu karena dia adalah pemain ftv, yang bisa dibilang hanya membutuhkan kemampuan akting yang standar, tapi ternyata dia bisa membuktikan kalau kemampuan aktingnya memang jauh dari kata itu. Jika ditanya apa perannya di film ini maka saya akan menjawab nakhoda kapal. Berperan sebagai penari ronggeng yang tersiksa karena kewajibannya serta seseorang yang menginginkan cinta dan merindukan kekasihnya, ekspresi dan aktingnya berhasil membuat saya ikut tersiksa. Ditambah kehebatannya untuk berakting ketika harus telanjang dada dan beradegan ranjang, sudah seharusnya dia mendapatkan piala FFI.

Poin tambahan untuk musiknya. Walaupun saya tidak terlalu mengerti, tapi padanan musik tradisional dengan biola menambah kesan haru untuk film ini. Poin tambahan lagi untuk Happy Salma. Sebagai pemeran tamu dia sangat berhasil mencuri atensi penonton selama 10 menit awal.

Kekurangan? Hilangnya sebuah cerita sebelum ending. Cerita yang mengaitkan adegan pada rel kereta dengan pertemuan kembali Rasus dan Srintil. Hal ini membuat pertemuan kembali mereka berdua terlihat sebagai suatu ketidaksengajaan. Namun terlepas dari hilangnya sebuah cerita, ending film ini tetaplah merobek-robek perasaan saya.

Beribu-ribu terimakasih untuk Ifa Isfansyah yang telah menyatukan cerita, sinematografi, artistik, akting, dan musik dalam sebuah film yang telah mempermainkan emosi saya. Membuat saya mengeluarkan kata-kata kasar untuk sebuah pujian. Membuat saya betah menahan kencing selama hampir 2 jam. Serta membuat saya malu karena harus menangis di dalam bioskop (terakhir kali saya menangis di bioskop ketika Mufasa meninggal). Dia berhasil membuat saya berfikir ternyata masih banyak harapan untuk film Indonesia.

*merah: julukan untuk partai komunis (pada jaman itu)

Ruma Maida (2010)

Sutradara: Teddy Soeriaatmadja

Aktor/aktris: Atiqah Hasiholan (Maida), Yama Carlos (Sakera), Nino Fernandez (Isaac Pahing), Frans Tumbuan (Dasaad Muchlisin), Imam Wibowo (Bung Karno)

Tempat/waktu nonton: DVD/ awal September

Film ini bercerita tentang Maida, seorang mahasiswi idealis yang mengelola sebuah sekolah gratis bagi anak jalanan di sebuah rumah tua. Karena rumah itu hendak dijadikan pertokoan oleh seorang pengusaha, Maida dan sekolah liarnya terancam terusir. Dalam perjuangannya merebut kembali rumah tua itu, Maida justru menemukan misteri dan fakta-fakta sejarah seputar rumah tersebut. Rumah itu pernah menjadi saksi kisah cinta tragis dalam latar pergerakan kemerdekaan Bangsa Indonesia.

Pertama saya menyaksikan film ini, saya terkejut dengan sinematografinya yang indah. Kemudian setelah mengikuti alur ceritanya saya terkejut dengan sejarah-sejarah yang dipaparkan di film ini. Saya bahkan berfikir tadinya film ini adalah non fiksi, atau istilahnya dokumenter. Tapi setelah tahu bahwa film ini adalah fiksi belaka, saya makin terkejut, ternyata orang Indonesia bisa membuat film seperti ini. Film yang mengingatkan saya dengan film The Da Vinci Code, Angels and Demons, Pearl Harbor, dan sebagainya.

Film ini memiliki banyak sub-tema seperti sejarah, percintaan, kehidupan sosial, idealisme, sampai keluarga. Namun semua itu mempunyai takaran masing-masing, dan lebihnya lagi, takarannya tepat dan sesuai, sehingga adonannya pun berhasil menjadi suatu jalan cerita yang matang dan menarik. Sejarahnya, walaupun fiksi, membuat saya setidaknya bangga dengan film ini, akhirnya Indonesia memiliki film yang menyangkut sejarah bangsa. Percintaannya, dibentuk dengan manis, berakhir dengan tragis. Kehidupan sosial, selalu ditunjukkan di hampir seluruh adegan, tersirat maupun tidak. Idealisme, ditunjukkan oleh karakter Maida yang menganut paham kiri, dan Sakera yang fleksibel. Dan keluarga, walaupun tidak banyak disinggung, tapi penjelasan tentang perbedaan adat pun jelas dapat ditangkap oleh penonton.

