Scott Pilgrim vs The World (2010)

“an epic of epic epicness…”

Sutradara: Edgar Wright

Aktor/aktris: Michael Cera

Tempat/waktu nonton: film unduhan/ november

Saya sudah penasaran dengan film ini sejak membaca artikel-artikel mengenai Comic con 2010, sebuah helatan anual film komik di San Diego bulan Juli lalu. Film ini menjadi film yang paling diperbincangkan disana karena sneak preview nya sangat menarik, dan tentu saja karena aktor utamanya adalah seorang remaja yang lagi booming saat ini, Michael Cera.

Rasa penasaran saya makin bertambah setelah saya mendownload dan mendengarkan lagu-lagu pada album original soundtrack-nya. Sebut saja Beck, Broken Social Scene, dan Metric; mereka adalah band-band yang suaranya tidak asing lagi di syaraf pendengaran saya, suara-suara yang bisa membuat terlinga saya ‘eargasme‘. Sayangnya, saya mendapat rumor bahwa Scott Pilgrim tidak akan tayang di Indonesia karena distributornya entah kenapa tidak mau menayangkannya disini. Tuhan berkata lain, Dia menakdirkan saya mendapat film ini versi bajakannya.

Film yang diangkat dari komik berjudul Scott Pilgrim karangan Bryan O’Malley ini mengangkat tema musik dan anak muda pada ceritanya. Scott, seorang bassis band indie bernama Sex Bob Omb, yang jatuh cinta kepada seorang wanita bernama Ramona. Untuk mendapatkan cinta Ramona, Scott harus melalui banyak rintangan, salah satunya adalah melawan mantan-mantan pacar Ramona, The Seven Deadly Exes.

Sinopsis yang saya beri diatas mungkin terlalu singkat dan malah menggambarkan kepada kalian sebuah drama tiga babak yang klise. Tapi tidak dengan alur cerita, konflik, dan visualisasi ceritanya. Alur cerita dan konflik yang diangkat sangat “muda” dan unik, seperti misalnya organisasi mantan pacar Ramona, The Seven Deadly Exes; Sex Bob Omb yang sedang berjuang mendapatkan label rekaman; sampai anak muda yang ingin terlihat keren dengan menjadi pria brengsek berpacar banyak. Cerita seperti itu sebenarnya juga terjadi di kehidupan anak muda sehari-hari, tapi Edgar Wright mampu mengemasnya dengan visualisasi yang aneh, seperti misalnya efek-efek komik dan video game-nya.

Saya suka dengan musiknya. Saya cukup suka dengan alur ceritanya, walaupun adalah saduran dari cerita komik. Saya tertarik dengan special effect nya yang mampu menjaga mata saya terbuka. Satu hal yang paling saya tidak suka adalah komedinya. Entah selera saya rendahan atau bagaimana, tapi tidak ada satu scene pun yang membuat saya tertawa lepas. Mungkin jadi seperti komedi satir anak muda dengan visual yang memanjakan mata, tapi bukankah film anak muda seharusnya penuh tawa dan tidak satir? Atau mungkin hanya saya saja yang selalu beranggapan bahwa film komedi satir itu biasanya drama dan dewasa? Atau saya yang terlalu tua? Err tidak juga ah. Mungkin saya hanya ber-mood buruk ketika menonton.

Film musik anak muda. Jika yang terbesit di kepala kalian adalah HSM, Jonas Brother, atau Hannah Montana, cobalah tonton film ini. Terlebih apabila kalian adalah anak muda hipsters vegetarian, berkacamata besar, ber-jeans ketat dan menyukai musik indie, film ini merupakan panggilan jiwa untuk kalian!

My personal rate: 7.5/10

Advertisements