Ruma Maida (2010)

Sutradara: Teddy Soeriaatmadja

Aktor/aktris: Atiqah Hasiholan (Maida), Yama Carlos (Sakera), Nino Fernandez (Isaac Pahing), Frans Tumbuan (Dasaad Muchlisin), Imam Wibowo (Bung Karno)

Tempat/waktu nonton: DVD/ awal September

Film ini bercerita tentang Maida, seorang mahasiswi idealis yang mengelola sebuah sekolah gratis bagi anak jalanan di sebuah rumah tua. Karena rumah itu hendak dijadikan pertokoan oleh seorang pengusaha, Maida dan sekolah liarnya terancam terusir. Dalam perjuangannya merebut kembali rumah tua itu, Maida justru menemukan misteri dan fakta-fakta sejarah seputar rumah tersebut. Rumah itu pernah menjadi saksi kisah cinta tragis dalam latar pergerakan kemerdekaan Bangsa Indonesia.

Pertama saya menyaksikan film ini, saya terkejut dengan sinematografinya yang indah. Kemudian setelah mengikuti alur ceritanya saya terkejut dengan sejarah-sejarah yang dipaparkan di film ini. Saya bahkan berfikir tadinya film ini adalah non fiksi, atau istilahnya dokumenter. Tapi setelah tahu bahwa film ini adalah fiksi belaka, saya makin terkejut, ternyata orang Indonesia bisa membuat film seperti ini. Film yang mengingatkan saya dengan film The Da Vinci Code, Angels and Demons, Pearl Harbor, dan sebagainya.

Film ini memiliki banyak sub-tema seperti sejarah, percintaan, kehidupan sosial, idealisme, sampai keluarga. Namun semua itu mempunyai takaran masing-masing, dan lebihnya lagi, takarannya tepat dan sesuai, sehingga adonannya pun berhasil menjadi suatu jalan cerita yang matang dan menarik. Sejarahnya, walaupun fiksi, membuat saya setidaknya bangga dengan film ini, akhirnya Indonesia memiliki film yang menyangkut sejarah bangsa. Percintaannya, dibentuk dengan manis, berakhir dengan tragis. Kehidupan sosial, selalu ditunjukkan di hampir seluruh adegan, tersirat maupun tidak. Idealisme, ditunjukkan oleh karakter Maida yang menganut paham kiri, dan Sakera yang fleksibel. Dan keluarga, walaupun tidak banyak disinggung, tapi penjelasan tentang perbedaan adat pun jelas dapat ditangkap oleh penonton.

Hal diatas membuat saya salut sama Ayu Utami (penulis naskah), walaupun ia sudah terkenal sebagai penulis novel kawakan, tapi ketika menulis untuk film, yang notabene berbeda 180 derajat dengan menulis novel, hasilnya pun sama bagusnya, sama indahnya, dan sama menariknya.

Bung Karno, Isaac Pahing, dan orkes keroncongnya

Film yang bersetting di dua jaman yang berbeda, masa lalu (tahun-tahun kemerdekaan) dan masa kini (era reformasi, 1998), walau dengan satu latar tempat yang sama, namun memiliki kualitas artistik dan sinematografi yang begitu teliti dan mengagumkan. Seperti misalnya, museum yang disulap menjadi gedung-gedung baru di jaman dulu, seragam dinas pasukan Jepang.. Oh, saya belum bercerita tentang adegan favorit saya, yaitu adegan pembuka film ini, dimana digambarkan pesawat yang sedang melayang diudara.. Kenapa saya suka? Tentu saja karena saya merasa Indonesia belum pernah mempunyai film dengan adegan se-keren itu.

Hal diatas juga yang membuat saya salut dengan Ical Tanjung, pengarah sinematografi, dan Indra Musu, penata artistik, di film ini. Di otak cerdik merekalah saya bisa merasa dibawa masuk ke dalam era kemerdekaan, seperti hidup di tahun 1930-an. Dan tentu saja saya angkat keempat jempol saya kepada Teddy Soeriaatmaja selaku sutradara dan produser, dan berterimakasih kepadanya telah membuat film Indonesia yang seutuhnya Indonesia dan seharusnya Indonesia.

Secara keseluruhan saya jatuh cinta dan bangga dengan film ini. Menurut saya film ini pantas mendapatkan Piala Citra tahun ini untuk hampir semua kategori. Ini yang seharusnya disebut kebangkitan film Indonesia, bukan film-film remaja hantu murahan itu. Saya sangat sangat sangat sangat merekomendasikan film ini untuk ditonton oleh anda. Jadi, tanpa fikir panjang, segera mampir ke toko DVD terdekat lalu tontonlah! Oiya, jangan beli DVD bajakan ya, setidaknya ini adalah karya anak bangsa sendiri, jadi banggalah.

My Personal Rate: 8.5/10

Advertisements