This Must Be the Place (2011); hanya untuk penggemar Sean Penn

Sutradara: Paolo Sorrentino

Aktor/aktris: Sean Penn (Cheyenne), Frances McDormand (Jane), Mary (Eve Hewson)

Cheyenne adalah seorang mantan vokalis band rock yang sekarang hidup di Dublin. Kematian ayahnya membuat dia harus pergi ke New York. Disana ia mengetahui bahwa ayahnya mempunyai keinginan untuk menemukan Aloise Lange, seorang Nazi yang pernah mempermalukannya di kamp (ya, ayahnya Jew). Walaupun Cheyenne sudah lama tidak berbicara dengan ayahnya, ia memutuskan untuk mencari Aloise Lange yang berada entah dimana di Amerika.

Pada 30 menit pertama film kita diperkenalkan dengan karakter Cheyenne yang sudah bosan dengan kehidupannya pasca pensiun. Ia mencoba menghabiskan waktu dengan berbelanja, mencoba bermain saham, sampai bermain squash dengan istrinya Jane. Cheyenne, yang masih memakai make-up gothic layaknya mau pentas, pun mencoba menjodohkan Mary, seorang fan girl, dengan Desmond yang sama sekali tidak mengerti musik rock.

Harus saya akui filmnya sendiri secara keseluruhan tidak begitu bagus. Terlalu dipaksakan dan sedikit mengecewakan. Dengan cerita bertokoh seorang mantan rockstar, saya akan lebih senang jika film ini menceritakan kehidupan Cheyenne pasca pensiun saja (seperti 30 menit awal film tapi diperpanjang). Bumbu perjalanan pencarian orang yang sama sekali tidak memerlukan tokoh mantan rockstar saya rasa mubazir. Apalagi jika melihat hubungan Jew-Nazi di film ini, rasanya hubungan tersebut dihilangkan pun tidak apa-apa. Toh, cerita tidak akan berubah banyak, hanya seorang anak yang membalaskan dendam almarhum ayahnya.

Untuk film yang disebut road movie, film ini justru terlalu sedikit konflik di perjalanannya. Chayenne memang bertemu banyak orang di perjalanannya, banyak percakapan yang terjadi, tapi tidak ada konflik yang maksimal, malah seakan perjalanannya lancar-lancar saja. Terlalu banyak ide dalam fikiran Paolo Sorrentino, sepertinya ingin dia masukkan semua ke dalam filmnya ini. Benar-benar dipaksakan, untung saja dia juga memasukkan unsur komedi. Jujur saja, ketika menonton film ini saya tidak peduli apakah Cheyenne akan berhasil menemukan Lange. Yang membuat saya tetap menontonnya sampai akhir tidak lain adalah Sean Penn.

Waktu saya kecil, saya pernah mengira Sean penn retard beneran gara-gara nonton I am Sam. Mungkin jika saya menonton film ini ketika masih kecil, saya juga akan mengira dia mantan rockstar. Dengan rambut gondrong urakan dan make-up gothic, Sean Penn tampil meyakinkan apalagi ditambah cara jalan dan nada bicaranya yang pelan seperti orang yang sudah capek dengan kegilaan masa mudanya. Seperti menonton reality show Ozzy Osbourne dengan tingkah laku dan punch line yang lucu. Menurut saya, film ini memang hanya bagus ditonton kalau kalian adalah penggemar Sean Penn atau kalian yang ingin melihat Sean Penn bermake-up dan berakting gothic.

Advertisements

Young Adult (2011); a dark cynical comedy about someone who trapped in a fantasy world

Sutradara: Jason Reitman

Aktor/aktris: Charlize Theron (Mavis Gary), Patrick Wilson (Buddy Slade), Patton Oswalt (Matt Freehauf)

Jason Reitman dan Diablo Cody. Mereka lah yang membuat saya tertarik untuk menonton film ini. Setelah sukses melawak di film Jennifer’s Body, Cody bersama dengan Reitman berduet membuat film komedy yang imut, Juno. Setelah Juno, Reitman sukses dengan Up in the air, film yang menurut saya sangat pintar dan entertaining (ada poin plus dari George Clooney tentunya). Oleh karenanya, saya berharap banyak dengan duet maut sutradara-penulis ini untuk kembali membuat lawakan pintar dan membuat hari saya menjadi lebih cerah.

