Eclipse (2010)

“parodi gombal jenaka dari kelabilan wanita mesum… satu-satunya yang membuat saya bertahan adalah soundtracknya”

Strategi marketing yang bagus, melempar soundtracknya ke lautan sebelum filmnya beredar. Bagai udang lugu tanpa otak sayapun dengan mudahnya terperangkap rayuan maut racunnya. Dan karena racun sudah merasuki sampai ke relung jiwa, maka dengan mudahnya pula saya ikut arus terperangkap masuk ke dalam pusaran romansa filmnya. Begitulah kira-kira kisah mengapa saya menonton film ini, ringkasnya sih, dari telinga turun ke hati.

Metric, Muse, The Bravery, Vampire Weekend, Band of Horses, itulah sepersekian dari banyak nama band yang mengisi soundtracknya. Mereka sanggup menyihir telinga saya dari rayuan gombal Edward Cullen, membutakan mata saya dari otot Jacob Black, menutup hidung saya dari aroma darah Bella Swan. Kenikmatan surgawi terasa sampai ke ubun-ubun begitu mendengar suara mereka menancap di gendang telinga. Sakau, berlebihan mungkin, tapi seperti itulah kira-kira saya ketika mendengar lagu-lagu mereka.

Cerita film yang adalah kelanjutan dari New Moon ini masih berputar di kehidupan remaja labil, Bella Swan, yang bingung memilih pria yang terbaik untuk dirinya, Edward Cullen, vampire ber-glitter yang tak kunjung tua, atau Jacob Black, manusia serigala yang tak punya baju. Edward yang bertransform menjadi pria dewasa yang bijaksana dan Jacob yang tak henti-hentinya berjuang jatuh bangun mendapatkan cinta membuat Bella semakin kesusahan dalam memilih. Belum lagi ada Victoria, si vampire rambut merah yang mengincar darah Bella, yang membuat pasukan baru untuk mengalahkan The Cullens. Bella yang merasa terancam oleh Victoria pun harus menyatukan keluarga vampire dan serigala untuk membantunya.

Pusing dan frustasi melanda ditengah film, ketika saya menyadari kalau selama ini perjuangan The Cullens dan Quilluetes mati-matian menghadang musuh hanya demi Bella semata. Belum lagi di film ini diceritakan kalau Bella sudah beranjak ‘dewasa’ dan entah kenapa lebih mesum dari film yang sebelumnya, bahasa dangdutnya, nabirong (nafsu birahi merongrong). SPOILER ALERT! Ada satu adegan dimana Bella memohon kepada Edward untuk having sex, tapi Edward menolaknya dengan alasan mereka belum menikah. Wanita mesum terhujat 2010, itulah award sepihak saya untuk Bella Swan. Tapi lucunya, akhirnya birahi Bella Swan muncul juga ke permukaan setelah selama film-film sebelumnya ekspresi mukanya seperti berusaha menahannya. Hihihi.

Kasihan Bella, selalu saya cela, salah sendiri mukanya mesum. Mari berlanjut ke penyegaran suasana. Robert Pattinson terlihat lebih tua di film ini, lucu, padahal semestinya Edward Cullen tidak bertambah tua satu sel darah pun. Bella Swan (Kristen Stewart), Jasper (Jackson Rathbone), dan Rosalie (Nikki Reed) entah kenapa terlihat lebih menarik dengan gaya rambut baru. Victoria yang baru, Bryce Dallas, lebih cantik tapi sayangnya kurang bermuka antagonis karena matanya terlalu indah. Leah, si serigala wanita, membingungkan saya kenapa dia tidak telanjang dada seperti teman-teman serigalanya. Dan akhirnya Dakota Fanning mendapatkan lebih dari satu scene di film ini.

