The Joneses (2009)

Sutradara:Derrick Borte

Aktor/aktris: Demi Moore, David Duchovny, Amber Heard, Ben Hollingsworth

Tempat/waktu nonton: DVD bajakan/ november

“sebuah kritikan untuk orang-orang kelas atas…”

Lama tidak menonton film membuat saya kehilangan mood. Tahap pertama untuk menghidupkan kembali mood yang hilang itu adalah dengan menonton film-film ringan, berkeju, berkacang, atau apapun sebutannya. Dikala berkunjung ke toko dvd bersama teman, dia merekomendasikan film ini karena ringan dan ide ceritanya baru dan menarik.

The Joneses bercerita tentang kehidupan keluarga Jones yang begitu sempurna. Steve adalah seorang pebisnis yang sukses, memiliki istri yang cantik, rumah besar, sampai mobil keluaran terbaru. Kate, sang istri, begitu seksi dan ‘branded’ dari ujung kaki sampai ujung kepala, ia selalu menjadi perbincangan di kalangan ibu-ibu sekitar rumahnya. Mick dan Jenn, kedua anak remaja mereka, menjadi bintang di sekolahnya karena selalu tampil hip dan trendy dengan segala pakaian dan gadget keren. Semua tetangga iri dan ingin memiliki barang-barang seperti milik The Joneses, tapi ternyata ada satu hal yang mereka tidak tahu tentang keluarga yang terlalu sempurna ini.

Menonton film ini membuat saya tergenang liur. Euh, menjijikan memang, tapi apa daya, semua benda yang ada di dalam rumah ataupun yang dipakai The Joneses memang membuat super iri. Dari pakaian, tas, gadget, mobil, sampai kloset wc pun saya iri dengan mereka. Saya pun iri dengan The Joneses yang (terlihat) sempurna di pandangan orang-orang, betapa saya ingin mempunyai keluarga seperti itu.

Film ini betul-betul mengritik gaya hidup orang-orang kelas atas. Di film ini kelas itu diperlihatkan sebagai kelas yang tidak mau kalah, ditunjukkan dengan tetangga-tetangga The Joneses yang dengan sigap membeli barang-barang yang dimiliki ataupun yang lebih mahal dibanding milik The Joneses. Tentu saja ke-tidak mau kalah-an itu bermula dari iri. Dan iri bermula dari adanya kesempatan untuk pamer. Toh di jaman sekarang, pamer kekayaan merupakan suatu tren tersendiri bukan? Hahaha, kalau saja saya sekaya tetangga-tetangga The Joneses, saya juga akan ikut-ikutan tren itu. Sayang, saya tidak kaya seperti mereka, jadi cukup iri saja.

Tapi ada untungnya juga saya tidak sekaya mereka. Saya jadi bisa melihat betapa sedih nya mereka, merelakan dicekik kartu kredit hanya untuk pamer. Sementara mereka terjerumus di dalam jerat hutang, The Joneses tidak pernah kekurangan, mereka hanya terlalu sempurna, sungguh terlalu sempurna.

Iri itu tidak baik. Itulah moral yang saya dapat dari film ini. Tapi iri terkadang boleh, apalagi ketika menonton film ini, hahaha. Film ini ringan dan bermutu, saya rekomendasikan film ini ditonton untuk sekedar menghabiskan sisa air liur. Apalagi Demi Moore cantik sekali di film ini. Jadi, selamat menonton.

My personal rate: 6.5/10

Thirst (2009)

…satisfying my thirst of vampire

Sutradara: Chan-wook Park

Aktor/aktris: Kang-ho Song (Sang-hyeon), Ok-bin Kim (Tae-ju)

Tempat/waktu nonton: DVD/ september

Apa yang terlintas di otak kalian ketika mendengar kata vampire? Darah, taring, peti mati, jubah hitam, cahaya matahari, immortal, dan errrr…… glitter? Ya, boleh deh, setidaknya benar semua. Terlintaskah di otak kalian ‘thirst’ (dahaga/nafsu) berhubungan dengan vampire? 90% pasti tidak (survey acak asal-asalan). Padahal vampire selalu berdahaga akan tetesan darah segar. Dan seperti hal nya manusia, vampire memiliki nafsu, terlebih dengan lawan jenis. Lihat saja si glitter itu….