Hal diatas membuat saya salut sama Ayu Utami (penulis naskah), walaupun ia sudah terkenal sebagai penulis novel kawakan, tapi ketika menulis untuk film, yang notabene berbeda 180 derajat dengan menulis novel, hasilnya pun sama bagusnya, sama indahnya, dan sama menariknya.

Bung Karno, Isaac Pahing, dan orkes keroncongnya

Film yang bersetting di dua jaman yang berbeda, masa lalu (tahun-tahun kemerdekaan) dan masa kini (era reformasi, 1998), walau dengan satu latar tempat yang sama, namun memiliki kualitas artistik dan sinematografi yang begitu teliti dan mengagumkan. Seperti misalnya, museum yang disulap menjadi gedung-gedung baru di jaman dulu, seragam dinas pasukan Jepang.. Oh, saya belum bercerita tentang adegan favorit saya, yaitu adegan pembuka film ini, dimana digambarkan pesawat yang sedang melayang diudara.. Kenapa saya suka? Tentu saja karena saya merasa Indonesia belum pernah mempunyai film dengan adegan se-keren itu.

Hal diatas juga yang membuat saya salut dengan Ical Tanjung, pengarah sinematografi, dan Indra Musu, penata artistik, di film ini. Di otak cerdik merekalah saya bisa merasa dibawa masuk ke dalam era kemerdekaan, seperti hidup di tahun 1930-an. Dan tentu saja saya angkat keempat jempol saya kepada Teddy Soeriaatmaja selaku sutradara dan produser, dan berterimakasih kepadanya telah membuat film Indonesia yang seutuhnya Indonesia dan seharusnya Indonesia.

Secara keseluruhan saya jatuh cinta dan bangga dengan film ini. Menurut saya film ini pantas mendapatkan Piala Citra tahun ini untuk hampir semua kategori. Ini yang seharusnya disebut kebangkitan film Indonesia, bukan film-film remaja hantu murahan itu. Saya sangat sangat sangat sangat merekomendasikan film ini untuk ditonton oleh anda. Jadi, tanpa fikir panjang, segera mampir ke toko DVD terdekat lalu tontonlah! Oiya, jangan beli DVD bajakan ya, setidaknya ini adalah karya anak bangsa sendiri, jadi banggalah.

My Personal Rate: 8.5/10

Red Cobex (2010)

“sutradara dan aktor yang bagus terkadang tidak menjamin film nya menjadi bagus”

Sudah lama tidak menyaksikan sinema Indonesia di bioskop, ternyata cukup membuat saya rindu. Saya pun memilih Red Cobex, sebuah film komedi terbaru garapan sutradara Upi yang terkenal dengan Serigala Terakhir nya. Dengan harapan mendapatkan komedi dibalik lakon Tika Pangabean, Indy Barends, dan Shanty.

Red Cobex bercerita tentang Yopi, anak dari pimpinan geng Red Cobex, geng wanita yang paling ditakuti di Jakarta. Karena mencuri toko perhiasan, Yopi dan seluruh anggota Red Cobex di penjara. Yopi yang keluar lebih dulu dibanding geng ibunya itupun mengadu nasib sendirian di Jakarta. Menginap di rumah temannya, Ramli, Yopi pun berubah menjadi orang yang lebih baik. Hingga suatu saat dia bertemu dan jatuh cinta dengan Astuti.

Saya baru saja terkena penipuan. Film ini yang menipu saya. Tadinya saya pikir film ini akan mengisahkan geng Red Cobex dan kehebohan Tika Panggabean, Indy Barends, Cut Mini, Sarseh, Aida Nurmala tawuran dengan geng lain. Tapi ternyata saya ditipu mentah-mentah, film ini malah mengisahkan preman tobat yang jatuh cinta. Terlebih kemundulan ‘Red Cobex’ nya sendiri hanya sebentar. Kalau begitu, kenapa judulnya Red Cobex? Kenapa posternya begitu? Kenapa anunya begini? Ah, kecewa.