Menurut saya, film ini benar-benar menghibur. Eclipse lebih banyak unsur komedinya dibanding 2 film sebelumnya. Dari muka mesum, dialog, teknik menggombal, sampai ketidaklogisan cerita seperti bagaimana caranya serigala wanita berpakaian begitu cepat setelah berubah membuat saya ketawa-ketiwi cekikikan geli sana-sini. Tapi, kalau dari segi cerita saya masih lebih suka New Moon yang masih lebih “berbobot”, Eclipse benar-benar hanya berisi parodi gombal jenaka dari kelabilan wanita mesum.

Salut buat sang sutradara, David Slade, yang mampu membuat film komedi romantis tergombal 2010. Tidak sia-sia saya mengantri berkeringat kepanasan disela-sela ribuan penggemar Twilight, senggol bacok, layaknya mengantri sembako. Worth-to-queue, telinga saya sudah terpuaskan mendengar soundtrack yang magnificent. Selamat mengantre dan semoga anda ikut senang mendengar soundtracknya, filmnya? Siapkan tisu agar anda tidak meneteskan air mata ketika tertawa terbahak. Selamat menonton.

Sutradara: David Slade

Aktor: Kristen Stewart, Robert Pattinson, Taylor Lautner

Tempat/waktu nonton: Bioskop/ 5 Juli 2010

My personal rate: 5.5/10

Advertisements

The Bounty Hunter (2010)

The Bounty Hunter (2010)

Film ini bercerita tentang Milo Boyd (Gerard Butler), seorang mantan polisi yang memiliki banyak hutang dan bekerja sebagai pemburu buronan. Suatu hari Milo ditugaskan untuk menangkap seorang buronan, yang ternyata adalah mantan istrinya, Nicole Hurley (Jennifer Aniston). Nicole adalah seorang jurnalis yang sedang ditugaskan mencari berita mengenai kasus pembunuhan, yang juga membuatnya dicari oleh si pembunuh. Dengan mudahnya Milo berhasil menangkap Nicole. Tapi ternyata ia juga harus berurusan dengan pembunuh yang mengejar Nicole, penagih hutang, dan kisah cinta-lama-bersemi-kembali mereka berdua.

Jujur deh, begitu kalian baca sinopsisnya, apa yang ada dipikiran kalian? Jawabannya di-skip dulu deh sampai kalian membaca opini gue tentang film ini.

Film bergenre romantic-action-crime-comedy ini terlalu memusingkan jalan ceritanya. Bukan maksudnya absurd atau terlalu berat, tapi terlalu banyak yang ingin disampaikan sehingga gue berani bilang film ini missing the point. Yup, banyaknya karakter dan subplot yang ada membuat film ini kehilangan intinya. Bayangkan saja, suatu film mengambil 4 genre sekaligus. Sutradaranya bisa muntah darah itu.

Alurnya terasa begitu cepat sampai-sampai perkenalan karakternya terasa sangat sebentar dan kurang kuat. Oh, ditambah lagi film ini terlalu banyak menggunakan dialog untuk menggambarkan sesuatu, baik itu mengenalkan karakter ataupun menjelaskan cerita. Ketinggalan satu scene/dialog aja mungkin bisa membuat kita bertanya-tanya, padahal ketika scene/dialog penting itu keluar,

Opini gue mengenai alur dan pengembangannya ceritanya cukup sampai disini. Sekarang ganti topik ke pemilihan scoring. Scoring (musik) di film ini banyak yang tidak bersesuaian dengan scene yang tervisualisasikan. Lagu yang dipakai biasanya bertempo upbeat yang dimasukkan ke dalam sebuah scene yang lambat. Mungkin terkesan sepele, tapi scoring adalah salah satu unsur penting untuk merasuki mood dan feel penonton ke dalam film.

Overall, film ini mengecewakan. Andy Tennant sebagai sutradaranya kurang bisa membuat semua “genre” yang dia maui ke dalam film ini. Sayang banget, padahal film terdulunya, Hitch, menurut gue bagus banget sebagai film komedi romantic. Oiya, salah dua keunggulan dari film ini adalah Gerard Butler dan Jennifer Aniston. Jadi saran gue adalah, tontonlah film ini kalo anda benar-benar pecinta berat kedua pemain itu, atau tidak ada lagi film yang bisa ditonton ketika malam minggu.