Dilihat dari posternya, sepintas film ini sama sekali tidak berhubungan dengan vampire. Hanya terlihat pasangan pria dan wanita yang tampak jatuh cinta. Di otak saya, film ini hanya film cinta romantis biasa dengan latar belakang nafsu (thirst). Ternyata saya salah besar (lagi-lagi).

Thirst bercerita tentang seorang pendeta yang menjadi relawan (kelinci percobaan) sebuah penelitian virus demi berbakti pada agamanya. Ternyata, dari 500 kelinci percobaan yang terjangkit virus, hanya dia yang berhasil pulang dengan selamat. Sayangnya, virus itu membuat dia berubah menjadi vampire yang buas dan bernafsu akan darah. Di samping itu, ia juga jatuh cinta dengan seorang wanita yang sudah bersuami. Namun, pekerjaannya melarangnya untuk memiliki nafsu, sehingga ia harus memilih diantara keduanya.

Dilatar belakangi pekerjaan pendeta, cerita vampire di film ini tentu saja sudah diluar kotak. Belum lagi ditambah konflik-konflik seperti nafsu terhadap darah, dimana ia harus mencuri darah dari rumah sakit karena tidak ingin melukai seorang pun; juga percintaannya dengan seorang wanita bersuami, yang mengharuskan ia mencuri-curi waktu bertemu dengan wanita itu. Plus nya lagi di film ini banyak adegan-adegan penuh darah yang cukup membuat bulu kuduk bergidik karena kontras dan kentalnya warna darah yang terciprat.

Melihat ke balik layar, Chan-wook Park adalah seorang sutradara Korea yang terkenal dengan film-film absurd nya. Salah satu yang pernah saya saksikan adalah Old Boy. Film tersebut cukup absurd, sadis, dan gory. Memang, ciri khasnya adalah percintaan dengan efek berdarah dan sadis. Tapi disamping itu, saya cukup terkejut dengan vampire hasil karyanya yang satu ini, film ini juga termasuk film vampire korea yang pertama saya saksikan (bahkan saya tidak tahu apakah ada film vampire korea lain). Bravo.

Secara keseluruhan, film berdurasi 2 jam ini dapat memuaskan nafsu dan dahaga kalian terhadap film vampire yang bagus. Dengan ending yang cukup sweet, film ini juga cocok ditonton buat kalian penggemar film romantis. Vampire, bernafsu, dan romantis, vampire Korea ini bisa saja menjadi tren di kalangan remaja wanita, sayangnya ia tidak berglitter. Hihihi…

My personal rate: 8.5/10

 

Micmacs (2009)

Sutradara: Jean Pierre Jeunet

Aktor/aktris: Dany Boon (Bazil), Andre Dussollier (Nicolas), Nicolas Marie (Francois)

Tempat/waktu nonton: film unduhan/ akhir juli

Film ini bercerita tentang Bazil, seorang pria yang ayahnya meninggal karena tidak sengaja menginjak bom. Ketika sedang menjaga toko, kepalanya terkena peluru nyasar. Suatu hari, secara tidak sengaja Ia menemukan gedung yang berlambang sama dengan lambang di pelurunya, juga gedung berlambang sama dengan bom yang diinjak ayahnya. Merasa dendam dengan kedua perusahaan itu, Ia pun menuntut balas dengan caranya sendiri.

Komedi Perancis. Hmm, satu hal yang saya suka dari film komedi perancis adalah unsur ke-tidak-terduga-annya. Biasanya terlihat dalam berbagai adegan bodoh out of the box yang walaupun-aneh-tapi-entah-mengapa-menggelitik, atau gesture aktor-aktris nya yang berlebihan-tapi-terkadang-lucu. Dan kedua hal tersebut bercampur dalam film ini. Adegan bodoh dan gesture berlebihan itu membuat cerita balas dendam yang sederhana menjadi luar biasa.

Jalan ceritanya benar-benar mengingatkan saya pada film Amelie (2001), dimana Amelie yang diperankan oleh Audrey Tatou, membantu hidup orang lain dengan membalaskan dendam tersembunyi mereka dengan cara jahil. Kata “dendam” yang sederhana dikaitkan dengan kata “jahil” yang tidak terduga, dan Voila, jadilah ramuan untuk membuat komedi luar biasa. Hmm, mungkin pengaruh sutradaranya yang sama, Jean Pierre Jeunet.