Film Young Adult bercerita tentang Mavis Gary, seorang penulis buku bertema Young Adult, yang pulang kembali ke kotanya. Dia berencana untuk kembali mengambil hati mantan pacarnya ketika SMA yang sudah memiliki istri dan anak, Buddy Slade. Di kotanya Mavis kemudian bertemu dan meminta tolong Matt Freehauf, korban bully ketika mereka satu SMA, untuk membantunya merebut Buddy.

Cerita di film ini terang-terangan mengisahkan seorang dewasa yang terjebak di (atau tidak ingin lepas dari) fase kehidupan muda (remaja). Karakternya, Mavis, digambarkan sebagai seorang yang naif dan egois. Mavis yang dulunya populer di SMA masih ingin meraih kejayaannya, oleh karena itu ia berusaha merebut Buddy kembali. Pertemuannya dengan Matt pun membuat ia semakin lengket dengan kehidupannya dulu ketika SMA.

Tokoh utama yang antagonis jelas semakin memperlihatkan unsur dark comedy di film ini. Belum lagi film ini dibawa dengan sinis dan aura depresi. Tidak ada lawakan yang bisa membuat saya tertawa secara langsung juga ikut membuat saya depresi. Tapi melihat Mavis yang kembali ingin merasakan high-school drama cukup membuat saya tertawa miris, apalagi mengingat Mavis yang berprofesi sebagai penulis buku dengan tema remaja.

Menurut saya, film ini sangat well-scripted (sesuai ekspektasi dari seorang Diablo Cody). Karakter yang kuat membuat jalan cerita semakin meyakinkan. Ditambah beberapa monolog yang menarik dari karakter Mavis, salah satu poin yang saya suka di film ini. Jadi ketika tokoh utama biasanya jatuh lalu bangun dengan kata-kata positif, di film ini justru sebaliknya, tokoh utama bangun dengan kata-kata yang cenderung negatif. Menarik bukan? Belum lagi adanya Charlize Theron yang dapat membawa perannya dengan sangat baik.

“Love conquers all, haven’t you seen The Graduate?” – Mavis (kurang naive apa?)

Overall, menurut saya film ini terlalu depresi untuk duet sutradara-penulis yang selama ini membuat film yang walaupun agak dark tapi lawakannya masih bisa membuat hari cerah. Film ini sama sekali tidak membuat hari saya semakin cerah, malah sebaliknya. Tidak semua orang akan gampang tertarik menonton film ini, oleh karena itu rating IMDbnya agak jelek (tidak seperti Juno yang bisa menjual dengan Michael Cera atau unsur ‘indie’ nya). Tapi untuk orang yang suka dengan dark comedy atau tertarik dengan karakter yang kuat atau penasaran dengan duet Reitman-Cody (seperti saya), tontonlah film ini.

Shame (2011); the title says it all

Sutradara: Steve McQueen

Aktor/aktris: Michael Fassbender (Brandon), Carey Mulligan (Sissy), James Badge Dale (David)

Michael Fassbender & Carey Mulligan. Lagi jaman banget nggak sih mereka berdua? Sejak menunjukkan badannya yang superhot di film 300, kayaknya banyak sutradara yang kecantol (kayaknya disitu deh susuknya). Carrey Mulligan juga sama, bedanya dia tidak berawal dari memakai kancut sparta. Dan karena ingin mengikuti jaman, begitu melihat ada film yang menyatukan mereka berdua tanpa pikir panjang saya langsung ambil dvd nya (tanpa lupa bayar tentunya).

Film Shame bercerita tentang Brandon, seorang pria mid 30s yang cukup sukses dan tinggal di NY. Brandon sangat menyukai sex, bahkan bisa dibilang adiksi, tapi bukan kearah yang salah. Dari real sex sampai online sex, dia bahkan selalu menyempatkan self-pleasing kalau ada waktu. Suatu hari adiknya Sissy tiba-tiba menumpang di apartemennya karena ada masalah. Kehadiran Sissy bisa dibilang cukup mengganggu Brandon, mulai dari tidur dengan bos nya (David), sampai berusaha menghilangkan adiksi kakaknya.

Cerita di film ini mengambil tema yang sangat terpampang jelas di judulnya, shame. Filmnya sendiri menggambarkan (dengan sangat jelas) bagaimana kehidupan seorang sex addict, yang saya yakin cukup banyak tipe orang tersebut di dunia ini. Karakternya, Brandon, digambarkan sebagai orang yang candu dengan adiksinya, tapi di satu sisi dia ingin berhenti. Beberapa adegan memperlihatkan ekspresi Brandon yang sebenarnya sudah jijik dan malas dengan apa yang dilakukannya, seperti muka tanpa ekspresinya ketika dia self-pleasing atau ekspresi sedihnya ketika sedang sex.