My personal rate: 5/10

Bahwa Cinta Itu Ada / Gading Gading Ganesha (2010)

BAHWA CINTA ITU ADA

(Gadung Gadung Ganesha)
Selasa 2 Maret 2010 gue berkesempatan untuk dateng ke Gala Premiere film almamater ini di XXI PIM II. Kebetulan LFM (Liga Film Mahasiswa ITB -unit gue) dapet 6 undangan, dan salah satu yang hoki mendapatkan undangan itu adalah gue (dengan janji akan membuat review).

Kalau boleh jujur, poster film ini membuat gue eneg ga berselera. Yang membuat gue ingin menonton film ini adalah rasa cinta gue terhadap almamater (penjilat) dan undangan Gala Premiere di Jakarta (sekalian bisa beli Burger King). Awalnya gue yakin film ini bakal sebagus Jomblo atau film-film bertema mahasiswa lainnya. Tapi hal itu musnah seketika ketika diingatkan oleh seorang teman, kalau film ini digarap kurang dari 1 tahun (pra-produksi-dan pasca). Ekspektasi gue langsung rendah.

Film ini bercerita tentang kehidupan slamet (ariyo wahab), poltak (restu sinaga), ria, beni (rizki hanggono), fuad (alex abbad), gungun (denis adiswara), yang besahabat sejak kuliah. Mereka datang dari daerah yang berbeda-beda, dan memiliki karakter dan interest yang berbeda-beda. Karena satu hal, mereka bertemu lagi pada saat mereka sudah tua.

Pada scene awal diperlihatkan ada seorang dalang yang sedang bermain wayang kulit, dalang ini berfungsi menjelaskan isi cerita (narator). Cukup menarik dan sangat sujiwo tejo. Mulai masuk ke film, dari gambar aja gue udah langsung kecewa karena teknis pengambilan gambarnya standar dan sinetron style*, udah gitu warnanya sama sekali tidak di-edit, bahkan anak tk pun bisa mengedit warna pada film lebih baik dari itu. Dari kualitas visualisasi aja udah tidak menggairahkan, gue makin khawatir dengan kualitas cerita dan sebagainya.

(*pengambilan gambar sinetron style: potongan frame dari pundak sampai kepala tanpa memikirkan keindahan dan komposisi)

Masuk ke cerita nih, sorry to say but its a crap, total disaster. bahkan sampai detik ini pun gue tidak mengerti di belahan mananya “bahwa cinta itu ada” ada di dalam film. Ceritanya bertele-tele, seakan diperpanjang dan dibuat-buat. Kalau disejajarkan dengan sinetron, mungkin ini udah masuk episode ke tiga juta. bahkan cerita Ftv di salah satu tv swasta dijamin lebih bagus dari film ini. Hanya membuang waktu saja. Dear mas Sujiwo tejo, kenapa kau tidak membaca novelnya dulu sebelum membuat filmnya?

Parah capeknya nonton film ini, kebanyakan mikirin hubungan ini-itu-anu. Scriptnya berantakan, sama sekali tidak detail. Alurnya bolong-bolong, tidak kontinu. Tidak ada pengembangan karakter yang terlihat di film ini. Tidak terdeskripsikan sama sekali kehidupan mereka yang katanya ‘bersahabat’ itu. Chemistry-nya tidak bisa ditemukan karena selain ceritanya bolong-bolong, akting para pemainnya agak mengecewakan. Rizki hanggono dan denis adiswara yang udah itb banget pun (seperti di film Jomblo) nggak sanggup tampil totalitas disini. Seakan bermain di sinetron.

Belum lagi setting di film ini, tahun 80-annya terlihat seperti tahun 2009 dan sebaliknya tahun 2009 terlihat seperti 80-an, apasih maunya? Wardrobe dan propertinya juga kacau. Ada satu scene dimana rizki hanggono menggunakan kaos The Used (oh, The Used udah ada tahun 80-an ya?). Awful. Ayo kita buat perlombaan untuk menghitung berapa kesalahan tolol dan fatal di film ini.