Film komedi tidak selamanya menggelitik. Sama halnya dengan film ini. Tidak semua adegan bodoh dan gesture berlebihan dapat menjepit saraf ketawa saya. Entah mungkin selera humor saya kurang bagus, tapi beberapa adegan di film ini entah kenapa terasa terlalu dipaksakan. Adegan bodohnya terkadang tidak masuk di akal dan gesture berlebihannya kadang terlalu.. berlebihan. Suka duka film komedi. Berhasil karena ditertawakan manusia, atau gagal karena ditertawakan jangkrik.

Maaf Jean, menurut saya, anda tidak berhasil membuat film yang lebih baik dari Amelie. Tapi walaupun begitu, film ini cocok menjadi teman sore yang ceria. Jadi, selamat menonton!

My personal Rate: 7/10

Fantastic Mr. Fox (2009)

Tidak mengetahui akan ketiadaan bukunya, ketika awal saya mendengar judul film ini, yang terbesit di otak saya adalah superhero. Ah, animal superhero mungkin, dengan kekeuh-nya saya berucap sampai pada waktu ketika saya menonton film ini.

Film ini bercerita tentang kehidupan keluarga rubah yang bermusuhan dengan 3 orang petani. Foxy, merindukan masa lalunya menjadi seorang pencuri. Dia pun mencuri di 3 orang petani jahat, Boggis, Bunce, Bean. Ketiga orang petani yang geram karena kecurian itu pun bersatu untuk menangkap Foxy. Foxy dan keluargnya pun harus kabur dari kejaran mereka.

Film yang hanya berdurasi sekitar 80 menit (ditambah credit title) ini bodoh. Dua kali menonton, dua kali juga saya tertawa disaat detik yang sama, dengan lelucon yang sama. Ya, film ini bukan film superhero seperti saya pikirkan, melainkan film komedi. Ceritanya lucu, menggambarkan kehidupan keluarga rubah secara satir. Lelucon yang pintar-tapi-bodoh pun dengan cantiknya mampu menghiasi kemasan ceritanya. Pengembangan karakter yang terdapat didalamnya pun sangat terasa, membuat jalan cerita di film ini semakin kuat dan logis.

Disamping ceritanya yang lucu, animasinya juga lucu. Film ini menggunakan teknik stop motion dengan karakter yang dibuat dari clay. Stop motion selalu berhasil membuat saya ‘berhenti bergerak’, takjub karena kesukaran tekniknya. Terlebih di film ini, setiap animasinya detail dan jelas, favorit saya adalah detail asap dan debunya.

Seorang pemain film yang hebat dapat dinilai dari kemampuan aktingnya yang memukau, walau hanya dari suara saja. Saya sangat memuji intonasi suara George Clooney dan Meryl Streep. Dari suara saja tidak diragukan lagi, kedua orang yang pernah memegang piala Oscar untuk kategori pemain terbaik. Selain mereka, pengisi suara yang lain juga merupakan aktor-aktor kenamaan seperti Bill Murray dan Willem Dafoe.

Overall, film yang diangkat dari novel karya Roald Dahl (penulis Charlie and the Chocolate Factory) ini sangat fun-to-watch. Film ini pun menjadi film yang akan terus saya rekomendasikan kepada orang-orang, termasuk anda. Sayangnya, film ini tidak kunjung keluar di bioskop di Indonesia. Namun, anda bisa mencari dvd nya di toko-toko (bajakan) terdekat. Jadi, Selamat menonton!

Sutradara: Wes Anderson

Aktor/aktris: George Clooney (Mr. Fox), Meryl Streep (Mrs. Fox), Jason Schwartzman (Ash), Bill Murray (Badger), Willem Dafoe (Rat)

Tempat/waktu nonton: DVD/ sekitar Bulan April

My personal Rate: 8.5/10

I Hope They Serve Beer in Hell (2009)

“… and I do hope they serve narcissist in hell”

Saya tidak tahu apapun tentang film ini sebelumnya, kecuali poster eye catchy­-nya yang sudah pernah saya lihat di impawards.com. Covernya cukup menggiurkan untuk membawa pulang DVDnya dari Toko DVD bajakan (ups). Ya, setidaknya dari covernya saja sudah terlihat kalau DVD bajakan ini mungkin bisa menghibur otak.