Baiklah, saya terima ceritanya yang tidak berkesinambungan dengan judul dan poster. Beralih ke hal lain, artistik. Saya mungkin orang awam yang hanya mengerti film dari kulitnya saja. Tapi orang buta pun terganggu dengan kualitas warna yang terkesan seadanya dan hampir berbeda setiap scene. Dimaklumi kalau memang kamera yang digunakan dan cuaca pada saat produksi berbeda-beda, tapi seharusnya “ketergangguan” ini bisa diminimalisir dengan pewarnaan pada saat editing film. Ah, kecewa.

Kecewa dan kecewa. Tapi kekecewaan itu terbayar dengan akting memukau dari Tika Panggabean, Indy Barends, dan Shanty. Tika Panggabean sangat menjiwai perannya sebagai pimpinan geng asal Ambon. Bahkan saya sempat lupa kalau dia bukan orang Ambon. Indy Barends adalah presenter yang selalu berhasil membuat saya tertawa. Di film ini pun, walau ternyata kemunculannya hanya sedikit, tingkah lakunya tetap berhasil membuat saya tertawa. Dan Shanty, dia selalu memukau di semua film yang pernah dibintanginya. Dan kali ini, berperan sebagai wanita betawi yang haus akan belaian suaminya, aktingnya sungguh mengocok perut saya. Mata sayapun sampai berair karena menertawakan kelakuannya.

Overall, film ini 50-50, cukup mengecewakan, tapi juga cukup menghibur (baca: mengocok perut). Oiya, salah satu pesan yang diangkat film ini adalah Bhinneka Tunggal Ika, oleh karena itu banyak tokohnya dibuat dengan ras yang berbeda-beda. Tidak bermaksud rasis, tapi justru mengajarkan penontonnya untuk tidak rasis, sayangnya “unsur mengajarkan” di film ini kurang terasa. Film ini cocok ditonton untuk bahan tertawa, tanpa perlu memikirkan kesinambungan cerita dengan judul. Jadi, selamat menonton! Majulah terus perfilman Indonesia!

Sutradara: Upi

Aktor: Tika Panggabean(Mama Ana), Cut Mini (Meymey), Indy Barens (Lisa), Aida Nurmala (Halimah), Sarah Sechan (Bariah), Lukman Sardi (Yopi), Irfan Hakim (Ramli), Shanti (Ipah), Revalina S Temat (Astuti)

Tempat/waktu nonton: Bioskop/ 22 Juni 2010

My personal rate: 5/10

Bahwa Cinta Itu Ada / Gading Gading Ganesha (2010)

BAHWA CINTA ITU ADA

(Gadung Gadung Ganesha)
Selasa 2 Maret 2010 gue berkesempatan untuk dateng ke Gala Premiere film almamater ini di XXI PIM II. Kebetulan LFM (Liga Film Mahasiswa ITB -unit gue) dapet 6 undangan, dan salah satu yang hoki mendapatkan undangan itu adalah gue (dengan janji akan membuat review).

Kalau boleh jujur, poster film ini membuat gue eneg ga berselera. Yang membuat gue ingin menonton film ini adalah rasa cinta gue terhadap almamater (penjilat) dan undangan Gala Premiere di Jakarta (sekalian bisa beli Burger King). Awalnya gue yakin film ini bakal sebagus Jomblo atau film-film bertema mahasiswa lainnya. Tapi hal itu musnah seketika ketika diingatkan oleh seorang teman, kalau film ini digarap kurang dari 1 tahun (pra-produksi-dan pasca). Ekspektasi gue langsung rendah.

Film ini bercerita tentang kehidupan slamet (ariyo wahab), poltak (restu sinaga), ria, beni (rizki hanggono), fuad (alex abbad), gungun (denis adiswara), yang besahabat sejak kuliah. Mereka datang dari daerah yang berbeda-beda, dan memiliki karakter dan interest yang berbeda-beda. Karena satu hal, mereka bertemu lagi pada saat mereka sudah tua.