Visual yang ditampilkan film ini hampir sama brutalnya dengan film mengenai drug addict, Requiem for a dream. Kalau kalian ingat di film itu betapa dipertunjukkannya cara sang tokoh menghirup atau menyuntikkan narkoba seolah itu adalah video how to juggle, disini kurang lebih sama. Bukan berarti ditunjukkan bagaimana cara berhubungan seksual seperti di film vivid, tapi menggambarkan keadaan yang sama: seorang drug addict, yang disini sex addict, sedang mengatasi adiksinya dengan cara menyuntik/menghirup, yang disini having sex/self-pleasing, dan mereka berjuang mengatasi adiksinya tersebut.

Michael Fassbender berperan apik sebagai seorang yang struggle. Di awal plot dia bisa terlihat keren sebagai pria sukses di NY yang gampang mempick-up wanita, namun di tengah dia menjadi semakin gelap karena terusik dengan kehadiran Sissy dan harus struggling dengan adiksinya. Dan karena menurut saya Carey Mulligan bermain biasa-biasa saja di film ini (apa karena belakangan ini karakternya selalu sebagai orang yang memiliki masalah berat saya juga tidak tahu), Fassbender terlihat semakin outstanding.

Overall, film ini cocok banget buat ditonton apalagi buat kalian yang suka film-film pemenang festival. Oiya, perlu saya ingatkan lagi di film ini banyak menunjukkan nudity dan adegan sex. Sangat wajar dan nggak mengejutkan memang buat film yang bercerita tentang sex addict, tapi cukup mengejutkan buat saya yang menontonnya di tengah hari bolong dengan jendela terbuka lebar. Mmm, cukup shameful sih buat saya kalo keliatan tetangga. Well, as I said before, the title says it all (even for the audience).

We Bought a Zoo

We Bought a Zoo (2011)

Sutradara: Cameron Crowe

Aktor/aktris: Matt Damon (Benjamin Mee), Scarlett Johansson (Kelly), Colin Ford (Dylan), Maggie Elizabeth (Rosie)

Dimana scar-jo tidak tampil seksi, malah sebaliknya.

Berapa dari kalian yang mengidolakan scar-jo? Apalagi sejak kemunculannya sebagai black widow di film iron man/avengers atau skandal foto telanjangnya, pasti banyak dari kalian (terutama pria) yang mengidolakan (atau bahkan memfantasikan) scar-jo. Saya pribadi mengidolakan scar-jo karena menurut saya dia adalah wanita yang pintar menggunakan daya tariknya (coba bayangkan bila dia tidak memiliki sex appeal yang tinggi, pasti dia tidak akan selaku sekarang). Oke, saya mulai berfikiran sempit, mari kita lanjut.

Saya ingat disebuah wawancara (yang sayangnya saya lupa sumbernya darimana) dia pernah menyebutkan kalau dia bosan selalu menampilkan sex-appelnya, dia ingin sebuah peran dimana ia menjadi seseorang yang tidak memiliki daya tarik. Awalnya saya pikir “wow? Bagaimana caranya membuat dia tidak memiliki daya tarik?” dan ternyata jawabannya cukup terpapar di film ini.

We bought a zoo bercerita tentang Benjamin Mee yang baru saja ditinggal istrinya dan harus sendirian mengurus dua anaknya yang masih kecil. Karena ingin melepaskan diri dari bayang-bayang almarhum istrinya, dia membeli sebuah rumah yang juga kebun binatang. Anak perempuannya, Rosie, sangat senang bisa tinggal bersama hewan-hewan, sedangkan anak laki-lakinya, Dylan, semakin benci dengan ayahnya. Disana Benjamin bertemu dengan beberapa staf kebun binatang, dan bersama-sama, mereka kembali merenovasi kebun binatang tersebut.

Lucu, padahal awalnya saya sama sekali tidak tertarik dengan judul film ini (We bought a zoo. So what? Do I look like someone who cares?). Tapi begitu menonton rasa peduli saya perlahan muncul. Film ini lumayan enjoyable dan laughable. Maklum, film keluarga (Halo, siapa sih yang tidak suka film ringan?) dan based on a true story (Siapa sih yang tidak suka true story? Ini yang buat acara Oprah laku). Ya, total sudah dua kelebihan film ini, film keluarga dan true story. Jadi kira-kira nasibnya mungkin bakal 11-12 seperti filmnya Sandra bullock yang menang oscar itu.

nggak sexy sih, tapi tetep aja cantik……..