Film yang diambil dari kisah nyata ini bercerita tentang Tucker Max, seorang pria sex-addict yang ganteng dan kaya, tapi hanya memikirkan dirinya sendiri. Penasaran ingin mencoba suatu kelab malam, Tucker mengajak sahabatnya Drew dan Dan, dengan alasan bachelor party si Dan. Hiburan di kelab malam itupun berakhir bencana, kedua sahabatnya pun sadar akan ketidakpedulian Tucker akan mereka. Setelah ditinggal oleh para sahabatnya, Tucker pun mendapat pelajaran dan sadar akan kenarsisannya.

30 menit pertama film ini yang kurang lebih menggambarkan kehidupan sex, wanita, dan sex membuat saya mual dan bosan. Bukan berarti film ini semenjijikkan film porno, saya hanya bosan karena film ini cukup menyita waktu saya untuk sampai ke bagian konflik. Entah saya yang kurang suka dengan adegan striptis, atau mungkin saya yang over-excited menunggu konflik. Ada dua hal yang menghibur saya di 30 menit awal ini, lelucon yang tolol dan wajah manis Jesse Bradford.

Setelah berlanjut dari 30 menit pertama, dan setelah konfliknya keluar, saya mulai ditarik lagi oleh film ini. Tanpa sadarpun, mood saya ikut terbawa arus film ini, sedih, kesal, jengkel dan sebagainya berhenti pada tawa. Leluconnya slapstik tapi menggelitik, dramanya menjengkelkan tapi tidak membosankan. Sayangnya, konflik yang diangkat terasa kurang, terlebih dialognya terkesan ‘apa-adanya’, walaupun akhirnya dibantu oleh lelucon slapstik dan akting bodoh pemainnya.

Based on the best-selling book by Tucker Max! Wow! Betapa narsisnya si Tucker Max ini, sampai dia terlalu percaya diri untuk menulis buku dan membuat film tentang dirinya sendiri, hal ini membuat saya semakin terbahak. Tapi disamping kenarsisannya itu, saya sadar bahwa Tucker mendapatkan pelajaran yang begitu berharga dalam hidupnya sehingga dia harus memberitahu orang-orang agar ikut belajar dari kenarsisannya. Selain itu, sisi positif dari film ini adalah dapat meyakinkan saya kalau Tucker adalah seorang yang mencintai sahabatnya.

cover bukunya, mirip poster filmnya, versi b/w

Overall, film ini menarik untuk ditertawakan. Walaupun di 30 menit pertama penonton hanya diberi tontonan semacam American Pie, tapi cerita dan makna yang terkandung didalamnya tidak sedangkal itu. Sampai akhir cerita pun, ingin rasanya hati terus mencela si Tucker Max. Jadi, selamat menonton dan selamat mencela!

Sutradara: Bob Gosse

Aktor/aktris: Jesse Bradford (Drew), Matt Czuchry (Tucker Max), Geoff Stults (Dan)

Tempat/waktu nonton: DVD/ sekitar Bulan Juni

My personal Rate: 6.5/10

A Serious Man (2009)

“a serious Jewish Black Comedy, interested?”

Butuh mengumpulkan mood untuk menonton sebuah film drama. Terlebih jika kita tidak punya sama sekali pengetahuan tentang setting di film itu. Itulah yang saya rasakan ketika menonton film yang (ternyata) beraroma jewish ini. Untungnya ketika menonton film ini, saya sedang memiliki mood yang baik, sehingga otak saya dirasuki dengan baik olehnya.

A serious man menceritakan kehidupan Larry, seorang dosen fisika yang tidak mempunyai waktu untuk memikirkan dirinya sendiri. Larry akan ditinggal istrinya, Judith, yang jatuh cinta kepada orang lain, sedangkan anak perempuannya, Sarah, dipusingkan dengan Arthur, kakak Larry yang menumpang di rumah mereka. Disaat Arthur bermasalah dengan polisi, anak laki-laki Larry, Danny juga bermasalah di sekolah dan sebentar lagi akan menjalani ritual Bar Mitzvah. Larry yang dipusingkan dengan segala masalah rumah tangganya menemui beberapa pastor untuk membantunya.

Film bersetting tahun 1967 ini mengambil tokoh anti-hero dan mendapatkan bertubi-tubi masalah dalam hidupnya. Masalah-masalah yang diangkat pada film ini yang berkisar kepada keluarga dan keraguan dengan kemampuan diri sendiri ini cukup dalam dan mengharukan. Tapi menurut saya, masalah yang datang terlalu banyak dan membosankan membuat saya terlalu kasihan dengan ke-antihero-an si Larry. Padahal sudah terlihat dari akting bagusnya Michael Stuhlbarg yang cukup menggambarkan kalau Larry memang pathetic.