Pada scene awal diperlihatkan ada seorang dalang yang sedang bermain wayang kulit, dalang ini berfungsi menjelaskan isi cerita (narator). Cukup menarik dan sangat sujiwo tejo. Mulai masuk ke film, dari gambar aja gue udah langsung kecewa karena teknis pengambilan gambarnya standar dan sinetron style*, udah gitu warnanya sama sekali tidak di-edit, bahkan anak tk pun bisa mengedit warna pada film lebih baik dari itu. Dari kualitas visualisasi aja udah tidak menggairahkan, gue makin khawatir dengan kualitas cerita dan sebagainya.

(*pengambilan gambar sinetron style: potongan frame dari pundak sampai kepala tanpa memikirkan keindahan dan komposisi)

Masuk ke cerita nih, sorry to say but its a crap, total disaster. bahkan sampai detik ini pun gue tidak mengerti di belahan mananya “bahwa cinta itu ada” ada di dalam film. Ceritanya bertele-tele, seakan diperpanjang dan dibuat-buat. Kalau disejajarkan dengan sinetron, mungkin ini udah masuk episode ke tiga juta. bahkan cerita Ftv di salah satu tv swasta dijamin lebih bagus dari film ini. Hanya membuang waktu saja. Dear mas Sujiwo tejo, kenapa kau tidak membaca novelnya dulu sebelum membuat filmnya?

Parah capeknya nonton film ini, kebanyakan mikirin hubungan ini-itu-anu. Scriptnya berantakan, sama sekali tidak detail. Alurnya bolong-bolong, tidak kontinu. Tidak ada pengembangan karakter yang terlihat di film ini. Tidak terdeskripsikan sama sekali kehidupan mereka yang katanya ‘bersahabat’ itu. Chemistry-nya tidak bisa ditemukan karena selain ceritanya bolong-bolong, akting para pemainnya agak mengecewakan. Rizki hanggono dan denis adiswara yang udah itb banget pun (seperti di film Jomblo) nggak sanggup tampil totalitas disini. Seakan bermain di sinetron.

Belum lagi setting di film ini, tahun 80-annya terlihat seperti tahun 2009 dan sebaliknya tahun 2009 terlihat seperti 80-an, apasih maunya? Wardrobe dan propertinya juga kacau. Ada satu scene dimana rizki hanggono menggunakan kaos The Used (oh, The Used udah ada tahun 80-an ya?). Awful. Ayo kita buat perlombaan untuk menghitung berapa kesalahan tolol dan fatal di film ini.

Overall, film ini busuk. kenapa disebut Gading Gading Ganesha kalau ceritnaya sendiri adalah percintaan monyet kadal dan nggak ada sangkut pautnya dengan kehidupan ITB? Sebagai civitas akademika ITB dan seorang penikmat film gue kecewa! Masih mending nonton virgin 2 yang jelas-jelas bisa diketawain. Sujiwo tejo, kenapa kau malah membuat cerita sendiri yang ngalor-ngidul kesana kemari instead of making film based on its novel?

Film ini sangat tidak direkomendasikan. Satu-satunya yang membuat gue bertahan nonton film ini adalah rizki hanggono. Ganteng. Udah itu doang. Jangan habiskan waktu anda untuk menonton film sia-sia ini, lebih baik 4 Maret nanti kita nonton Tim Burton’s ALICE IN WONDERLAND 3D!!! Anyway, Selamat Menonton (alice in wonderland)!

Oiya, gue belum baca novelnya, tapi gue yakin novelnya lebih bagus 300% dibanding film nya. saran gue, mending baca novelnya aja dibanding nonton filmnya. Satu lagi, saya dapet dari milis Ikatan Alumni ITB, sujiwo tejo meminta maaf sama DR Dermawan (penulis novelnya) karena ceritanya jelas berbeda dengan novel karena dia takut tidak bisa membuat film sebagus novelnya. Mungkin ini juga yang menjadi alasan dia mengganti judulnya menjadi “bahwa cinta itu ada” dan bahwa sujiwo tejo itu gila. zzz.

My Personal Rate: 3/10

Rumah Dara (2010)

Rumah Dara (2010)

Rumah Dara adalah versi panjang dari film Dara (2009) yang awalnya berjudul Macabre (working title). Dulu gue sempat mengira kalau film ini adalah film pendek yang dipaksakan menjadi panjang, makanya gue menaruh ekspektasi gue pada level paling rendah.