Dan seperti yang saya bilang tadi, disini Scar-jo tidak seksi tapi tampil sebagai seorang staf kebun binatang yang macho. Anehnya ketika menonton film ini ingatan saya seperti dihapus, saya sampai lupa kalau itu scar-jo, scar-jo yang seksi, yang punya sex-appeal tinggi. Hebat, salut buat scar-jo, aktingnya bisa membuat short memory loss. Kemudian disini ada Elle Fanning yang cukup membuat saya kaget karena berperan sebagai seorang gadis desa yang ceria (dimana di film sebelumnya ia selalu tampak pendiam). Matt Damon? Hmm, semakin lama semakin mirip Mark Wahlberg.

Overall film ini cocok banget buat kalian yang butuh film ringan dan menghibur, apalagi  buat fans nya Scarlett Johansson (buat fans prianya, maaf sekali disini kalian tidak dapat melihat keseksiannya). Mata saya sempat tergenang ketika adegan pertengkaran ayah-anak, mengingatkan saya kalau saya sangat sayang dengan ayah saya (maaf sedikit curhat). Tapi itu fungsi film keluarga bukan? Bukan untuk memamerkan gambaran sebuah keluarga ideal, tapi untuk mengingatkan kita bahwa sebenarnya keluarga kita ideal just the way it is (sekarang malah sok bijak). Jadi, selamat menonton.

Ketika Film Tak Lagi Bisu

Akhir tahun 20an, industri perfilman dikagetkan dengan penemuan seseorang yang dapat memasukkan suara ke dalam film. Kala itu, semua orang tidak percaya dengan apa yang ditontonnya. Mereka merasa ditipu, mengira aktornya ada di belakang panggung. Tentu saja setelah diberitahu yang sebenarnya, hal ini menjadi sebuah perubahan besar. Semua penonton ingin merasakan sensasi yang sama, semua bioskop membuat sistem audio di tiap teaternya, dan semua studio film berlomba-lomba membuat film bersuara.

Sama halnya dengan Monumental Pictures dan Kinograph Studio, dua studio ini tidak ingin kalah dengan studio lainnya. Monumental Pictures langsung merubah film bisu yang sedang mereka produksi, The Dancing Cavalier, untuk dijadikan bersuara. Sedangkan Kinograph Studio secara drastis mengganti semua aktor film bisu mereka karena sudah tidak menjual jika mereka memainkan film bersuara. Tentu saja ini berakhir menjadi sebuah bencana. The Dancing Cavalier menjadi bahan tertawa para kritik karena selain audionya berantakan juga suara aktrisnya, Lina Lamont, ternyata sangat jelek. Dan George Valentin, salah satu bekas aktor film bisu sukses Kinograph Studio, menderita karena kehilangan pekerjaan.

Buruknya kritik yang diterima 6 minggu sebelum pemutaran filmnya, membuat Don Lockwood, pasangan Lina Lamont di film The Dancing Cavalier, memutar otaknya. Ia tak mau karirnya habis disitu saja. Sama dengan George Valentin, ia tetap membuat film bisu ditengah maraknya film bersuara. Sayangnya nasib mereka berbeda. Don Lockwood dan sahabatnya Cosmo, juga Kathy Shelden sebagai pengisi suara Lina Lamont, membuat The Dancing Cavalier menjadi film musikal yang sukses. Sedangkan film bisu George Valentin anjlok di pasaran, membuat penderitaannya semakin komplit.

Monumental Pictures dan Kinograph studio adalah studio film fiksional dari film Singing in the Rain (1952) dan The Artist (2011). The Artist adalah film bisu yang mendapatkan begitu banyak apresiasi dan penghargaan bergengsi, seperti Best Picture pada Oscar dan Golden Globe kemarin. Sedangkan Singing in the Rain sudah pasti bukanlah suatu kalimat baru yang ada di telinga anda. Kenapa? Continue reading

My Week with Marilyn (2011); Sisi Lain si Cantik

Sutradara: Simon Curtis

Aktor/aktris: Michelle Williams (Marilyn Monroe), Eddie Redmayne (Colin Clark), Kenneth Branagh (Lawrence Oliver)

Semua orang tahu siapa Marilyn Monroe. Yang tidak tahu pun pasti pernah melihat gambar atau foto legendaris seorang wanita pirang dengan rok yang setengah tertiup angin. Jika Audrey Hepburn adalah sosok wanita cantik, maka Marilyn Monroe adalah sosok wanita seksi sepanjang masa.