Overall, film ini busuk. kenapa disebut Gading Gading Ganesha kalau ceritnaya sendiri adalah percintaan monyet kadal dan nggak ada sangkut pautnya dengan kehidupan ITB? Sebagai civitas akademika ITB dan seorang penikmat film gue kecewa! Masih mending nonton virgin 2 yang jelas-jelas bisa diketawain. Sujiwo tejo, kenapa kau malah membuat cerita sendiri yang ngalor-ngidul kesana kemari instead of making film based on its novel?

Film ini sangat tidak direkomendasikan. Satu-satunya yang membuat gue bertahan nonton film ini adalah rizki hanggono. Ganteng. Udah itu doang. Jangan habiskan waktu anda untuk menonton film sia-sia ini, lebih baik 4 Maret nanti kita nonton Tim Burton’s ALICE IN WONDERLAND 3D!!! Anyway, Selamat Menonton (alice in wonderland)!

Oiya, gue belum baca novelnya, tapi gue yakin novelnya lebih bagus 300% dibanding film nya. saran gue, mending baca novelnya aja dibanding nonton filmnya. Satu lagi, saya dapet dari milis Ikatan Alumni ITB, sujiwo tejo meminta maaf sama DR Dermawan (penulis novelnya) karena ceritanya jelas berbeda dengan novel karena dia takut tidak bisa membuat film sebagus novelnya. Mungkin ini juga yang menjadi alasan dia mengganti judulnya menjadi “bahwa cinta itu ada” dan bahwa sujiwo tejo itu gila. zzz.

My Personal Rate: 3/10

Preview “THE LAST AIRBENDER”

PREVIEW “THE LAST AIRBENDER”
Judul film (working title) ini pada awalnya adalah Avatar: The Last Airbender. Namun karena ambiguitas tinggi terhadap film Avatar karya James Cameron maka Paramount dan Nickelodeon sebagai rumah produksinya mengganti judulnya dengan nama “The Last Airbender” saja. Nama The Last Airbender sendiri sebenarnya juga digunakan untuk film versi animasi nya, Avatar, The Legend of Aang: The Last Airbender.

Yak benar, film ini mengadaptasi film animasi Avatar The Legend Of Aang yang disiarkan di Nickelodeon. Shyamalan terinspirasi membuat film ini karena anaknya ingin menjadi Katara (salah satu tokoh pada Avatar) pada Halloween. Film The Last Airbender ini bakal bercerita seputar Aang di season 1. Jadi sepertinya para penonton dan penggemar Aang sudah mengetahui inti dan seluk beluk ceritanya, hanya saja dengan visualisasi yang berbeda.

Sebenernya gue takut banget film ini bakal sejelek Dragon Ball Z (2009) karena adaptasi dari film animasi yang sudah memiliki jutaan penggemar. Apalagi sutradaranya M. Night Shyamalan yang terkenal membuat film dengan plot supernatural dengan twist ending yang aneh. Lihat saja film-film garapan dia sebelumnya seperti The Happening, Signs, Lady in the water, The Sixth Sense dan sebagainya. Semuanya bertema sama (supernatural) dan semua endingnya ngetwist tapi agak menyebalkan.

Oh, belum lagi semua aktor pada film ini Amerika kulit putih padahal filmnya sendiri bercerita tentang orang Asia. Pemilihan aktor ini pun membuat kesal para penggemarnya karena sifat rasisme itu. “What if someone made a “fantasy” movie in which the entire world was built around African culture. Everyone is wearing ancient African clothes, African hats, eating traditional African food, writing in an African language, living in African homes, all encompassed in an African landscape…but everyone is white” kata Derek Kim.

Film ini akan dirilis sekitar bulan Juli 2010 dan sekarang sedang melalui tahap pasca produksi. Trailler teaser nya sudah keluar (http://bit.ly/qFD7) yang menurut gue cukup bagus. Poster teaser nya pun keren banget, bikin harapan naik. Yah, namanya juga teaser pasti bikin ngiler.