Film ini bercerita tentang Ladia (Julie Estelle) yang melakukan perjalanan ke Jakarta bersama kakak dan teman-temannya. Di perjalanan mereka menolong Maya (Imelda Therine), yang mengaku kerampokan, dengan mengantarkannya pulang ke rumahnya. Sampai di rumah, Maya memperkenalkan mereka kepada ibunya, Dara (Sharifa Daanish) dan kakaknya, Adam (Arifin Putra). Ternyata mereka sekeluarga adalah psikopat yang selalu mencari korban, dan disanalah pembantaian itu berlangsung.

Film ini ternyata jauh berbeda dengan film sebelumnya. Ceritanya benar-benar di buat ulang, yang sama hanya karakternya saja. Alurnya masih tetap sama cepatnya, namun kali ini lebih thrilling dari film sebelumnya. Akting Sharifa Daanish disini jauh lebih bagus dibanding akting di film sebelumnya. Apalagi disini ia dituntut berperan sebagai wanita berumur sekitar 50 tahunan, sehingga ia harus mengubah suaranya menjadi lebih berat. Akting Arifin Putra dan Imelda Therine juga tidak kalah, mereka semua sanggup menjiwai peran sebagai psikopat berdarah dingin.

The Mo Brothers sanggup menyajikan horror yang berbeda ditengah film-film horror Indonesia lainnya yang busuk. Gue salut sama mereka sebagai sutradara karena mereka benar-benar mampu membuat penonton teriak, menangis, tertawa, dan menjerit pada saat bersamaan. Belum lagi didukung dengan kemampuan akting para aktris dan aktor yang sangat totalitas. Gue salut banget sama aktor dan aktris yang bermain di film ini, terpujilah mereka.

Overall, film ini benar-benarkeren banget! Semoga terus bermunculan film-film yang mendobrak film-film sampah Indonesia lainnya. Maju terus perfilman Indonesia, suguhilah kami tontonan bermutu yang layak dipelajari dan dijadikan legenda. Anyway, film ini wajib ditonton banget, Selamat Menonton!

My Personal Rate: 8.5/10

Dara/ Takut (2009)

Dara, Takut (2009)

Film Dara merupakan salah satu film pendek yang dimuat dalam film Takut, yang berisi 6 film pendek bergenre horror-thriller. Film Dara/Takut memang sudah lama, tapi berhubung Film panjangnya keluar (Rumah Dara), nggak ada salahnya kan menulis tentang film sebelumnya.

Film ini bercerita tentang Dara (Sharifa Daanish), seorang koki sekaligus pemilik restoran bintang lima yang terkenal dengan masakan dagingnya yang lezat. Ternyata daging pada masakan Dara adalah daging manusia. Dara mendapatkan korbannya menggunakan kecantikan yang dia miliki untuk merayu korbannya, yang sebagian banyak pria. Di dalam rumahnya, semua kekejaman (baca: mutilasi) itu terjadi.

Cerita nya cukup klise, tapi dibalut dengan alur cepat, pas banget buat film pendek bergenre thriller dimana harus thrilling setiap detik. Belum lagi aktingnya Danish disini totalitas banget. Gue bener-bener salut sekaligus nggak nyangka kalo aktris yang biasa main sitkom ini ternyata cocok dengan peran wanita psikopat. Efek darah dan daging di film ini juga nggak kalah sama film-film slasher luar negeri seperti saw. Katanya sih film makernya memakai darah hewan dicampur pewarna.

Film yang dibuat oleh The Mo Brothers (Kimo dan Timo) ini aslinya sudah keluar di pertengahan tahun 2007. Pada tahun yang sama, film ini masuk ke berbagai nominasi keren di ajang penghargaan film di luar negeri. Berikut ini adalah daftar nominasi nya pada tahun 2007:

  • Screamfest horror film festival, Los Angeles 2007
  • Freakshow Horror festival , Orlando 2007
  • DAM short film festival, Nevada 2007
  • Mauvais Genre film festiva, France
  • Surprise short film for Horrorthon film festival 2007 , Dublin

Sungguh menakjubkan ketika film dalam negeri bisa merambah segitu hebatnya di luar negeri sana. Apalagi film horror/slasher Indonesia. Film ini juga sempat menang di award luar negeri, yaitu Horror and science fiction film festival (International Short Winner) di Arizona dan NYC horror film festival 2007 (Audience Choice Award) di New York.