My Week with Marilyn diadaptasi dari sebuah memoir milik Colin Clark yang bercerita tentang pertemuannya dengan si centil ini. Colin Clark muda mencoba bekerja menjadi seorang asisten sutradara terkenal, Lawrence Oliver. Ketika Marilyn datang ke London untuk sebuah produksi film, Oliver dibuat kesal dengan tingkah lakunya, namun Colin justru jatuh cinta kepadanya.  Walaupun cintanya bersambut, Colin harus menyadari bahwa Marilyn sudah bersuami juga posisinya sebagai pekerja film.

Sejak dulu saya menginginkan Scarlett Johansson untuk berperan sebagai Marilyn secara dia gabungan dari cantik dan seksi kuadrat. Nama Scar-Jo pun sudah menjual sebagai aktris yang bisa berperan centil dan menggoda. Saya sempat meragukan Michelle Williams karena di film sebelumnya yang saya  tonton, Blue Valentine, dia bermain begitu baik sebagai wanita yang depresi dan tidak bahagia, bahkan di film Shutter Island dia berperan sebagai wanita yang menyeramkan. Sebelum menonton film ini saya sempat khawatir dia tidak akan secentil Scar… eh, Marilyn pada bayangan saya. Tapi, seperti biasanya, ekspektasi saya salah.

Seperti yang diharapkan dari aktris penerima nominasi Best Actress pada Oscar dengan filmnya Blue Valentine, Michelle Williams pun bisa berperan seperti yang penonton inginkan. Centil dan seksi. Film ini juga menampilkan beberapa pemeran pendukung yang hebat seperti Julia Ormond sebagai seorang aktris senior yang sangat-sangat-sangat baik hati, seakan hal itu adalah sifat aslinya beliau. Juga lulusan Hogwarts, Emma Watson, yang sayangnya cuma tampil di beberapa scene saja.

Untuk ceritanya sendiri, menurut saya ada banyak bagian yang bolong. Seperti alasan kenapa Marilyn kesusahan dengan aktingnya di awal proses pembuatan film, atau kenapa Marilyn membalas cinta Colin kepadanya, juga penyelesaian konflik yang menurut saya cenderung cepat seakan terburu-buru. Ujung-ujungnya, film ini lebih banyak menggambarkan kisah cinta Colin dan Marilyn. Padahal tadinya yang saya harapkan dari film ini adalah untuk mengenal sosok Marilyn Monroe, tapi apa boleh buat namanya juga film rom-com.

Secara keseluruhan film ini bisa dijadikan salah satu film pengisi weekend anda. Patut ditonton? Tidak juga. Tapi jika anda adalah penikmat genre rom-com atau tertarik pada sisi kehidupan Marilyn atau mungkin ingin melihat Hermione di peran lain, mungkin film ini bisa menjadi tontonan yang sesuai.

Sang Penari (2011); menari-nari di dalam emosi

Sutradara: Ifa Isfansyah

Aktor/aktris: Prisia Nasution (Srintil), Oka Antara (Rasus), Slamet Rahardjo (Dukun Ronggeng), Lukman Sardi (Bakar), Tio Pakusadewo (Sersan)

Tempat/waktu nonton: Bioskop/ November

**Bukan, ini bukan film tarian sampah seperti arwah goyang karawang atau pocong mandi goyang pinggul. Jangan takut, baca dulu lalu tontonlah.**

Film Sang Penari bekisah tentang kisah cinta Srintil dan Rasus, dua anak muda dari Desa Dukuh Paruk, dengan latar belakang budaya daerah dan rezim komunisme. Srintil, yang sejak kecil ingin menari ronggeng, akhirnya mengetahui kewajiban dan tanggung jawabnya setelah berhasil menjadi penari ronggeng. Rasus, teman Srintil sedari kecil, tidak menyukai Srintil menjadi penari ronggeng dan memilih pergi dari desa untuk menjadi seorang tentara.