Saran gue, taruhlah ekspektasi kalian di level paling rendah ketika menonton film ini. Anyway, ini pertama kalinya gue menulis preview, jadi Selamat Menunggu filmnya!

New Moon (2009)

New Moon.

Sekuel dari Twilight ini gue tonton karena gue udah nonton Twilight. Ekspektasi gue ke film ini kurang karena gue kurang suka dengan Twilight. Gue normal, jujur gue seneng denger gombalan Edward yang selalu bisa bikin melting (sampe gue rela nonton dua kali demi denger dialognya), tapi tetep aja, gue ga percaya dengan adanya Mr-Perfect-in-everything. Belom lagi efek visual “Angling Dharma” yang dipakai di film Twilight, makin buat gue berfikir dua kali untuk menonton film New Moon di bioskop.

Okay now talk about Newmoon. Film ini menceritakan tentang Bella (Kristen Stewart) yang ditinggal pergi Edward (Robert Pattinson) karena suatu hal. Bella yang merasa sangat kesepian kemudian bertemu Jacob (Taylor Lautner) kembali dan klik, mereka jatuh cinta cinta. Namun lagi-lagi Bella harus menghadapi kenyataan bahwa ternyata pria yang dicintainya, yaitu Jacob, bukan manusia (capek juga kali ya jadi si Bella, ga nemu jodoh manusia). Jacob adalah serigala, dan serigala memburu vampire.

Awalnya gue agak miris ngeliat film ini alurnya begitu lambat dan banyak adegan yang membuang waktu. Tapi gue berhasil survive karena berfikir positif : mungkin si sutradara gak menemukan cara lain buat memvisualisasikan cerita novel ke dalam film, sehingga dia memasukkan segala unsur dalam novel. Tapi dari segi cerita, New Moon ini lebih bagus dari Twilight, kenapa? karena lebih penuh intrik dan twist. Gue bukan pembaca novel Twilight Saga, karena gue tau novelnya 100% lebih corny dari filmnya, tapi gue bisa-bisa-aja mengikuti film ini dengan baik, walaupun sedikit kaget dengan beberapa scene tidak masuk akal.

Mungkin agak spoiler, tapi ada beberapa adegan yang gue rasa sangat corny. Adegan pria-pria telanjang dada di hutan? Man that is soo gay! Gue bingung kenapa di film ini banyak banget dada-dada sixpack berkeliaran, kalo mau berubah jadi serigala kan ga harus telanjang dada setiap saat, bisa kan dicopot dulu bajunya seperti spidey? Atau mungkin film ini hanya menonjolkan sex appeal nya si Jacob ke Bella dan para penonton wanita (termasuk gay). Tapi jujur ini malah membuat gue geli, bukan melting. Okay next, acting. Entah kenapa di film ini acting Kristen Stewart lebih aneh dari Twilight. Disini ekspesi wajahnya keliatan lebih (maaf) horny. Mungkin karena Jacob telanjang dada terus kali ya secara badannya bagus.

Overall, film Box Office yang mengalahkan The Dark Knight pada opening week-nya cukup menghibur. Sepanjang film gue bisa menertawakan pria bugil dan dialog gombalnya. Twist dari film ini berada di ending, karena kalian ga bakal memikirkan ini sebelumnya (bagi non pembaca novel). Satu hal lagi, Dakota Fanning nya cuma muncul 1 scene dengan dialog terbatas dan kemampuan acting yang terlihat biasa, sedih deh, padahal itu salah satu alasan gue nonton film ini. bahkan ada beberapa temen gue yang ga tau kalo itu Dakota Fanning. Oiya, poster filmnya biasa banget, cuman foto edwad-jacob-bella yang saling membelakangi, jadi kayak sinetron. Kalau soal poster film yang 4 pria telanjang dada, gue ga mau komentar deh. Film ini sendiri berdurasi 2 jam, jadi siapkan pop-corn dan snack yang banyak cos its really corn-y, haha. Akhir kata, selamat menonton.

My personal rate: 5.5/10