Pada tahun 2009 Liga Film Mahasiswa ITB sempat mengadakan pemutaran Film Dara di ITB, tentunya dengan mengundang The Mo Brothers. Disana mereka bercerita kalau mereka ingin membuat film slasher karena selain mereka fanatik terhadap genre film ini, mereka juga muak dengan film horror Indonesia yang sampah dan tidak berkembang. Pada waktu itu merekapun sempat promosi versi panjang dari film Dara yang (dulunya) berjudul Macabre (artinya: Massacre/ Pembunuhan massal).

Overall, film yang hanya berdurasi sekitar 15-20 menit ini benar-benar thrilling dan menakjubkan. Sebagai penggemar film psycho, gue memberikan standing ovation untuk film thriller/slasher Indonesia pertama. Anyway, film ini benar-benar bagus dan recommended, Selamat Menonton!

My Personal Rate: 8/10

Suster Keramas (2009)

Suster Keramas

Tadinya begitu selesai menonton film ini gue langsung pengen nulis di blog, tapi jari gue memberontak, otak gue membeku, seakan rusak setelah menonton film ini. Setelah menempuh perjuangan penuh darah (lebay -red), jadinya baru bisa sekarang di posting, maaf ya membuat kalian menunggu lama.

Yak, pada tanggal 7 Januari 2010 gue menonton film kontroversial Suster Keramas. Otak gue lagi keracunan pada waktu itu sehingga gue nggak bisa berfikir secara normal dan memilih menonton film ini.

Film Suster Keramas bercerita tentang 3 orang mahasiswa, 2 pria dan 1 wanita (gue lupa namanya), yang pergi ke sebuah desa untuk mengerjakan tugas kuliahnya. Di desa, mereka bertemu dengan Michiko (Rin Sakuragi), seorang turis Jepang yang ingin mencari seorang suster bernama Karmila atas wasiat bapaknya. Mereka membantu Michiko mencari Karmila, dari fakta-fakta yang ditemukan, ternyata Karmila yang dicari adalah Suster Keramas yang menghantui desa itu selama bertahun-tahun.

Ceritanya bertele-tele. Alurnya luar biasa aneh. Terlalu banyak subplot dan adegan waste (adegan nggak penting) di film ini, membuat kita bingung dan bertanya-tanya: apa sih inti cerita yang sebenarnya. Sinopsis yang gue kasih diatas pun sebenarnya sudah melalui 3 fase editing yang sulit. Banyaknya cerita nggak nyambung membuat gue susah mengupas kulit-kulit sampah dari sebuah cerita yang sebenarnya bisa dibuat bagus. Iya, ceritanya bagus, sayang pengembangan cerita dan eksekusinya sampah (setelah berfikir 2 minggu gue baru bisa menemukan titik cerah di film ini).

Genre film ini: horror – dark comedy. Horrornya jelek banget, hantunya ‘the grudge wannabe’, make-up nya berantakan, membuat gue yang penakut jadi merasa di-garing-i. Komedinya nggak kalah berantakan: slapstik, dan tentu saja penuh dialog porn dan yang menjurus kesana. Sepanjang film, setiap hampir 5 menit sekali, penonton disuguhi dengan adegan tidak senonoh. Banyaknya adegan ‘wah’ ini sangat tidak wajar, bahkan untuk sebuah dark comedy. Membicarakan hal ini membuat gue sakit kepala, so lets just skip it..

Overall, film ini sakit jiwa. Gue gak peduli dengan pornstar Jepang itu. Aktingnya berantakan. Film ini cocok banget ditonton buat yang pengen nonton film biru di layar lebar atau penonton haus belaian yang tidak memikirkan isi cerita. Anyway, gue SANGAT tidak merekomendasikan film ini ditonton oleh manusia normal, Selamat Menonton!

My Personal Rate: 3/10