Ethan Coen adalah sutradara yang terkenal dalam membuat film drama dan komedi satir. Seperti film-film terdahulunya seperti Burn After Reading, The Big Lebowski atau No Country for an Old Man, bagi saya A Serious Man walaupun mampu membuat saya tertawa ketus, film ini membutuhkan cukup kerutan dahi untuk memahami dan mendapatkan inti cerita dibalik ke-jewish­­-annya. Namun, setelah berkerut dahi pun saya dapat tersenyum karena klimaks cerita yang baik. Hey, everybody loves a happy ending right?

Jewish black-comedy, saya tidak menyarankan untuk menonton film ini tanpa setting mood yang tepat, apalagi untuk anda yang bukan beragama Jew. Kecuali untuk anda yang memang penggemar film black-comedy, pecinta Ethan Coen, atau yang akan melakukan Bar Mitzvah. Overall, film yang blablabla ini sebenarnya cukup menghibur. Walaupun istilah-istilah Jewish-nya agak memusingkan, cerita dan konflik yang diangkat di film ini dapat menjadi bahan pelajaran kehidupan yang baik bagi penontonnya. Selamat Menonton dan, MAZELTOV!

Sutradara: Ethan Coen

Aktor: Michael Stuhlbarg (Larry), Richard Kind (Arthur), Fred Melamed (Sy), Sari Lennick (Judith)

Tempat/waktu nonton: DVD/ 8 juni 2010

My personal rate: 7/10

The Lovely Bones (2009)

The Lovely Bones

Peter Jackson adalah salah satu sutradara yang cukup gemilang. Beberapa filmnya selalu masuk kedalam box office dan dinominasikan ke dalam Oscar, salah satu contohnya adalah King Kong dan Trilogi LOTR. Pada tahun 2009, dia berhasil menemani Neil Blomkamp sebagai produser film District 9 yang akhirnya dinominasikan dalam beberapa penghargaan di Oscar. Begitu film ini keluar, kayaknya sayang sekali buat dilewatkan. Lagipula posternya menarik, salah satu point of interest tambahan dari film ini.

Film ini bercerita tentang Susie Salmon (Saoirse Ronan), seorang remaja berumur 14 tahun yang diperkosa dan dibunuh secara keji oleh tetangganya sendiri (Stanley Tucci). Karena masih memikirkan keluarga dan kehidupannya di dunia, dia terjebak diantara surga dan dunia. Karena ketidakikhlasannya meninggalkan kehidupannya pun, dia membantu ayahnya (Mark Wahlberg) untuk menemukan siapa yang membunuh dia.

Film ini diangkat dari novel karya Alice Sebold. Banyak banget pesan yang disampaikan dari film ini, mulai dari menyadarkan kita mulai dari realita kehidupan, masalah keluarga, sampai betapa singkatnya hidup. Ga perlu ditanya lagi film ini ceritanya bagus atau jelek. Bagus. Banget.

Awalnya gue bingung dengan alur film ini soalnya diawal pake kata ‘was’ dan sudah dikasih tau kalo dia dibunuh di awal film. Tapi justru disitu kelebihannya, penonton yang sudah “di-spoiler-i” dengan kejadian yang dialami pemeran utamanya akan lebih penasaran apa yang akan terjadi selanjutnya. Dan benar saja, cerita film ini bagus, ditambah dialog-dialog yang menyentuh, membuat film ini semakin bermakna. Ditambah scoringnya yang slow-slow semakin membuat aura filmnya berasa banget.

Speaking of pengauraan film, setting di film keren, aura 70annya berasa banget. Cuman yang gue gak suka di film ini adalah setting “playground” taman surga nya. Yak benar, playground. Film ini menggunakan grafis CGI yang berlebihan, bagaikan taman bermain anak TK, penuh warna dan penuh ke-absurd-an.

This film told us about life. Its wonderful. Its meaningful. Nothing less, this film is as beautiful as life. And i love Susie’s conclusion line: “and i began to see things in a way that let me hold the world without me in it“. Anyway, i dunno why i suddenly write in English but i recommend you to watch this film with your family. So, Happy Watching you guys!

My Personal Rate: 8/10