Disisi lain, ada seorang pemuda termodernisasi bernama Bakar yang mempunyai tujuan untuk ‘memerahkan’* Dukuh Paruk. Seluruh warga desa yang buta aksara pun tanpa sadar sudah ‘dimerahkan’. Ketika TNI melakukan pembasmian terhadap oknum-oknum PKI, Dukuh Paruk pun terkena imbasnya. Mengetahui hal itu, Rasus pun langsung mencari keberadaan Srintil.

Ada tiga hal yang saya cermati di film ini. Pertama tentu jelas ceritanya, yang terinspirasi dari novel karya Ahmad Tohari yang berjudul Ronggeng Dukuh Paruk. Balutan drama percintaan dengan latar waktu bersejarah memang tidak pernah tidak menarik. Tidak percaya? Lihat saja Casablanca, Atonement, Titanic, atau produksi dalam negeri, Ruma Maida dan Tanda Tanya. Selain itu, cerita ini juga memasukkan unsur budaya, mulai dari tarian ronggeng, bakar sesajen, sampai adat buka kelambu. Paduan dua unsur tersebut dapat menyutikkan steroid pada sebuah kisah cinta sederhana, membuat seluruh jalinan cerita berjalan rumit dan mengharukan. Luar biasa! Salut untuk Salman Aristo, Ifa Isfansyah dan Shanty Harmayn, trio maut penulis skenario.

Hal kedua adalah sinematografi, dan artistik. Berkali-kali saya berdecak kagum mengganggu penonton di sebelah saya hanya karena sudut pengambilan gambar yang dramatis ditambah lokasi menarik yang entah ada dimana. Kalau ditanya adegan mana yang paling dramatis saya tidak bisa menjawab, yang pasti salah duanya adalah adegan terakhir dan ketika Rasus kecil melihat hiruk pikuk warga desa (memperlihatkan banyaknya kaki yang berlarian dan muka Rasus yang sedih pada satu frame). Kalau dari segi lokasi tentu favorit saya adalah bunker dan rel kereta.

Akting adalah hal ketiga, tetapi tidak berarti urutan ketiga. Banyaknya pemain film berkualitas di film ini membat saya tidak perlu menceritakan semuanya, hanya dua pemain utama saja. Menurut saya, Oka Antara sudah berhasil memerankan pria lugu bermata sayu dengan logat jawa yang kental. Wajar saja karena dia sudah lama berlalu-lalang di perfilman Indonesia. Yang membuat saya jungkir balik adalah Prisia Nasution. Awalnya saya ragu karena dia adalah pemain ftv, yang bisa dibilang hanya membutuhkan kemampuan akting yang standar, tapi ternyata dia bisa membuktikan kalau kemampuan aktingnya memang jauh dari kata itu. Jika ditanya apa perannya di film ini maka saya akan menjawab nakhoda kapal. Berperan sebagai penari ronggeng yang tersiksa karena kewajibannya serta seseorang yang menginginkan cinta dan merindukan kekasihnya, ekspresi dan aktingnya berhasil membuat saya ikut tersiksa. Ditambah kehebatannya untuk berakting ketika harus telanjang dada dan beradegan ranjang, sudah seharusnya dia mendapatkan piala FFI.

Poin tambahan untuk musiknya. Walaupun saya tidak terlalu mengerti, tapi padanan musik tradisional dengan biola menambah kesan haru untuk film ini. Poin tambahan lagi untuk Happy Salma. Sebagai pemeran tamu dia sangat berhasil mencuri atensi penonton selama 10 menit awal.

Kekurangan? Hilangnya sebuah cerita sebelum ending. Cerita yang mengaitkan adegan pada rel kereta dengan pertemuan kembali Rasus dan Srintil. Hal ini membuat pertemuan kembali mereka berdua terlihat sebagai suatu ketidaksengajaan. Namun terlepas dari hilangnya sebuah cerita, ending film ini tetaplah merobek-robek perasaan saya.

Beribu-ribu terimakasih untuk Ifa Isfansyah yang telah menyatukan cerita, sinematografi, artistik, akting, dan musik dalam sebuah film yang telah mempermainkan emosi saya. Membuat saya mengeluarkan kata-kata kasar untuk sebuah pujian. Membuat saya betah menahan kencing selama hampir 2 jam. Serta membuat saya malu karena harus menangis di dalam bioskop (terakhir kali saya menangis di bioskop ketika Mufasa meninggal). Dia berhasil membuat saya berfikir ternyata masih banyak harapan untuk film Indonesia.

*merah: julukan untuk partai komunis (pada jaman itu)